Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Udara Sangat Tidak Sehat, Disdikpora PPU Berlakukan PJJ di Sepaku

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    23 September 2026 pukul 21:06 WITA

    Sekda PPU, Tohar. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kualitas udara di sejumlah wilayah Penajam Paser Utara (PPU) memburuk akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi itu mulai berimbas pada pola pembelajaran, dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah diterapkan di Kecamatan Sepaku dan Babulu berpotensi menyusul.

    Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar, mengatakan perbedaan kualitas udara di empat kecamatan menjadi pertimbangan dalam menentukan pola pembelajaran bagi siswa. Pemerintah daerah perlu memperhitungkan faktor kesehatan sekaligus keberlangsungan proses belajar.

    "Ini menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah pembelajaran tetap dilakukan di sekolah dengan penggunaan masker atau perlu menerapkan pembelajaran jarak jauh. Kesehatan penting, tetapi proses anak-anak mendapatkan ilmu pengetahuan juga harus tetap berjalan," kata Tohar, Senin (21/9/2026).

    Menurutnya, keputusan penerapan PJJ perlu melihat kondisi udara di masing-masing wilayah, termasuk efektivitas pembelajaran apabila dilakukan dari rumah.

    Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) PPU, Durajat, mengungkapkan PJJ telah berjalan selama sepekan terakhir di sejumlah satuan pendidikan di Kecamatan Sepaku.

    Kebijakan tersebut mengacu pada hasil pengukuran partikel PM2,5 dan PM10 serta peringatan kualitas udara dari wilayah kerja Puskesmas I Sepaku. Kondisi udara juga menjadi rujukan Disdikpora dalam menentukan langkah perlindungan bagi siswa.

    "Data dari Dinas Kesehatan menunjukkan Penajam berada pada kategori tidak sehat, Waru sedang, sedangkan Babulu dan Sepaku masuk kategori sangat tidak sehat," ujar Durajat.

    Melihat kondisi tersebut, Disdikpora kini mempertimbangkan penerapan PJJ di Babulu. Durajat mengatakan koordinasi dengan pimpinan akan dilakukan sebelum instruksi resmi dikeluarkan.

    "Babulu sudah masuk kategori sangat tidak sehat. Karena itu, kami akan koordinasikan dengan pimpinan agar pembelajaran di wilayah tersebut juga dapat dilakukan dari jarak jauh seperti di Sepaku," ucapnya.

    Untuk satuan pendidikan yang masih menjalankan pembelajaran tatap muka, Disdikpora telah mengimbau penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan. Kegiatan siswa diarahkan agar lebih banyak berlangsung di dalam kelas.

    Durajat menilai pemantauan kualitas udara penting dalam menentukan langkah sekolah. Sebab, kondisi udara yang buruk tidak selalu dapat diketahui hanya dari kondisi lingkungan yang terlihat.

    "Kalau tidak terhubung dengan Dinas Kesehatan, masyarakat bisa merasa bernapas seperti biasa, padahal kualitas udaranya sedang tidak baik," katanya.

    Penerapan PJJ di Babulu saat ini belum menjadi instruksi resmi. Disdikpora masih berkoordinasi dengan pimpinan terkait kebijakan tersebut.

    Langkah penyesuaian pembelajaran ini juga mengacu pada Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Kebakaran Hutan dan Lahan. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Udara Sangat Tidak Sehat, Disdikpora PPU Berlakukan PJJ di Sepaku

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    23 September 2026 pukul 21:06 WITA

    Sekda PPU, Tohar. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Kualitas udara di sejumlah wilayah Penajam Paser Utara (PPU) memburuk akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi itu mulai berimbas pada pola pembelajaran, dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah diterapkan di Kecamatan Sepaku dan Babulu berpotensi menyusul.

    Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar, mengatakan perbedaan kualitas udara di empat kecamatan menjadi pertimbangan dalam menentukan pola pembelajaran bagi siswa. Pemerintah daerah perlu memperhitungkan faktor kesehatan sekaligus keberlangsungan proses belajar.

    "Ini menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah pembelajaran tetap dilakukan di sekolah dengan penggunaan masker atau perlu menerapkan pembelajaran jarak jauh. Kesehatan penting, tetapi proses anak-anak mendapatkan ilmu pengetahuan juga harus tetap berjalan," kata Tohar, Senin (21/9/2026).

    Menurutnya, keputusan penerapan PJJ perlu melihat kondisi udara di masing-masing wilayah, termasuk efektivitas pembelajaran apabila dilakukan dari rumah.

    Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) PPU, Durajat, mengungkapkan PJJ telah berjalan selama sepekan terakhir di sejumlah satuan pendidikan di Kecamatan Sepaku.

    Kebijakan tersebut mengacu pada hasil pengukuran partikel PM2,5 dan PM10 serta peringatan kualitas udara dari wilayah kerja Puskesmas I Sepaku. Kondisi udara juga menjadi rujukan Disdikpora dalam menentukan langkah perlindungan bagi siswa.

    "Data dari Dinas Kesehatan menunjukkan Penajam berada pada kategori tidak sehat, Waru sedang, sedangkan Babulu dan Sepaku masuk kategori sangat tidak sehat," ujar Durajat.

    Melihat kondisi tersebut, Disdikpora kini mempertimbangkan penerapan PJJ di Babulu. Durajat mengatakan koordinasi dengan pimpinan akan dilakukan sebelum instruksi resmi dikeluarkan.

    "Babulu sudah masuk kategori sangat tidak sehat. Karena itu, kami akan koordinasikan dengan pimpinan agar pembelajaran di wilayah tersebut juga dapat dilakukan dari jarak jauh seperti di Sepaku," ucapnya.

    Untuk satuan pendidikan yang masih menjalankan pembelajaran tatap muka, Disdikpora telah mengimbau penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan. Kegiatan siswa diarahkan agar lebih banyak berlangsung di dalam kelas.

    Durajat menilai pemantauan kualitas udara penting dalam menentukan langkah sekolah. Sebab, kondisi udara yang buruk tidak selalu dapat diketahui hanya dari kondisi lingkungan yang terlihat.

    "Kalau tidak terhubung dengan Dinas Kesehatan, masyarakat bisa merasa bernapas seperti biasa, padahal kualitas udaranya sedang tidak baik," katanya.

    Penerapan PJJ di Babulu saat ini belum menjadi instruksi resmi. Disdikpora masih berkoordinasi dengan pimpinan terkait kebijakan tersebut.

    Langkah penyesuaian pembelajaran ini juga mengacu pada Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Daerah Terdampak Asap Kebakaran Hutan dan Lahan. (Adv)

    (Sf/Lo)