Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Olahan Limbah Kelapa Jadi Suvenir Unggulan, Masyarakat Maratua Didorong Kuasai Pasar Wisata

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    10 Oktober 2026 pukul 20:45 WITA

    Kerajinan tangan di Berau berbahan limbah kelapa. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau mendorong pengembangan kerajinan berbahan limbah kelapa di Kepulauan Maratua agar mampu menembus pasar wisata. 

    Upaya ini dilakukan dengan mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai jual sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

    Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan kelapa yang melimpah di Maratua memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kerajinan khas. Selama ini, bahan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal dapat menjadi produk unggulan yang menarik bagi wisatawan.

    "Padahal, potensi kelapanya melimpah. Ini bisa menjadi peluang untuk menghasilkan kerajinan yang memiliki ciri khas daerah dan nilai ekonomi," ujar Eva.

    Oleh karena itu, untuk mendukung pengembangan tersebut, Diskoperindag telah menggelar pelatihan pengolahan limbah kelapa menjadi berbagai produk kerajinan. Di antaranya gantungan kunci, bros, kalung, tempat tisu, hingga miniatur kapal layar yang berpotensi dipasarkan sebagai suvenir khas Maratua.

    Ia pun menilai, keterampilan yang diperoleh masyarakat melalui pelatihan perlu diikuti dengan pendampingan berkelanjutan. Hal tersebut dinilai penting agar kelompok pengrajin dapat menjaga produksi dan mengembangkan usahanya, bukan hanya berhenti pada kegiatan pelatihan.

    "Hasilnya luar biasa. Perlu ada pendampingan agar masyarakat bisa terus mengembangkan keterampilan dan menghasilkan produk secara berkelanjutan," katanya.

    Dirinya mendorong camat, kepala kampung dan pemangku kepentingan di Maratua untuk terlibat dalam mendampingi kelompok pengrajin. Selain itu, legalitas kelompok menjadi perhatian agar mereka memiliki kesempatan mengakses bantuan peralatan dari pemerintah untuk meningkatkan kapasitas produksi.

    Sementara itu, dalam memperluas pemasaran, Diskoperindag juga menggandeng Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) serta pengelola resor di Maratua. Pengelola resor diharapkan tidak hanya membantu memajang produk, tetapi juga membuka peluang pembelian untuk kebutuhan usaha mereka.

    "Dengan upaya itu, kerajinan masyarakat bisa memiliki pasar yang lebih luas," tuturnya.

    Eva berharap melalui kerja sama tersebut, kerajinan berbahan limbah kelapa tersebut dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata Maratua. Selain menjadi suvenir bagi wisatawan, produk tersebut juga berpeluang memasuki pasar usaha akomodasi dan kuliner.

    "Kami ingin masyarakat Maratua menjadi pelaku utama ekonomi wisata. Karena itu, potensi yang ada harus dikembangkan agar bisa memberikan nilai tambah dan pendapatan sehingga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Olahan Limbah Kelapa Jadi Suvenir Unggulan, Masyarakat Maratua Didorong Kuasai Pasar Wisata

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    10 Oktober 2026 pukul 20:45 WITA

    Kerajinan tangan di Berau berbahan limbah kelapa. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau mendorong pengembangan kerajinan berbahan limbah kelapa di Kepulauan Maratua agar mampu menembus pasar wisata. 

    Upaya ini dilakukan dengan mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai jual sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

    Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan kelapa yang melimpah di Maratua memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kerajinan khas. Selama ini, bahan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal dapat menjadi produk unggulan yang menarik bagi wisatawan.

    "Padahal, potensi kelapanya melimpah. Ini bisa menjadi peluang untuk menghasilkan kerajinan yang memiliki ciri khas daerah dan nilai ekonomi," ujar Eva.

    Oleh karena itu, untuk mendukung pengembangan tersebut, Diskoperindag telah menggelar pelatihan pengolahan limbah kelapa menjadi berbagai produk kerajinan. Di antaranya gantungan kunci, bros, kalung, tempat tisu, hingga miniatur kapal layar yang berpotensi dipasarkan sebagai suvenir khas Maratua.

    Ia pun menilai, keterampilan yang diperoleh masyarakat melalui pelatihan perlu diikuti dengan pendampingan berkelanjutan. Hal tersebut dinilai penting agar kelompok pengrajin dapat menjaga produksi dan mengembangkan usahanya, bukan hanya berhenti pada kegiatan pelatihan.

    "Hasilnya luar biasa. Perlu ada pendampingan agar masyarakat bisa terus mengembangkan keterampilan dan menghasilkan produk secara berkelanjutan," katanya.

    Dirinya mendorong camat, kepala kampung dan pemangku kepentingan di Maratua untuk terlibat dalam mendampingi kelompok pengrajin. Selain itu, legalitas kelompok menjadi perhatian agar mereka memiliki kesempatan mengakses bantuan peralatan dari pemerintah untuk meningkatkan kapasitas produksi.

    Sementara itu, dalam memperluas pemasaran, Diskoperindag juga menggandeng Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) serta pengelola resor di Maratua. Pengelola resor diharapkan tidak hanya membantu memajang produk, tetapi juga membuka peluang pembelian untuk kebutuhan usaha mereka.

    "Dengan upaya itu, kerajinan masyarakat bisa memiliki pasar yang lebih luas," tuturnya.

    Eva berharap melalui kerja sama tersebut, kerajinan berbahan limbah kelapa tersebut dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata Maratua. Selain menjadi suvenir bagi wisatawan, produk tersebut juga berpeluang memasuki pasar usaha akomodasi dan kuliner.

    "Kami ingin masyarakat Maratua menjadi pelaku utama ekonomi wisata. Karena itu, potensi yang ada harus dikembangkan agar bisa memberikan nilai tambah dan pendapatan sehingga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)