Cari disini...
Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara
Bantuan air didistribusikan untuk penyiraman tanaman semangka di Babulu Darat. (Dok. Distan PPU)
Penajam - Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyalurkan bantuan air untuk penyiraman 35 Hektare (Ha) tanaman semangka di Babulu Darat yang terdampak kekeringan.
Bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Samarinda, bantuan air tersebut dialokasikan untuk Kelompok Tani Setia Abadi dan Kelompok Tani Makmur Raya. Tanaman semangka di dua kelompok itu berusia 21-45 hari setelah tanam.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan, mengatakan pihaknya menerima laporan kekeringan pada pekan lalu dan langsung melakukan pengecekan ke lapangan.
"Setelah kami cek, air baku di saluran sekunder sudah kering total. Air yang tersisa juga payau sehingga tidak bisa digunakan untuk menyiram tanaman. Kami kemudian mengajukan bantuan kepada pihak terkait," kata Gunawan, Rabu (23/9/2026).
Permohonan bantuan disampaikan kepada sejumlah instansi, termasuk BWS, BPBD, Damkar dan Dinas Perkim. Dari koordinasi tersebut, BWS IV Samarinda mulai mendistribusikan air ke lokasi sejak Selasa (22/9/2026).
Air didistribusikan untuk mengisi penampungan yang telah disiapkan petani. Rata-rata setiap tiga Ha lahan memiliki empat hingga lima tandon berbahan terpal dengan kapasitas sekitar 4.000 liter.
"Karena petani sudah memiliki tandon, selang dan sarana penyiraman, air dari tangki bisa langsung dimanfaatkan untuk masing-masing tanaman. Ini lebih memungkinkan dilakukan untuk semangka dibandingkan harus mengairi seluruh areal," ujarnya.
Sumber air untuk distribusi berasal dari jaringan irigasi BWS, di antaranya Labangka Barat, Babulu Laut dan Sri Raharja. Pengiriman dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi penampungan air di lokasi.
Gunawan mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kekeringan mengganggu produktivitas tanaman. Dalam kondisi normal, potensi produksi semangka di dua kelompok tani itu mencapai sekitar 30 ton per Ha.
"Potensi produksinya sekitar 30 ton per Ha dalam kondisi normal. Karenanya, kami percepat distribusi air agar kebutuhan tanaman terpenuhi dan potensi penurunan produksi bisa dicegah," jelasnya.
Menurut dia, penanganan tersebut menjadi bagian dari upaya Dinas Pertanian menjaga stabilitas produksi hortikultura, sekaligus menekan potensi kerugian petani akibat kekeringan.
"Ini langkah nyata dan kolaboratif setelah PPU ditetapkan dalam kondisi darurat bencana hidrometeorologi. Harapannya, pasokan air ini bisa menjaga produksi dan mengurangi kerugian petani," pungkas Gunawan. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...
Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

Bantuan air didistribusikan untuk penyiraman tanaman semangka di Babulu Darat. (Dok. Distan PPU)
Penajam - Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyalurkan bantuan air untuk penyiraman 35 Hektare (Ha) tanaman semangka di Babulu Darat yang terdampak kekeringan.
Bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Samarinda, bantuan air tersebut dialokasikan untuk Kelompok Tani Setia Abadi dan Kelompok Tani Makmur Raya. Tanaman semangka di dua kelompok itu berusia 21-45 hari setelah tanam.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan, mengatakan pihaknya menerima laporan kekeringan pada pekan lalu dan langsung melakukan pengecekan ke lapangan.
"Setelah kami cek, air baku di saluran sekunder sudah kering total. Air yang tersisa juga payau sehingga tidak bisa digunakan untuk menyiram tanaman. Kami kemudian mengajukan bantuan kepada pihak terkait," kata Gunawan, Rabu (23/9/2026).
Permohonan bantuan disampaikan kepada sejumlah instansi, termasuk BWS, BPBD, Damkar dan Dinas Perkim. Dari koordinasi tersebut, BWS IV Samarinda mulai mendistribusikan air ke lokasi sejak Selasa (22/9/2026).
Air didistribusikan untuk mengisi penampungan yang telah disiapkan petani. Rata-rata setiap tiga Ha lahan memiliki empat hingga lima tandon berbahan terpal dengan kapasitas sekitar 4.000 liter.
"Karena petani sudah memiliki tandon, selang dan sarana penyiraman, air dari tangki bisa langsung dimanfaatkan untuk masing-masing tanaman. Ini lebih memungkinkan dilakukan untuk semangka dibandingkan harus mengairi seluruh areal," ujarnya.
Sumber air untuk distribusi berasal dari jaringan irigasi BWS, di antaranya Labangka Barat, Babulu Laut dan Sri Raharja. Pengiriman dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi penampungan air di lokasi.
Gunawan mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kekeringan mengganggu produktivitas tanaman. Dalam kondisi normal, potensi produksi semangka di dua kelompok tani itu mencapai sekitar 30 ton per Ha.
"Potensi produksinya sekitar 30 ton per Ha dalam kondisi normal. Karenanya, kami percepat distribusi air agar kebutuhan tanaman terpenuhi dan potensi penurunan produksi bisa dicegah," jelasnya.
Menurut dia, penanganan tersebut menjadi bagian dari upaya Dinas Pertanian menjaga stabilitas produksi hortikultura, sekaligus menekan potensi kerugian petani akibat kekeringan.
"Ini langkah nyata dan kolaboratif setelah PPU ditetapkan dalam kondisi darurat bencana hidrometeorologi. Harapannya, pasokan air ini bisa menjaga produksi dan mengurangi kerugian petani," pungkas Gunawan. (Adv)
(Sf/Lo)