Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    BPBD PPU Kerahkan Penanganan Ekstra untuk Padamkan Karhutla

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    17 September 2026 pukul 14:05 WITA

    Pantauan udara melalui kamera drone karhutla di Tengin Baru, Sepaku, PPU. (Dok. BPBD PPU)

    Penajam - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU mencatat 145 kejadian sejak awal 2026 hingga 16 September, dengan total lahan terbakar mencapai 282,68 hektare.

    Kecamatan Penajam menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 79 kasus dengan luas terbakar 162,32 hektare. Disusul Babulu 37 kejadian seluas 42,80 hektare, Sepaku 18 kejadian seluas 54,28 hektare dan Waru 11 kejadian dengan luasan 23,28 hektare.

    Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan penanganan karhutla tahun ini membutuhkan perhatian lebih dibanding periode El Nino pada 2015, 2019 dan 2023. Sebab, titik kebakaran tidak lagi terkonsentrasi di lokasi yang selama ini menjadi langganan.

    "Meskipun secara data Kecamatan Penajam masih menduduki urutan pertama intensitas kejadian dan luasan, tahun ini kebakaran juga meluas ke Sepaku, Waru dan Babulu, termasuk wilayah yang dekat dengan perbatasan," jelas Nurlaila, Kamis (17/9/2026).

    Jenis lahan yang terbakar juga beragam, mulai dari lahan mineral, gambut, semak belukar hingga area perkebunan sawit. Sejauh ini, petugas masih mampu mengendalikan api sebelum menjalar ke permukiman warga.

    Untuk mempercepat pemadaman, BPBD telah memetakan titik sumber air yang dapat digunakan petugas. Pada lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam, air ditransfer menggunakan fleksibel tank dari titik terakhir yang bisa dicapai mobil pemadam.

    "Lokasin yang sulit dijangkau, kita biasa gunakan teknik fleksibel tank. Air ditransfer dari lokasi terakhir mobil pemadam bisa masuk," ujarnya.

    Kekuatan personel disesuaikan dengan kondisi di lapangan, terutama luas area terbakar dan tingkat kesulitan pengendalian api.

    BPBD juga mendapat dukungan dari masyarakat dalam penanganan karhutla. Relawan berasal dari warga, Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

    "Relawan ada saja, dari warga, KTPA, MPA," tambah Nurlaila.

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    BPBD PPU Kerahkan Penanganan Ekstra untuk Padamkan Karhutla

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    17 September 2026 pukul 14:05 WITA

    Pantauan udara melalui kamera drone karhutla di Tengin Baru, Sepaku, PPU. (Dok. BPBD PPU)

    Penajam - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU mencatat 145 kejadian sejak awal 2026 hingga 16 September, dengan total lahan terbakar mencapai 282,68 hektare.

    Kecamatan Penajam menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 79 kasus dengan luas terbakar 162,32 hektare. Disusul Babulu 37 kejadian seluas 42,80 hektare, Sepaku 18 kejadian seluas 54,28 hektare dan Waru 11 kejadian dengan luasan 23,28 hektare.

    Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan penanganan karhutla tahun ini membutuhkan perhatian lebih dibanding periode El Nino pada 2015, 2019 dan 2023. Sebab, titik kebakaran tidak lagi terkonsentrasi di lokasi yang selama ini menjadi langganan.

    "Meskipun secara data Kecamatan Penajam masih menduduki urutan pertama intensitas kejadian dan luasan, tahun ini kebakaran juga meluas ke Sepaku, Waru dan Babulu, termasuk wilayah yang dekat dengan perbatasan," jelas Nurlaila, Kamis (17/9/2026).

    Jenis lahan yang terbakar juga beragam, mulai dari lahan mineral, gambut, semak belukar hingga area perkebunan sawit. Sejauh ini, petugas masih mampu mengendalikan api sebelum menjalar ke permukiman warga.

    Untuk mempercepat pemadaman, BPBD telah memetakan titik sumber air yang dapat digunakan petugas. Pada lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam, air ditransfer menggunakan fleksibel tank dari titik terakhir yang bisa dicapai mobil pemadam.

    "Lokasin yang sulit dijangkau, kita biasa gunakan teknik fleksibel tank. Air ditransfer dari lokasi terakhir mobil pemadam bisa masuk," ujarnya.

    Kekuatan personel disesuaikan dengan kondisi di lapangan, terutama luas area terbakar dan tingkat kesulitan pengendalian api.

    BPBD juga mendapat dukungan dari masyarakat dalam penanganan karhutla. Relawan berasal dari warga, Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

    "Relawan ada saja, dari warga, KTPA, MPA," tambah Nurlaila.

    (Sf/Lo)