Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Kunker ke Bali, PPU Pelajari Pengembangan Ekowisata dan Pelestarian Hutan Lindung

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    08 Agustus 2025 pukul 08:28 WITA

    Bupati PPU, Mudyat Noor saat mengunjungi kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Kota Denpasar, Bali (Dok: Humassetkabppu)

    Penajam — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) melakukan kunjungan kerja (Kunker) dan audiensi ke Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Unda Anyar, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kamis (7/8/2025). 

    Audiensi itu berlangsung di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Kota Denpasar, Bali. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah (pemda) untuk mendorong pengembangan ekowisata dan pelestarian kawasan hutan lindung di wilayah PPU.

    Dalam audiensi itu, kedua belah pihak membahas potensi pengembangan kawasan konservasi dan ekowisata mangrove sebagai model pembangunan berkelanjutan yang dapat diterapkan di wilayah pesisir PPU. 

    Pemkab PPU melakukan studi lapangan dengan meninjau langsung pengelolaan kawasan ekowisata Tahura Ngurah Rai. Tempat itu dikenal sebagai kawasan hutan mangrove terbesar dan terkelola dengan baik di wilayah Indonesia Timur.

    “Kita ingin belajar dari keberhasilan Bali dalam mengelola Tahura sebagai kawasan edukatif, konservatif, sekaligus produktif dari sisi pariwisata. PPU memiliki potensi hutan mangrove yang besar dan ini bisa kita jadikan kekuatan baru dalam pembangunan berbasis lingkungan,” ujar Bupati PPU, Mudyat Noor.

    Ia menegaskan pembangunan hijau atau green development merupakan salah satu visi utama pemda karena seiring dengan posisinya sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Kepala BPDAS Unda Anyar, Tri Adi Wibisono menyampaikan apresiasi atas inisiatif Pemkab PPU yang proaktif menjalin kolaborasi strategis antarlembaga. 

    Menurutnya hubungan antara pemda dan KLHK sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan program rehabilitasi hutan serta pengelolaan DAS.

    “Dukungan dari pemda kita bisa menyesuaikan program rehabilitasi dengan kondisi sosial, budaya dan potensi kawasan lokal. Ekowisata berbasis mangrove adalah salah satu kunci dalam menciptakan ekonomi hijau yang inklusif,” terang Tri Adi.

    Kunker ini diharapkan menjadi langkah lanjutan sinergi antara Pemkab PPU dan BPDAS Unda Anyar dalam upaya pelestarian lingkungan sekaligus pengembangan potensi wisata berkelanjutan di PPU, khususnya dalam integrasi kawasan konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

    Pemkab PPU berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi lintas sektor dalam membangun masa depan daerah yang berwawasan lingkungan, berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Kunker ke Bali, PPU Pelajari Pengembangan Ekowisata dan Pelestarian Hutan Lindung

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    08 Agustus 2025 pukul 08:28 WITA

    Bupati PPU, Mudyat Noor saat mengunjungi kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Kota Denpasar, Bali (Dok: Humassetkabppu)

    Penajam — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) melakukan kunjungan kerja (Kunker) dan audiensi ke Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Unda Anyar, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kamis (7/8/2025). 

    Audiensi itu berlangsung di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Kota Denpasar, Bali. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah (pemda) untuk mendorong pengembangan ekowisata dan pelestarian kawasan hutan lindung di wilayah PPU.

    Dalam audiensi itu, kedua belah pihak membahas potensi pengembangan kawasan konservasi dan ekowisata mangrove sebagai model pembangunan berkelanjutan yang dapat diterapkan di wilayah pesisir PPU. 

    Pemkab PPU melakukan studi lapangan dengan meninjau langsung pengelolaan kawasan ekowisata Tahura Ngurah Rai. Tempat itu dikenal sebagai kawasan hutan mangrove terbesar dan terkelola dengan baik di wilayah Indonesia Timur.

    “Kita ingin belajar dari keberhasilan Bali dalam mengelola Tahura sebagai kawasan edukatif, konservatif, sekaligus produktif dari sisi pariwisata. PPU memiliki potensi hutan mangrove yang besar dan ini bisa kita jadikan kekuatan baru dalam pembangunan berbasis lingkungan,” ujar Bupati PPU, Mudyat Noor.

    Ia menegaskan pembangunan hijau atau green development merupakan salah satu visi utama pemda karena seiring dengan posisinya sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Kepala BPDAS Unda Anyar, Tri Adi Wibisono menyampaikan apresiasi atas inisiatif Pemkab PPU yang proaktif menjalin kolaborasi strategis antarlembaga. 

    Menurutnya hubungan antara pemda dan KLHK sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan program rehabilitasi hutan serta pengelolaan DAS.

    “Dukungan dari pemda kita bisa menyesuaikan program rehabilitasi dengan kondisi sosial, budaya dan potensi kawasan lokal. Ekowisata berbasis mangrove adalah salah satu kunci dalam menciptakan ekonomi hijau yang inklusif,” terang Tri Adi.

    Kunker ini diharapkan menjadi langkah lanjutan sinergi antara Pemkab PPU dan BPDAS Unda Anyar dalam upaya pelestarian lingkungan sekaligus pengembangan potensi wisata berkelanjutan di PPU, khususnya dalam integrasi kawasan konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

    Pemkab PPU berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi lintas sektor dalam membangun masa depan daerah yang berwawasan lingkungan, berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. (Adv)

    (Sf/Lo)