Cari disini...
Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara
Kabid Perikanan Tangkap Diskan PPU, Nani Adriana. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Hasil tangkapan kepiting nelayan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencapai 67,1 ton hingga Triwulan II 2026. Produksi tersebut terdiri dari 34.719 Kg kepiting bakau dan 32.392 Kg rajungan.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan PPU, Nani Adriana, mengatakan kedua komoditas tersebut memiliki wilayah tangkapan berbeda sesuai karakter habitatnya. Rajungan banyak dicari di kawasan perairan laut dan karang, sedangkan kepiting bakau hidup di kawasan mangrove.
"Rajungan biasanya dicari di kawasan karang, seperti pesisir Tanjung Jumlai. Kalau kepiting bakau banyak di kawasan mangrove, termasuk pesisir Pantai Lango, Gersik, dan Mentawir," jelas Nani, Jumat (9/10/2026).
Selain wilayah pesisir Teluk Balikpapan, kawasan mangrove di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, juga menyimpan potensi kepiting bakau. Nelayan umumnya menggunakan bubu atau perangkap berumpan untuk menangkap komoditas tersebut.
Hasil tangkapan kepiting PPU sebagian besar dipasarkan ke luar daerah, terutama untuk kepiting berukuran besar. Sebagian lainnya dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Nani mengatakan permintaan pasar turut memengaruhi harga jual kepiting. Saat Tahun Baru Imlek, harga komoditas ini bisa mencapai Rp200 ribu per kilogram.
"Momen Tahun Baru Imlek tuh permintaannya tinggi harga jual melejit," katanya.
Nani mengatakan, nelayan di sejumlah wilayah juga membesarkan kepiting berukuran kecil di tambak sebelum memasarkannya. Pembesaran dilakukan agar kepiting mencapai ukuran jual yang lebih sesuai dengan permintaan pasar.
"Hasil tangkapan yang kecil-kecil dan bertelur itu tidak bisa dijual karenanya nelayan perlu melakukan pembesaran dulu supaya nilai jualnya tinggi," tambahnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...
Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

Kabid Perikanan Tangkap Diskan PPU, Nani Adriana. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Hasil tangkapan kepiting nelayan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencapai 67,1 ton hingga Triwulan II 2026. Produksi tersebut terdiri dari 34.719 Kg kepiting bakau dan 32.392 Kg rajungan.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan PPU, Nani Adriana, mengatakan kedua komoditas tersebut memiliki wilayah tangkapan berbeda sesuai karakter habitatnya. Rajungan banyak dicari di kawasan perairan laut dan karang, sedangkan kepiting bakau hidup di kawasan mangrove.
"Rajungan biasanya dicari di kawasan karang, seperti pesisir Tanjung Jumlai. Kalau kepiting bakau banyak di kawasan mangrove, termasuk pesisir Pantai Lango, Gersik, dan Mentawir," jelas Nani, Jumat (9/10/2026).
Selain wilayah pesisir Teluk Balikpapan, kawasan mangrove di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, juga menyimpan potensi kepiting bakau. Nelayan umumnya menggunakan bubu atau perangkap berumpan untuk menangkap komoditas tersebut.
Hasil tangkapan kepiting PPU sebagian besar dipasarkan ke luar daerah, terutama untuk kepiting berukuran besar. Sebagian lainnya dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Nani mengatakan permintaan pasar turut memengaruhi harga jual kepiting. Saat Tahun Baru Imlek, harga komoditas ini bisa mencapai Rp200 ribu per kilogram.
"Momen Tahun Baru Imlek tuh permintaannya tinggi harga jual melejit," katanya.
Nani mengatakan, nelayan di sejumlah wilayah juga membesarkan kepiting berukuran kecil di tambak sebelum memasarkannya. Pembesaran dilakukan agar kepiting mencapai ukuran jual yang lebih sesuai dengan permintaan pasar.
"Hasil tangkapan yang kecil-kecil dan bertelur itu tidak bisa dijual karenanya nelayan perlu melakukan pembesaran dulu supaya nilai jualnya tinggi," tambahnya. (Adv)
(Sf/Lo)