Cari disini...
Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Fit Nawati. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Permasalahan stunting di Kalimantan Timur (Kaltim) terus menjadi perhatian serius. Banyak faktor yang memengaruhi angka penurunan stunting, salah satunya adalah perhatian masyarakat datang ke posyandu untuk menimbang balita.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Fit Nawati, menyebut data terkini sepanjang tahun 2024 kunjungan masyarakat yang melakukan pemantauan balita itu hanya 46 persen.
“Deteksi dini, itu langkah perkuat penurunan stunting yang seharusnya secara tepat dan cepat di posyandu. Kalau kita lihat di sini tenaga kesehatan sudah ada, fasilitas sudah ada, namun untuk yang menggerakan ini belum,“ ungkap Ipit panggilan akrabnya saat jumpa pers di Samarinda, Jumat (18/10/2024)
Menurut Ipit, Balita harus rutin melakukan ke Posyandu sepanjang tahun sebanyak delapan kali. “Ini yang sedang kami mengupayakan bapak ibu sekalian menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan cakupan kunjungan bayi ke Posyandu,” paparnya.
Dinkes Kaltim telah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka stunting, namun masih diperlukan kerja sama lintas sektor untuk mencapai hasil yang optimal.
Imenjelaskan bahwa stunting bukan hanya persoalan kekurangan gizi. "Stunting dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari pola asuh, stimulasi, hingga sanitasi lingkungan," ujarnya.
Menurutnya, gizi seimbang yang kaya protein hewani, sayur, dan buah sangat penting untuk mencegah stunting. Selain itu, stimulasi motorik dan sensorik juga harus diberikan sejak dini untuk mendukung perkembangan otak anak.
"Jangan lupakan faktor kebersihan dan sanitasi lingkungan. Kondisi ini sangat berpengaruh pada kesehatan ibu hamil dan anak," tambah Fit Nawati.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan. "Semua sektor harus terlibat, termasuk dalam penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak," tegasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...
Diskominfo Provinsi Kalimantan Timur

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Fit Nawati. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Permasalahan stunting di Kalimantan Timur (Kaltim) terus menjadi perhatian serius. Banyak faktor yang memengaruhi angka penurunan stunting, salah satunya adalah perhatian masyarakat datang ke posyandu untuk menimbang balita.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Fit Nawati, menyebut data terkini sepanjang tahun 2024 kunjungan masyarakat yang melakukan pemantauan balita itu hanya 46 persen.
“Deteksi dini, itu langkah perkuat penurunan stunting yang seharusnya secara tepat dan cepat di posyandu. Kalau kita lihat di sini tenaga kesehatan sudah ada, fasilitas sudah ada, namun untuk yang menggerakan ini belum,“ ungkap Ipit panggilan akrabnya saat jumpa pers di Samarinda, Jumat (18/10/2024)
Menurut Ipit, Balita harus rutin melakukan ke Posyandu sepanjang tahun sebanyak delapan kali. “Ini yang sedang kami mengupayakan bapak ibu sekalian menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan cakupan kunjungan bayi ke Posyandu,” paparnya.
Dinkes Kaltim telah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka stunting, namun masih diperlukan kerja sama lintas sektor untuk mencapai hasil yang optimal.
Imenjelaskan bahwa stunting bukan hanya persoalan kekurangan gizi. "Stunting dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari pola asuh, stimulasi, hingga sanitasi lingkungan," ujarnya.
Menurutnya, gizi seimbang yang kaya protein hewani, sayur, dan buah sangat penting untuk mencegah stunting. Selain itu, stimulasi motorik dan sensorik juga harus diberikan sejak dini untuk mendukung perkembangan otak anak.
"Jangan lupakan faktor kebersihan dan sanitasi lingkungan. Kondisi ini sangat berpengaruh pada kesehatan ibu hamil dan anak," tambah Fit Nawati.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan. "Semua sektor harus terlibat, termasuk dalam penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak," tegasnya. (Adv)
(Sf/Rs)