Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    SPPG Jenebora Beroperasi, Pemkab PPU Kejar Pemerataan MBG di Wilayah 3T

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Rusdianto
    20 Oktober 2026 pukul 14:20 WITA

    Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda PPU, Hadi Saputro. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai merambah wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jenebora resmi beroperasi dan menjadi yang pertama di antara 10 wilayah 3T di PPU.

    Dari total 10 wilayah 3T yang ada, yakni Jenebora, Pantai Lango, Sotek, Mentawir, Semoi II, Karang Jinawi, Wono Sari, Labangka, Bangun Mulya, dan Bukit Subur, baru Jenebora yang telah diresmikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

    Pemerintah Kabupaten PPU kini mendorong percepatan pengaktifan 9 wilayah 3T lainnya. Sejumlah lokasi bahkan disebut sudah siap dari sisi sarana dan prasarana, tinggal menunggu jadwal operasional dari BGN.

    Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda PPU, Hadi Saputro, mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Koordinator Wilayah BGN untuk mempercepat pemerataan layanan.

    "Sebagian SPPG di wilayah 3T sudah siap sarana prasarana. Kami sudah koordinasi dengan Korwil BGN agar penjadwalannya bisa dipercepat, sehingga semua wilayah 3T bisa aktif," ujar Hadi, Selasa (20/10/2026).

    Meski infrastruktur siap, tantangan lain muncul dari rantai pasok pangan. Kondisi geografis yang jauh membuat pasokan bahan baku, terutama yang membutuhkan penyimpanan khusus, tidak mudah didapatkan di sekitar wilayah 3T.

    Hadi mencontohkan, untuk kebutuhan ayam potong beku, pengelola SPPG di Jenebora tidak bisa mengandalkan pasokan lokal dan harus mengambil dari titik stok di luar kawasan.

    "Kendala di 3T ini soal jarak. Kalau bicara pasokan ayam beku misalnya, di Jenebora ini kan tidak ada stoknya, jadi harus ambil ke tempat penyimpanan tertentu," katanya.

    Kondisi tersebut juga berdampak pada pelibatan UMKM lokal. Menurut Hadi, keterlibatan pelaku usaha setempat di wilayah 3T belum bisa maksimal karena keterbatasan produksi dan akses distribusi, meski peluang tetap dibuka sesuai standar program MBG.

    Di Jenebora sendiri, SPPG akan melayani dua Sekolah Dasar (SD) dan satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kehadiran SPPG diharapkan memangkas jarak distribusi dan memastikan siswa di wilayah pesisir tersebut mendapatkan akses makanan bergizi.

    Pemkab PPU berharap setelah Jenebora, wilayah seperti Bukit Subur dan wilayah 3T lainnya yang sudah siap dapat segera menyusul diresmikan, agar manfaat MBG tidak hanya terpusat di wilayah kota.

    "Tentunya keberadaan SPPG di wilayah 3T diharapkan bisa memenuhi standar mutu pangan. Karena ini harapan nyata bagi pemenuhan gizi masyarakat sekitar, khususnya anak-anak yang bersekolah di Kabupaten PPU," pungkas Hadi. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    SPPG Jenebora Beroperasi, Pemkab PPU Kejar Pemerataan MBG di Wilayah 3T

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Rusdianto
    20 Oktober 2026 pukul 14:20 WITA

    Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda PPU, Hadi Saputro. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai merambah wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jenebora resmi beroperasi dan menjadi yang pertama di antara 10 wilayah 3T di PPU.

    Dari total 10 wilayah 3T yang ada, yakni Jenebora, Pantai Lango, Sotek, Mentawir, Semoi II, Karang Jinawi, Wono Sari, Labangka, Bangun Mulya, dan Bukit Subur, baru Jenebora yang telah diresmikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

    Pemerintah Kabupaten PPU kini mendorong percepatan pengaktifan 9 wilayah 3T lainnya. Sejumlah lokasi bahkan disebut sudah siap dari sisi sarana dan prasarana, tinggal menunggu jadwal operasional dari BGN.

    Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda PPU, Hadi Saputro, mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Koordinator Wilayah BGN untuk mempercepat pemerataan layanan.

    "Sebagian SPPG di wilayah 3T sudah siap sarana prasarana. Kami sudah koordinasi dengan Korwil BGN agar penjadwalannya bisa dipercepat, sehingga semua wilayah 3T bisa aktif," ujar Hadi, Selasa (20/10/2026).

    Meski infrastruktur siap, tantangan lain muncul dari rantai pasok pangan. Kondisi geografis yang jauh membuat pasokan bahan baku, terutama yang membutuhkan penyimpanan khusus, tidak mudah didapatkan di sekitar wilayah 3T.

    Hadi mencontohkan, untuk kebutuhan ayam potong beku, pengelola SPPG di Jenebora tidak bisa mengandalkan pasokan lokal dan harus mengambil dari titik stok di luar kawasan.

    "Kendala di 3T ini soal jarak. Kalau bicara pasokan ayam beku misalnya, di Jenebora ini kan tidak ada stoknya, jadi harus ambil ke tempat penyimpanan tertentu," katanya.

    Kondisi tersebut juga berdampak pada pelibatan UMKM lokal. Menurut Hadi, keterlibatan pelaku usaha setempat di wilayah 3T belum bisa maksimal karena keterbatasan produksi dan akses distribusi, meski peluang tetap dibuka sesuai standar program MBG.

    Di Jenebora sendiri, SPPG akan melayani dua Sekolah Dasar (SD) dan satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kehadiran SPPG diharapkan memangkas jarak distribusi dan memastikan siswa di wilayah pesisir tersebut mendapatkan akses makanan bergizi.

    Pemkab PPU berharap setelah Jenebora, wilayah seperti Bukit Subur dan wilayah 3T lainnya yang sudah siap dapat segera menyusul diresmikan, agar manfaat MBG tidak hanya terpusat di wilayah kota.

    "Tentunya keberadaan SPPG di wilayah 3T diharapkan bisa memenuhi standar mutu pangan. Karena ini harapan nyata bagi pemenuhan gizi masyarakat sekitar, khususnya anak-anak yang bersekolah di Kabupaten PPU," pungkas Hadi. (Adv)

    (Sf/Rs)