Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Serapan Pupuk Bersubsidi di PPU Masih Rendah, Kepala Distan Sebut hanya Setengah dari Kuota

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Buniyamin
    24 Oktober 2024 pukul 15:54 WITA

    Kepala Distan PPU, Andi Trasodiharto.(Dok:Emmat)

    Penajam - Kepala Dinas Pertanian (Distan) Penajam Paser Utara (PPU), Andi Trasodihatro mengakui serapan pupuk bersubsidi di wilayah Benuo Taka masih terbilang rendah.

    Kata dia, tercatat dari 6,748 ton pupuk yang tersedia, hanya 3,766 ton pupuk yang diambil oleh para petani di empat kecamatan.

    Angka itu berdasarkan data yang sudah direkap dari Januari hingga September 2024 ini. Di mana mereka menyediakan dua jenis pupuk, seperti pupuk NPK dan Urea. 

    Rinciannya, pupuk NPK yang tersedia sebanyak 3,373 ton dan terserap sekitar 2,058 ton, jika dipersentasekan sekitar 61 persen.

    Sedangkan pupuk Urea, tersedia sebanyak 3,375 ton, tetapi yang terserap hanya 1,707 ton atau 51 persen saja.

    "Jumlah itu menunjukkan minimnya minat para petani untuk menggunakan pupuk bersubsidi dari kita, padahal pupuk ini merupakan bantuan dari pemerintah pusat untuk mendukung kesuburan tanah dan meningkatkan hasil produksi pangan di wilayah kita," ucap Andi, Kamis (24/10/2024).

    Distan PPU pun langsung turun ke lapangan untuk mencari tahu dan menemui sejumlah Kelompok Tani (Poktan), menanyakan alasan dibalik kurangnya minat mereka mengambil pupuk bersubsidi yang sudah tersedia.

    Setelah dilakukan pendataan di lapangan, ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka enggan mengambil pupuk bersubsidi, seperti tidak mengetahui adanya ketersediaan pupuk padahal sudah terdata di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan tidak bisa melakukan penebusan karena keterbatasan.

    "Sesudah menelusuri lebih lanjut, ternyata alasannya ada yang Engan menebus pupuk bersubsidi," ungkap Andi.

    Padahal, kata dia, terkait permasalahan penebusan pupuk dapat teratasi melalui kerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Di mana mereka akan melakukan penalangan dana terlebih dahulu untuk menebus pupuk.

    Kemudian sebagai gantinya, ketika para petani sudah memasuki hari panen, maka hasilnya bisa digunakan untuk menebus kembali dana dari BUMDes.

    "Meskipun mereka terkendala di pendanaan, masih ada alternatif lain seperti melalui BUMDes tadi. Dengan cara itu diharapkan bisa menyelesaikan permasalah yang dihadapi oleh para petani. Karena jika serapan pupuk bersubsidi rendah, akan mempengaruhi jumlah kuota yang diberikan dari pemerintah pusat," tandasnya. (adv)

    (Sf/By)

    Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Serapan Pupuk Bersubsidi di PPU Masih Rendah, Kepala Distan Sebut hanya Setengah dari Kuota

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Buniyamin
    24 Oktober 2024 pukul 15:54 WITA

    Kepala Distan PPU, Andi Trasodiharto.(Dok:Emmat)

    Penajam - Kepala Dinas Pertanian (Distan) Penajam Paser Utara (PPU), Andi Trasodihatro mengakui serapan pupuk bersubsidi di wilayah Benuo Taka masih terbilang rendah.

    Kata dia, tercatat dari 6,748 ton pupuk yang tersedia, hanya 3,766 ton pupuk yang diambil oleh para petani di empat kecamatan.

    Angka itu berdasarkan data yang sudah direkap dari Januari hingga September 2024 ini. Di mana mereka menyediakan dua jenis pupuk, seperti pupuk NPK dan Urea. 

    Rinciannya, pupuk NPK yang tersedia sebanyak 3,373 ton dan terserap sekitar 2,058 ton, jika dipersentasekan sekitar 61 persen.

    Sedangkan pupuk Urea, tersedia sebanyak 3,375 ton, tetapi yang terserap hanya 1,707 ton atau 51 persen saja.

    "Jumlah itu menunjukkan minimnya minat para petani untuk menggunakan pupuk bersubsidi dari kita, padahal pupuk ini merupakan bantuan dari pemerintah pusat untuk mendukung kesuburan tanah dan meningkatkan hasil produksi pangan di wilayah kita," ucap Andi, Kamis (24/10/2024).

    Distan PPU pun langsung turun ke lapangan untuk mencari tahu dan menemui sejumlah Kelompok Tani (Poktan), menanyakan alasan dibalik kurangnya minat mereka mengambil pupuk bersubsidi yang sudah tersedia.

    Setelah dilakukan pendataan di lapangan, ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka enggan mengambil pupuk bersubsidi, seperti tidak mengetahui adanya ketersediaan pupuk padahal sudah terdata di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan tidak bisa melakukan penebusan karena keterbatasan.

    "Sesudah menelusuri lebih lanjut, ternyata alasannya ada yang Engan menebus pupuk bersubsidi," ungkap Andi.

    Padahal, kata dia, terkait permasalahan penebusan pupuk dapat teratasi melalui kerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Di mana mereka akan melakukan penalangan dana terlebih dahulu untuk menebus pupuk.

    Kemudian sebagai gantinya, ketika para petani sudah memasuki hari panen, maka hasilnya bisa digunakan untuk menebus kembali dana dari BUMDes.

    "Meskipun mereka terkendala di pendanaan, masih ada alternatif lain seperti melalui BUMDes tadi. Dengan cara itu diharapkan bisa menyelesaikan permasalah yang dihadapi oleh para petani. Karena jika serapan pupuk bersubsidi rendah, akan mempengaruhi jumlah kuota yang diberikan dari pemerintah pusat," tandasnya. (adv)

    (Sf/By)