Diskominfo Kota Balikpapan

    Permintaan Meningkat Jelang Lebaran, Harga Cabai di Balikpapan Tembus Rp100 Ribu per Kg

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    13 Maret 2026 pukul 13:45 WITA

    Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan, Haemusri Umar saat ditemui awak media. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Meningkatnya kebutuhan bahan makanan menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas pangan di Kota Balikpapan. 

    Salah satu komoditas yang mengalami lonjakan paling signifikan adalah cabai, yang kini dijual hingga sekitar Rp100 ribu per Kg di pasaran.

    Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan, Haemusri Umar menyampaikan kenaikan harga terutama terjadi pada kelompok bumbu dapur seperti cabai dan tomat.

    “Komoditas tersebut menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk menyiapkan berbagai hidangan khas Lebaran,” ucap Haemusri kepada awak media, Jumat (13/3/2026).

    Menurutnya bumbu dapur merupakan komponen penting dalam hampir semua jenis masakan, sehingga permintaannya selalu meningkat menjelang hari besar keagamaan.

    “Kalau dilihat dari tren komoditas pangan, yang sedang mengalami kenaikan itu bumbu-bumbuan seperti cabai dan tomat. Hampir semua masakan membutuhkan itu karena berkaitan dengan cita rasa,” imbuhnya.

    Haemusri menjelaskan, harga cabai yang mencapai Rp100 ribu per kg saat ini jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berada di kisaran Rp60 ribu per kg. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya kondisi cuaca yang memengaruhi produksi di daerah penghasil cabai.

    Selain faktor cuaca, pasokan cabai ke Balikpapan juga sangat bergantung pada distribusi dari luar daerah. Produksi lokal dinilai belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, sehingga ketersediaan cabai sangat dipengaruhi oleh kondisi produksi dan distribusi dari wilayah lain.

    “Di sisi lain, tingginya permintaan cabai di berbagai daerah turut memengaruhi distribusi pasokan ke Balikpapan. Akibatnya, jumlah cabai yang masuk ke kota ini menjadi lebih terbatas dibandingkan biasanya,” lanjutnya.

    Meski harga mengalami kenaikan cukup tinggi, dia memastikan ketersediaan bahan pangan di Balikpapan masih dalam kondisi aman. Ia menegaskan bahwa persoalan yang terjadi saat ini bukan pada kelangkaan barang, melainkan pada peningkatan harga di tingkat pasar.

    “Barangnya sebenarnya tetap tersedia. Persoalannya hanya pada harga yang naik,” jelasnya.

    Dipaparkan, karakter konsumsi masyarakat Balikpapan juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika pasar. Menurutnya, masyarakat tetap membeli kebutuhan pokok meskipun harga sedang tinggi, selama barang yang dibutuhkan masih tersedia di pasaran. (Adv Diskominfo Balikpapan)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kota Balikpapan

    Permintaan Meningkat Jelang Lebaran, Harga Cabai di Balikpapan Tembus Rp100 Ribu per Kg

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    13 Maret 2026 pukul 13:45 WITA

    Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan, Haemusri Umar saat ditemui awak media. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Meningkatnya kebutuhan bahan makanan menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas pangan di Kota Balikpapan. 

    Salah satu komoditas yang mengalami lonjakan paling signifikan adalah cabai, yang kini dijual hingga sekitar Rp100 ribu per Kg di pasaran.

    Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan, Haemusri Umar menyampaikan kenaikan harga terutama terjadi pada kelompok bumbu dapur seperti cabai dan tomat.

    “Komoditas tersebut menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk menyiapkan berbagai hidangan khas Lebaran,” ucap Haemusri kepada awak media, Jumat (13/3/2026).

    Menurutnya bumbu dapur merupakan komponen penting dalam hampir semua jenis masakan, sehingga permintaannya selalu meningkat menjelang hari besar keagamaan.

    “Kalau dilihat dari tren komoditas pangan, yang sedang mengalami kenaikan itu bumbu-bumbuan seperti cabai dan tomat. Hampir semua masakan membutuhkan itu karena berkaitan dengan cita rasa,” imbuhnya.

    Haemusri menjelaskan, harga cabai yang mencapai Rp100 ribu per kg saat ini jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berada di kisaran Rp60 ribu per kg. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya kondisi cuaca yang memengaruhi produksi di daerah penghasil cabai.

    Selain faktor cuaca, pasokan cabai ke Balikpapan juga sangat bergantung pada distribusi dari luar daerah. Produksi lokal dinilai belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, sehingga ketersediaan cabai sangat dipengaruhi oleh kondisi produksi dan distribusi dari wilayah lain.

    “Di sisi lain, tingginya permintaan cabai di berbagai daerah turut memengaruhi distribusi pasokan ke Balikpapan. Akibatnya, jumlah cabai yang masuk ke kota ini menjadi lebih terbatas dibandingkan biasanya,” lanjutnya.

    Meski harga mengalami kenaikan cukup tinggi, dia memastikan ketersediaan bahan pangan di Balikpapan masih dalam kondisi aman. Ia menegaskan bahwa persoalan yang terjadi saat ini bukan pada kelangkaan barang, melainkan pada peningkatan harga di tingkat pasar.

    “Barangnya sebenarnya tetap tersedia. Persoalannya hanya pada harga yang naik,” jelasnya.

    Dipaparkan, karakter konsumsi masyarakat Balikpapan juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika pasar. Menurutnya, masyarakat tetap membeli kebutuhan pokok meskipun harga sedang tinggi, selama barang yang dibutuhkan masih tersedia di pasaran. (Adv Diskominfo Balikpapan)

    (Sf/Lo)