Kasus Campak Naik saat Lebaran, DKK Balikpapan Tekankan Imunisasi dan Etika Kontak dengan Bayi

    Seputarfakta.com - Maya Sari -

    Diskominfo Kota Balikpapan

    24 Maret 2026 03:38 WIB

    Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Lonjakan mobilitas masyarakat selama libur lebaran membawa konsekuensi pada meningkatnya kasus campak di Kota Balikpapan.

    Dinas Kesehatan Kota (DKK) setempat mencatat tren kenaikan kasus, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

    Meski demikian, kondisi ini belum membuat Balikpapan ditetapkan sebagai wilayah endemis oleh Kementerian Kesehatan. Artinya langkah darurat seperti Outbreak Response Immunization (ORI) belum diperlukan.

    “Maka itu pemerintah kota memilih pendekatan preventif melalui percepatan imunisasi kejar,” ucap Kepala DKK Balikpapan, Alwiati saat dikonfirmasi, Selasa (24/3/2026).

    Alwiati menegaskan kunci pengendalian campak terletak pada cakupan vaksinasi. Menurutnya anak yang sudah diimunisasi umumnya hanya mengalami gejala ringan, berbeda dengan mereka yang belum terlindungi.

    “Fokus kami sekarang memastikan anak-anak yang belum imunisasi segera terjangkau. Ini penting untuk menekan risiko penularan,” tegasnya.

    Program imunisasi kejar dilakukan secara aktif, menyasar kelompok rentan yang terlewat vaksinasi rutin. Dalam salah satu kegiatan terbaru, sekitar 200 warga, baik anak-anak maupun orang dewasa ikut berpartisipasi. Selain layanan vaksinasi, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk edukasi kesehatan.

    Di tengah suasana lebaran yang identik dengan silaturahmi, DKK turut mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam berinteraksi, khususnya dengan bayi. Kebiasaan menggendong atau mencium bayi tanpa menjaga kebersihan dinilai berpotensi menjadi jalur penularan.

    “Sering kali tanpa disadari, orang dewasa membawa virus. Karena itu, biasakan cuci tangan sebelum menyentuh bayi,” mengingatkan.

    Imbauan ini diperkuat melalui surat edaran resmi yang dikeluarkan DKK guna meningkatkan kewaspadaan selama periode lebaran.

    Untuk penanganan kasus, DKK memastikan seluruh pasien campak mendapatkan pengobatan gratis. Pasien juga dianjurkan menjalani isolasi mandiri selama kurang lebih dua minggu untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

    “Di sisi lain, masyarakat diminta tetap disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Langkah sederhana seperti mencuci tangan, membatasi kontak fisik dengan bayi dan melengkapi imunisasi dinilai efektif dalam memutus rantai penularan,” terangnya.

    Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat, DKK optimistis peningkatan kasus campak ini dapat dikendalikan tanpa harus memasuki fase darurat kesehatan. (Adv Diskominfo Balikpapan)

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Kasus Campak Naik saat Lebaran, DKK Balikpapan Tekankan Imunisasi dan Etika Kontak dengan Bayi

    Seputarfakta.com - Maya Sari -

    Diskominfo Kota Balikpapan

    24 Maret 2026 03:38 WIB

    Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Lonjakan mobilitas masyarakat selama libur lebaran membawa konsekuensi pada meningkatnya kasus campak di Kota Balikpapan.

    Dinas Kesehatan Kota (DKK) setempat mencatat tren kenaikan kasus, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

    Meski demikian, kondisi ini belum membuat Balikpapan ditetapkan sebagai wilayah endemis oleh Kementerian Kesehatan. Artinya langkah darurat seperti Outbreak Response Immunization (ORI) belum diperlukan.

    “Maka itu pemerintah kota memilih pendekatan preventif melalui percepatan imunisasi kejar,” ucap Kepala DKK Balikpapan, Alwiati saat dikonfirmasi, Selasa (24/3/2026).

    Alwiati menegaskan kunci pengendalian campak terletak pada cakupan vaksinasi. Menurutnya anak yang sudah diimunisasi umumnya hanya mengalami gejala ringan, berbeda dengan mereka yang belum terlindungi.

    “Fokus kami sekarang memastikan anak-anak yang belum imunisasi segera terjangkau. Ini penting untuk menekan risiko penularan,” tegasnya.

    Program imunisasi kejar dilakukan secara aktif, menyasar kelompok rentan yang terlewat vaksinasi rutin. Dalam salah satu kegiatan terbaru, sekitar 200 warga, baik anak-anak maupun orang dewasa ikut berpartisipasi. Selain layanan vaksinasi, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk edukasi kesehatan.

    Di tengah suasana lebaran yang identik dengan silaturahmi, DKK turut mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam berinteraksi, khususnya dengan bayi. Kebiasaan menggendong atau mencium bayi tanpa menjaga kebersihan dinilai berpotensi menjadi jalur penularan.

    “Sering kali tanpa disadari, orang dewasa membawa virus. Karena itu, biasakan cuci tangan sebelum menyentuh bayi,” mengingatkan.

    Imbauan ini diperkuat melalui surat edaran resmi yang dikeluarkan DKK guna meningkatkan kewaspadaan selama periode lebaran.

    Untuk penanganan kasus, DKK memastikan seluruh pasien campak mendapatkan pengobatan gratis. Pasien juga dianjurkan menjalani isolasi mandiri selama kurang lebih dua minggu untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

    “Di sisi lain, masyarakat diminta tetap disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Langkah sederhana seperti mencuci tangan, membatasi kontak fisik dengan bayi dan melengkapi imunisasi dinilai efektif dalam memutus rantai penularan,” terangnya.

    Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat, DKK optimistis peningkatan kasus campak ini dapat dikendalikan tanpa harus memasuki fase darurat kesehatan. (Adv Diskominfo Balikpapan)

    (Sf/Lo)