Cari disini...
Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur
Plt. Kepala Disbun Kaltim, Andi Siddik. (Foto: HO-DisbunKaltim/Seputarfakta.com)
Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim serius menggarap potensi tanaman aren.
Komoditas ini diproyeksikan menjadi salah satu andalan masa depan Kaltim untuk mendiversifikasi ekonomi yang saat ini masih didominasi kelapa sawit.
Plt. Kepala Disbun Kaltim, Andi Siddik, menjelaskan bahwa saat ini luas perkebunan aren di Kaltim baru mencapai 1.132 hektare dengan produksi 504,3 ton per tahun.
Angka ini masih sangat kecil dibandingkan dominasi kelapa sawit yang menguasai 90,51 persen dari total 1,62 juta hektare lahan perkebunan. Namun, Andi meyakini aren memiliki potensi besar.
"Aren adalah tanaman bernilai ekonomi tinggi. Bisa jadi sumber bahan pangan seperti gula, kolang-kaling, pati, dan juga energi bioetanol yang lebih ekonomis," ungkap Andi di Samarinda.
Sebagai modal awal, Kaltim sudah memiliki Kebun Sumber Benih aren unggul di Kutai Timur dan Kutai Kartanegara. Hal ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat pengembangan.
Menurut Andi perlunya inventarisasi peluang investasi, verifikasi data lahan, kajian ekonomi, serta kolaborasi dengan investor untuk memastikan hasil panen petani bisa terserap pasar.
"Harapan kami, aren tidak hanya menjadi komoditas alternatif, tetapi juga mampu mengangkat kesejahteraan petani dan mendukung diversifikasi ekonomi daerah," harapnya.
Dari sisi investor, Didi Amista dari PT Agro Kencana Sakti memaparkan rencana ambisius perusahaannya. Mereka memiliki lahan sekitar 20 ribu hektare di Kutai Barat, dengan 15 ribu hektare lahan efektif yang siap dikelola.
"Kami sudah membangun demplot pengembangan aren seluas 195 hektare di Sangkulirang, dan juga menyiapkan pusat pelatihan pembibitan dan pengolahan hasil di Handil Terusan, Kutai Kartanegara," papar Didi.
Didi juga mengalokasikan 2.000 hingga 3.000 hektare lahannya untuk koperasi atau korporasi petani, serta 5.000 hektare lahan gambut untuk konservasi. Ia juga mengusulkan pembentukan Masyarakat Aren Indonesia (MAI) dengan pusat kepengurusan di Kaltim. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...
Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur

Plt. Kepala Disbun Kaltim, Andi Siddik. (Foto: HO-DisbunKaltim/Seputarfakta.com)
Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim serius menggarap potensi tanaman aren.
Komoditas ini diproyeksikan menjadi salah satu andalan masa depan Kaltim untuk mendiversifikasi ekonomi yang saat ini masih didominasi kelapa sawit.
Plt. Kepala Disbun Kaltim, Andi Siddik, menjelaskan bahwa saat ini luas perkebunan aren di Kaltim baru mencapai 1.132 hektare dengan produksi 504,3 ton per tahun.
Angka ini masih sangat kecil dibandingkan dominasi kelapa sawit yang menguasai 90,51 persen dari total 1,62 juta hektare lahan perkebunan. Namun, Andi meyakini aren memiliki potensi besar.
"Aren adalah tanaman bernilai ekonomi tinggi. Bisa jadi sumber bahan pangan seperti gula, kolang-kaling, pati, dan juga energi bioetanol yang lebih ekonomis," ungkap Andi di Samarinda.
Sebagai modal awal, Kaltim sudah memiliki Kebun Sumber Benih aren unggul di Kutai Timur dan Kutai Kartanegara. Hal ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat pengembangan.
Menurut Andi perlunya inventarisasi peluang investasi, verifikasi data lahan, kajian ekonomi, serta kolaborasi dengan investor untuk memastikan hasil panen petani bisa terserap pasar.
"Harapan kami, aren tidak hanya menjadi komoditas alternatif, tetapi juga mampu mengangkat kesejahteraan petani dan mendukung diversifikasi ekonomi daerah," harapnya.
Dari sisi investor, Didi Amista dari PT Agro Kencana Sakti memaparkan rencana ambisius perusahaannya. Mereka memiliki lahan sekitar 20 ribu hektare di Kutai Barat, dengan 15 ribu hektare lahan efektif yang siap dikelola.
"Kami sudah membangun demplot pengembangan aren seluas 195 hektare di Sangkulirang, dan juga menyiapkan pusat pelatihan pembibitan dan pengolahan hasil di Handil Terusan, Kutai Kartanegara," papar Didi.
Didi juga mengalokasikan 2.000 hingga 3.000 hektare lahannya untuk koperasi atau korporasi petani, serta 5.000 hektare lahan gambut untuk konservasi. Ia juga mengusulkan pembentukan Masyarakat Aren Indonesia (MAI) dengan pusat kepengurusan di Kaltim. (Adv)
(Sf/Rs)