Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Disbudpar PPU Kucurkan Rp2 Miliar untuk Revitalisasi Ekowisata Mangrove

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Buniyamin
    02 November 2024 pukul 19:46 WITA

    Ekowisata mangrove yang terletak di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara.(Foto : Agus Saputra/Seputarfakta.com)

    Penajam - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Penajam Paser Utara (PPU) mengalokasikan Rp2 miliar di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Murni 2024 untuk merevitalisasi ekowisata mangrove di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Penajam.

    Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Disbudpar PPU, Julizar Rakhman mengatakan pembenahan ini dilakukan untuk menghidupkan kembali ekowisata mangrove yang dulunya sempat terbengkalai akibat kurangnya perhatian.

    “Ekowisata mangrove itu mulai terbengkalai sejak 2017 sampai 2020 lalu. Ada beberapa pondasi kayu sudah terlihat rapuh dan rusak,” ucap Julizar, Sabtu (2/11/2024).

    Padahal tahun sebelumnya, para wisatawan yang mengunjungi ekowisata itu terbilang cukup banyak. Bahkan sampai memadati berbagai sudut tempat di kawasan tersebut.

    Untuk mengembalikan kondisi ekowisata itu, pihaknya pun memastikan revitalisasi kawasan ekowisata mangrove segera terselesaikan pada Desember 2024 mendatang.

    “Untuk progress sudah mencapai sekitar 60 persen, meskipun waktu pengerjaannya masih tersisa satu bulan lagi, tetapi kami optimis dan akan terus mengebut agar rampung sesuai dengan apa yang kita targetkan hingga akhir 2024,” ungkapnya.

    Selain itu, tempat ini juga kerap dijadikan sebagai wadah edukasi bagi para pengunjung, khususnya pelajar dan anak-anak. Di mana pada area ekosistem mangrove, di sekelilingnya juga ditumbuhi berbagai jenis pepohonan, seperti pohon Ketapang, api-api jambu, bakau hitam, perepat putih dan api-api bulu, serta dihuni oleh satwa liar seperti burung raja udang, bahkan ditemukan juga elang bondol yang merupakan satwa liar yang dilindungi.

    “Dengan mengunjungi ekowisata mangrove, para pengunjung setidaknya bisa meraih pengetahuan terhadap tumbuhan dan satwa liar dengan melihat penjelasan di papan edukasi yang dipasang di beberapa titik jalan di area itu,” jelasnya.

    Ia berharap selama pengerjaan di tempat tersebut, tidak muncul kendala ataupun gangguan yang bisa menghambat proses pembenahan. “Semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (adv)

    (Sf/By)

    Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Disbudpar PPU Kucurkan Rp2 Miliar untuk Revitalisasi Ekowisata Mangrove

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Buniyamin
    02 November 2024 pukul 19:46 WITA

    Ekowisata mangrove yang terletak di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara.(Foto : Agus Saputra/Seputarfakta.com)

    Penajam - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Penajam Paser Utara (PPU) mengalokasikan Rp2 miliar di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Murni 2024 untuk merevitalisasi ekowisata mangrove di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Penajam.

    Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Disbudpar PPU, Julizar Rakhman mengatakan pembenahan ini dilakukan untuk menghidupkan kembali ekowisata mangrove yang dulunya sempat terbengkalai akibat kurangnya perhatian.

    “Ekowisata mangrove itu mulai terbengkalai sejak 2017 sampai 2020 lalu. Ada beberapa pondasi kayu sudah terlihat rapuh dan rusak,” ucap Julizar, Sabtu (2/11/2024).

    Padahal tahun sebelumnya, para wisatawan yang mengunjungi ekowisata itu terbilang cukup banyak. Bahkan sampai memadati berbagai sudut tempat di kawasan tersebut.

    Untuk mengembalikan kondisi ekowisata itu, pihaknya pun memastikan revitalisasi kawasan ekowisata mangrove segera terselesaikan pada Desember 2024 mendatang.

    “Untuk progress sudah mencapai sekitar 60 persen, meskipun waktu pengerjaannya masih tersisa satu bulan lagi, tetapi kami optimis dan akan terus mengebut agar rampung sesuai dengan apa yang kita targetkan hingga akhir 2024,” ungkapnya.

    Selain itu, tempat ini juga kerap dijadikan sebagai wadah edukasi bagi para pengunjung, khususnya pelajar dan anak-anak. Di mana pada area ekosistem mangrove, di sekelilingnya juga ditumbuhi berbagai jenis pepohonan, seperti pohon Ketapang, api-api jambu, bakau hitam, perepat putih dan api-api bulu, serta dihuni oleh satwa liar seperti burung raja udang, bahkan ditemukan juga elang bondol yang merupakan satwa liar yang dilindungi.

    “Dengan mengunjungi ekowisata mangrove, para pengunjung setidaknya bisa meraih pengetahuan terhadap tumbuhan dan satwa liar dengan melihat penjelasan di papan edukasi yang dipasang di beberapa titik jalan di area itu,” jelasnya.

    Ia berharap selama pengerjaan di tempat tersebut, tidak muncul kendala ataupun gangguan yang bisa menghambat proses pembenahan. “Semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (adv)

    (Sf/By)