Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Workshop Hilirisasi Limbah Sawit, Bupati Mudyat: Ciptakan Lapangan Kerja dan Peluang Usaha Baru

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Rusdianto
    21 Oktober 2026 pukul 09:42 WITA

    Bupati PPU, Mudyat Noor. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) mendorong hilirisasi limbah kelapa sawit berbasis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai peluang usaha baru di tengah tekanan ekonomi daerah.

    Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Hilirisasi Limbah Sawit Berbasis UMKM Tahun 2026 yang digelar di Aula Lantai III Kantor Bupati PPU, Selasa (20/10/2026).

    Bupati PPU, Mudyat Noor, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia (AKPSI) dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

    Menurut Mudyat, potensi turunan produk dari limbah sawit sangat besar jika dikelola serius oleh UMKM. Peluang pemanfaatannya apabila dikelola secara tepat, yakni sebagai sumber energi terbarukan dan bahan baku kerajinan. 

    Ia mengaku pernah melihat langsung pameran produk turunan limbah sawit asal PPU di Jakarta yang dinilai luar biasa.

    "Potensi produk turunan dari limbah sawit ini luar biasa. Saya pernah lihat sendiri pameran produk UMKM PPU di Jakarta, hasilnya sangat bagus dan punya nilai jual," kata Mudyat.

    Kegiatan ini diikuti 100 peserta yang terdiri dari pelaku UMKM, petani sawit, pengusaha perkebunan, hingga anggota koperasi sawit. 

    Mudyat menegaskan, hilirisasi limbah sawit tidak akan mengganggu produk utama perusahaan perkebunan, sehingga suplai bahan baku bagi UMKM dinilai sangat memungkinkan.

    "Ini kan bukan mengambil produk utamanya, hanya limbahnya. Jadi bagi perusahaan seharusnya tidak sulit untuk menyuplai bahan baku yang akan diolah teman-teman UMKM," kata dia.

    Lebih jauh, Mudyat menilai workshop yang didanai BPDP dan digelar di tiga daerah, salah satunya PPU dan Mamuju, ini menjadi strategi penting di tengah situasi ekonomi yang kurang baik dan adanya pengurangan dana transfer ke daerah.

    "Di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang dan adanya pengurangan dana transfer ke daerah, kita harus cari terobosan. Kita dorong limbah sawit ini tidak hanya jadi produk lokal, tapi bisa go internasional," tegasnya.

    Ia berharap hilirisasi limbah sawit dapat memberikan dampak nyata, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga memperkuat daya saing daerah melalui konsep green industry atau industri hijau.

    "Melalui hilirisasi ini, kita ingin membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat daya saing daerah," ujarnya.

    Mudyat juga menekankan agar hasil workshop tidak berhenti sebagai diskusi semata, melainkan dapat dirumuskan menjadi rekomendasi dan program berkelanjutan.

    Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, petani, UMKM, asosiasi, dan akademisi dinilai menjadi kunci agar masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha kecil, dapat terlibat lebih luas dalam rantai nilai industri kelapa sawit.

    "Peluang ini harus kita ambil bersama. Petani dan UMKM harus bisa masuk dalam rantai nilai industri sawit, termasuk mengolah limbahnya menjadi produk yang bernilai ekonomi," tutupnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Workshop Hilirisasi Limbah Sawit, Bupati Mudyat: Ciptakan Lapangan Kerja dan Peluang Usaha Baru

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Rusdianto
    21 Oktober 2026 pukul 09:42 WITA

    Bupati PPU, Mudyat Noor. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) mendorong hilirisasi limbah kelapa sawit berbasis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai peluang usaha baru di tengah tekanan ekonomi daerah.

    Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Hilirisasi Limbah Sawit Berbasis UMKM Tahun 2026 yang digelar di Aula Lantai III Kantor Bupati PPU, Selasa (20/10/2026).

    Bupati PPU, Mudyat Noor, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia (AKPSI) dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

    Menurut Mudyat, potensi turunan produk dari limbah sawit sangat besar jika dikelola serius oleh UMKM. Peluang pemanfaatannya apabila dikelola secara tepat, yakni sebagai sumber energi terbarukan dan bahan baku kerajinan. 

    Ia mengaku pernah melihat langsung pameran produk turunan limbah sawit asal PPU di Jakarta yang dinilai luar biasa.

    "Potensi produk turunan dari limbah sawit ini luar biasa. Saya pernah lihat sendiri pameran produk UMKM PPU di Jakarta, hasilnya sangat bagus dan punya nilai jual," kata Mudyat.

    Kegiatan ini diikuti 100 peserta yang terdiri dari pelaku UMKM, petani sawit, pengusaha perkebunan, hingga anggota koperasi sawit. 

    Mudyat menegaskan, hilirisasi limbah sawit tidak akan mengganggu produk utama perusahaan perkebunan, sehingga suplai bahan baku bagi UMKM dinilai sangat memungkinkan.

    "Ini kan bukan mengambil produk utamanya, hanya limbahnya. Jadi bagi perusahaan seharusnya tidak sulit untuk menyuplai bahan baku yang akan diolah teman-teman UMKM," kata dia.

    Lebih jauh, Mudyat menilai workshop yang didanai BPDP dan digelar di tiga daerah, salah satunya PPU dan Mamuju, ini menjadi strategi penting di tengah situasi ekonomi yang kurang baik dan adanya pengurangan dana transfer ke daerah.

    "Di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang dan adanya pengurangan dana transfer ke daerah, kita harus cari terobosan. Kita dorong limbah sawit ini tidak hanya jadi produk lokal, tapi bisa go internasional," tegasnya.

    Ia berharap hilirisasi limbah sawit dapat memberikan dampak nyata, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga memperkuat daya saing daerah melalui konsep green industry atau industri hijau.

    "Melalui hilirisasi ini, kita ingin membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat daya saing daerah," ujarnya.

    Mudyat juga menekankan agar hasil workshop tidak berhenti sebagai diskusi semata, melainkan dapat dirumuskan menjadi rekomendasi dan program berkelanjutan.

    Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, petani, UMKM, asosiasi, dan akademisi dinilai menjadi kunci agar masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha kecil, dapat terlibat lebih luas dalam rantai nilai industri kelapa sawit.

    "Peluang ini harus kita ambil bersama. Petani dan UMKM harus bisa masuk dalam rantai nilai industri sawit, termasuk mengolah limbahnya menjadi produk yang bernilai ekonomi," tutupnya. (Adv)

    (Sf/Rs)