Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur

    Lindungi Anak Kaltim dari Jerat Konten Negatif, Diskominfo Gencarkan Literasi Digital

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    09 Agustus 2025 pukul 21:21 WITA

    Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal. (Foto: HO-DokumentasiPribadi/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengambil langkah untuk memerangi maraknya konten negatif di dunia maya. 

    Mengantisipasi dampak buruk dari pornografi dan judi online, Diskominfo Kaltim memperkuat literasi digital sejak usia dini.

    Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal mengungkapkan kekhawatiran mendalamnya terkait paparan tontonan negatif yang mengintai anak-anak. 

    Menurut Faisal, anak-anak saat ini adalah generasi digital native yang sangat akrab dengan teknologi. Tanpa bimbingan yang tepat, kemudahan akses internet justru dapat menjadi ancaman serius.

    "Internet itu bukan musuh. Tapi kalau tidak ada pendampingan, bisa jadi ancaman. Kita harus ciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak-anak," tegas Faisal.

    Faisal memaparkan data mengejutkan yang menunjukkan betapa rentannya anak-anak terhadap bahaya di internet. 

    Hingga 2025, sekitar 229 juta penduduk Indonesia atau 80,66 persen populasi telah terhubung ke internet, sebagian besar melalui smartphone. 

    Mirisnya beberapa anak dan remaja bahkan menghabiskan waktu lebih dari 10 jam per hari di dunia maya.

    "Sekitar 10 persen pengguna internet di Indonesia pernah mengakses situs pornografi dan lebih dari 5 persen membuka situs judi online. Ini sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan," ungkap Faisal.

    Menyikapi kondisi ini, Faisal menekankan peran orang tua sangat vital. Ia mendorong para orang tua untuk menjadi pendamping digital bagi anak-anak mereka. 

    Orang tua harus aktif menggunakan fitur pengawasan seperti parental control, membatasi waktu penggunaan gawai dan yang paling penting membangun komunikasi yang terbuka tentang risiko dunia maya.

    "Orang tua harus jadi teman digital bagi anak. Jangan biarkan anak menghadapi dunia maya sendirian," pesannya.

    Tak hanya keluarga, lembaga pendidikan juga memiliki tanggung jawab besar. Faisal menyarankan agar kurikulum sekolah memasukkan materi literasi digital secara sistematis. 

    Guru harus dibekali kemampuan untuk mengedukasi siswa tentang risiko digital dan cara melaporkan konten berbahaya.

    Faisal menutup pernyataannya dengan mengingatkan upaya pemerintah saja tidak cukup. Dibutuhkan kerja sama dari seluruh pihak untuk melindungi anak-anak dari konten negatif. 

    "Melindungi anak dari konten digital berbahaya adalah tanggung jawab bersama. Ini investasi kita bagi masa depan Kalimantan Timur dan Indonesia," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur

    Lindungi Anak Kaltim dari Jerat Konten Negatif, Diskominfo Gencarkan Literasi Digital

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    09 Agustus 2025 pukul 21:21 WITA

    Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal. (Foto: HO-DokumentasiPribadi/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengambil langkah untuk memerangi maraknya konten negatif di dunia maya. 

    Mengantisipasi dampak buruk dari pornografi dan judi online, Diskominfo Kaltim memperkuat literasi digital sejak usia dini.

    Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal mengungkapkan kekhawatiran mendalamnya terkait paparan tontonan negatif yang mengintai anak-anak. 

    Menurut Faisal, anak-anak saat ini adalah generasi digital native yang sangat akrab dengan teknologi. Tanpa bimbingan yang tepat, kemudahan akses internet justru dapat menjadi ancaman serius.

    "Internet itu bukan musuh. Tapi kalau tidak ada pendampingan, bisa jadi ancaman. Kita harus ciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak-anak," tegas Faisal.

    Faisal memaparkan data mengejutkan yang menunjukkan betapa rentannya anak-anak terhadap bahaya di internet. 

    Hingga 2025, sekitar 229 juta penduduk Indonesia atau 80,66 persen populasi telah terhubung ke internet, sebagian besar melalui smartphone. 

    Mirisnya beberapa anak dan remaja bahkan menghabiskan waktu lebih dari 10 jam per hari di dunia maya.

    "Sekitar 10 persen pengguna internet di Indonesia pernah mengakses situs pornografi dan lebih dari 5 persen membuka situs judi online. Ini sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan," ungkap Faisal.

    Menyikapi kondisi ini, Faisal menekankan peran orang tua sangat vital. Ia mendorong para orang tua untuk menjadi pendamping digital bagi anak-anak mereka. 

    Orang tua harus aktif menggunakan fitur pengawasan seperti parental control, membatasi waktu penggunaan gawai dan yang paling penting membangun komunikasi yang terbuka tentang risiko dunia maya.

    "Orang tua harus jadi teman digital bagi anak. Jangan biarkan anak menghadapi dunia maya sendirian," pesannya.

    Tak hanya keluarga, lembaga pendidikan juga memiliki tanggung jawab besar. Faisal menyarankan agar kurikulum sekolah memasukkan materi literasi digital secara sistematis. 

    Guru harus dibekali kemampuan untuk mengedukasi siswa tentang risiko digital dan cara melaporkan konten berbahaya.

    Faisal menutup pernyataannya dengan mengingatkan upaya pemerintah saja tidak cukup. Dibutuhkan kerja sama dari seluruh pihak untuk melindungi anak-anak dari konten negatif. 

    "Melindungi anak dari konten digital berbahaya adalah tanggung jawab bersama. Ini investasi kita bagi masa depan Kalimantan Timur dan Indonesia," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)