Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    DisKUKMPerindag PPU Persiapkan Kerajinan dari Sabut Kelapa untuk Diekspor ke China

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Buniyamin
    03 September 2024 pukul 14:08 WITA

    Kabid Pendistribusian DisKUKMPerindag PPU, Syamsul Adha.(Istimewa)

    Penajam - Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Penajam Paser Utara (PPU) tengah mempersiapkan produk kerajinan yang terbuat dari bahan sabut kelapa untuk diekspor ke negara tirai bambu, China.

    Persiapan ini sedang dilakukan adalah pengadaan satu unit alat pengolahan dan penguraian sabut kelapa untuk memanfaatkan hasil alam yang melimpah di Kelurahan Tanjung Tengah, Kecamatan Penajam, PPU.

    "Untuk menghasilkan produk bernilai tinggi dari bahan sabut kelapa tentunya perlu alat yang bisa mengurai bahan itu, sudah kami lakukan pemesanan,” ucap Kepala Bidang (Kabid) Pendistribusian DisKUKMPerindag PPU, Syamsul Adha, Selasa (3/9/2024).

    Syamsul mengaku meski hanya satu unit mesin, tetapi pada mesin itu terbilang cukup lengkap karena sudah memiliki lima komponen, mulai dari proses penggilingan hingga proses finishing. Untuk menghadirkan mesin itu, setidaknya memerlukan anggaran sekitar Rp500 juta.

    Lanjut dia, produk kerajinan sabut kelapa cukup banyak diminati orang, bahkan memiliki potensi besar untuk diekspor ke pasar internasional karena termasuk produk ramah lingkungan. “Inovasi pengolahan sabut kelapa menghasilkan produk dengan nilai tambah yang tinggi, bahkan memiliki daya tarik di pasar internasional,” ungkap Syamsul.

    Pemanfaatan sabut kelapa sebagai bahan utama pembuatan produk kerajinan ini bisa diolah menjadi tas, sepatu, tali sabut, baju dan lainnya.

    Tak hanya sabut kelapa yang memiliki nilai, menilik hasil alam lainnya banyak yang dapat dijadikan sebagai kerajinan, seperti rotan yang dapat diolah menjadi berbagai jenis produk. Di antaranya meja, kursi, lemari, ayunan, lampu hias, vas bunga, tas, piring dan lainnya.

    “Untuk memaksimalkan hasil produk yang dibuat, kami harus lebih banyak belajar lagi dan meminta masukan kepada kementrian agar bahan hasil alam itu bernilai tinggi,” jelas Syamsul.

    Pihaknya juga akan membantu dan mendorong produk hasil tangan masyarakat setempat untuk bisa diekspor ke luar negeri. Bantuan dan dorongan itu berupa pelatihan, pendampingan hingga pemberian satu unit mesin agar produk lokal bisa dikenal secara luas, baik itu di luar daerah maupun hingga ke internasional.

    “Kami juga berupaya meningkatkan nilai tambah produk setempat dan dalam bimbingan yang dilakukan oleh kami setidaknya dapat memberikan dampak positif serta bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain yang membutuhkan,” pungkasnya. (Adv)

    (Sf/By)

    Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    DisKUKMPerindag PPU Persiapkan Kerajinan dari Sabut Kelapa untuk Diekspor ke China

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Buniyamin
    03 September 2024 pukul 14:08 WITA

    Kabid Pendistribusian DisKUKMPerindag PPU, Syamsul Adha.(Istimewa)

    Penajam - Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Penajam Paser Utara (PPU) tengah mempersiapkan produk kerajinan yang terbuat dari bahan sabut kelapa untuk diekspor ke negara tirai bambu, China.

    Persiapan ini sedang dilakukan adalah pengadaan satu unit alat pengolahan dan penguraian sabut kelapa untuk memanfaatkan hasil alam yang melimpah di Kelurahan Tanjung Tengah, Kecamatan Penajam, PPU.

    "Untuk menghasilkan produk bernilai tinggi dari bahan sabut kelapa tentunya perlu alat yang bisa mengurai bahan itu, sudah kami lakukan pemesanan,” ucap Kepala Bidang (Kabid) Pendistribusian DisKUKMPerindag PPU, Syamsul Adha, Selasa (3/9/2024).

    Syamsul mengaku meski hanya satu unit mesin, tetapi pada mesin itu terbilang cukup lengkap karena sudah memiliki lima komponen, mulai dari proses penggilingan hingga proses finishing. Untuk menghadirkan mesin itu, setidaknya memerlukan anggaran sekitar Rp500 juta.

    Lanjut dia, produk kerajinan sabut kelapa cukup banyak diminati orang, bahkan memiliki potensi besar untuk diekspor ke pasar internasional karena termasuk produk ramah lingkungan. “Inovasi pengolahan sabut kelapa menghasilkan produk dengan nilai tambah yang tinggi, bahkan memiliki daya tarik di pasar internasional,” ungkap Syamsul.

    Pemanfaatan sabut kelapa sebagai bahan utama pembuatan produk kerajinan ini bisa diolah menjadi tas, sepatu, tali sabut, baju dan lainnya.

    Tak hanya sabut kelapa yang memiliki nilai, menilik hasil alam lainnya banyak yang dapat dijadikan sebagai kerajinan, seperti rotan yang dapat diolah menjadi berbagai jenis produk. Di antaranya meja, kursi, lemari, ayunan, lampu hias, vas bunga, tas, piring dan lainnya.

    “Untuk memaksimalkan hasil produk yang dibuat, kami harus lebih banyak belajar lagi dan meminta masukan kepada kementrian agar bahan hasil alam itu bernilai tinggi,” jelas Syamsul.

    Pihaknya juga akan membantu dan mendorong produk hasil tangan masyarakat setempat untuk bisa diekspor ke luar negeri. Bantuan dan dorongan itu berupa pelatihan, pendampingan hingga pemberian satu unit mesin agar produk lokal bisa dikenal secara luas, baik itu di luar daerah maupun hingga ke internasional.

    “Kami juga berupaya meningkatkan nilai tambah produk setempat dan dalam bimbingan yang dilakukan oleh kami setidaknya dapat memberikan dampak positif serta bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain yang membutuhkan,” pungkasnya. (Adv)

    (Sf/By)