Kaltim Fokus Basmi Malaria pada Pekerja Migran di Sektor Kehutanan

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur

    03 Oktober 2024 07:28 WIB

    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Jaya Mualimin saat mendatangi rapat kordinasi mengenai pengendalian malaria. (Foto: Dok. Dinkes Kaltim)

    Samarinda - Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) gencar memberantas penyakit malaria, khususnya di kalangan pekerja migran yang bekerja di sektor kehutanan, perkebunan, dan pertambangan. Upaya ini sejalan dengan target penurunan Angka Indeks Parasit Malaria (API) di bawah 1 per 1.000 penduduk dalam Rencana Pembangunan Daerah (RPD) Provinsi Kaltim 2024-2026.

    "Pekerja migran yang sering keluar masuk hutan sangat rentan terpapar malaria," ungkap Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Pengendalian Malaria pada Pekerja Migran di Samarinda, Rabu (2/10/2024).

    Untuk menekan angka kasus, Dinkes Kaltim akan memberikan pemeriksaan malaria cepat dan obat-obatan pencegahan (kemoprofilaksis) kepada pekerja migran sebelum dan sesudah mereka beraktivitas di hutan. Selain itu, koordinasi dengan perusahaan akan diperkuat untuk memastikan pekerja mendapatkan penanganan medis yang tepat jika mengalami gejala malaria.

    "Kami meminta perusahaan untuk bekerja sama dengan puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat agar pekerja yang sakit atau baru pulang dari hutan bisa langsung mendapatkan penanganan," tegas Jaya.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menjadi wilayah dengan kasus malaria tertinggi di Kaltim, diikuti Kutai Timur dan Berau. Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya kasus malaria di antaranya aktivitas di hutan pada malam hari, perambahan hutan, dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan.

    "Aktivitas di hutan pada malam hari, seperti mencari sinyal, sangat berisiko karena nyamuk Anopheles yang menjadi vektor malaria lebih aktif pada malam hari," jelas Jaya.

    Dinkes Kaltim telah melakukan berbagai upaya untuk mengeliminasi malaria, seperti pelatihan bagi tenaga kesehatan, monitoring dan evaluasi kegiatan tatalaksana malaria, serta penguatan jejaring layanan malaria di rumah sakit. Namun, Jaya menekankan pentingnya peran semua pihak dalam upaya ini.

    "Sosialisasi, pelaporan kasus, dan pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai target eliminasi malaria di Kaltim," tutupnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Kaltim Fokus Basmi Malaria pada Pekerja Migran di Sektor Kehutanan

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur

    03 Oktober 2024 07:28 WIB

    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Jaya Mualimin saat mendatangi rapat kordinasi mengenai pengendalian malaria. (Foto: Dok. Dinkes Kaltim)

    Samarinda - Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) gencar memberantas penyakit malaria, khususnya di kalangan pekerja migran yang bekerja di sektor kehutanan, perkebunan, dan pertambangan. Upaya ini sejalan dengan target penurunan Angka Indeks Parasit Malaria (API) di bawah 1 per 1.000 penduduk dalam Rencana Pembangunan Daerah (RPD) Provinsi Kaltim 2024-2026.

    "Pekerja migran yang sering keluar masuk hutan sangat rentan terpapar malaria," ungkap Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Pengendalian Malaria pada Pekerja Migran di Samarinda, Rabu (2/10/2024).

    Untuk menekan angka kasus, Dinkes Kaltim akan memberikan pemeriksaan malaria cepat dan obat-obatan pencegahan (kemoprofilaksis) kepada pekerja migran sebelum dan sesudah mereka beraktivitas di hutan. Selain itu, koordinasi dengan perusahaan akan diperkuat untuk memastikan pekerja mendapatkan penanganan medis yang tepat jika mengalami gejala malaria.

    "Kami meminta perusahaan untuk bekerja sama dengan puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat agar pekerja yang sakit atau baru pulang dari hutan bisa langsung mendapatkan penanganan," tegas Jaya.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menjadi wilayah dengan kasus malaria tertinggi di Kaltim, diikuti Kutai Timur dan Berau. Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya kasus malaria di antaranya aktivitas di hutan pada malam hari, perambahan hutan, dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan.

    "Aktivitas di hutan pada malam hari, seperti mencari sinyal, sangat berisiko karena nyamuk Anopheles yang menjadi vektor malaria lebih aktif pada malam hari," jelas Jaya.

    Dinkes Kaltim telah melakukan berbagai upaya untuk mengeliminasi malaria, seperti pelatihan bagi tenaga kesehatan, monitoring dan evaluasi kegiatan tatalaksana malaria, serta penguatan jejaring layanan malaria di rumah sakit. Namun, Jaya menekankan pentingnya peran semua pihak dalam upaya ini.

    "Sosialisasi, pelaporan kasus, dan pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai target eliminasi malaria di Kaltim," tutupnya. (Adv)

    (Sf/Rs)