Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Angka Anak Putus Sekolah di PPU Tinggi, Disdikpora Akui Sulit Identifikasi Masalahnya

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Marully Z
    19 Oktober 2024 pukul 14:49 WITA

    Ilustrasi pemenuhan air bersih untuk warga ( foto: SolusiPeduli.org)

    Penajam – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Penajam Paser Utara (PPU) mencatat sebanyak ada 145 anak harus putus sekolah dan hanya menempuh pendidikan sampai jenjang Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja.

    Kepala Disdikpora PPU, Andi Singkerru mengungkapkan, angka tersebut berdasarkan data yang dihimpun melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang tercatat dari Januari hingga Oktober 2024.

    Dengan rincian, anak putus sekolah di tingkat SD berjumlah 86 kasus dan SMP terdapat 59 kasus. “Angka itu terbilang cukup tinggi, apalagi yang putus sekolah ini merupakan anak-anak yang sepatutnya harus menerima pendidikan,” ucap Andi, Jumat (18/10/2024).

    Meski sudah mengetahui jumlah putus sekolah di wilayah Benuo Taka, Disdikpora PPU kesulitan mengidentifikasi latar belakang anak putus sekolah tersebut, seperti alamat, umur, alasan anak putus sekolah dan lainnya.

    “Kami menerima data tersebut dari pemerintah provinsi yang hanya melampirkan data jumlahnya saja. Sedangkan alamat, latar belakang serta alasan tidak turut dicantumkan saat kita menerima data itu, sehingga kami cukup kesulitan untuk menindaklanjuti permasalahan ini,” ungkap Andi.

    Kata dia, mengetahui alasan seseorang anak alasan putus sekolah merupakan informasi yang sangat penting. Sebab dengan mengetahui dibalik alasannya, Disdikpora PPU bisa mencarikan dan menemukan solusi atas permasalahan ini.

    Sebagai contoh, penyebab berhenti melanjutkan pendidikan dikarenakan menjadi sasaran dari tindakan Bullying (perundungan), maka solusinya dengan menghadirkan tenaga pendidik sebagai penengah dan memberikan sebuah peringatan kepada pelaku.

    “Semisalnya atas kejadian tersebut membuat mereka trauma dan memutuskan untuk tidak bersekolah, maka ada alternatif lain seperti mengambil paket dan mereka tak perlu khawatir terkait ijazahnya karena juga diakui oleh negara,” jelas Andi.

    Andi mengaku sangat prihatin setelah mengetahui jumlah anak putus sekolah di PPU. Sebab, anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang patut mendapatkan perhatian dari berbagai pihak.

    Untuk mengurangi dan mencegah bertambahnya anak putus sekolah, ia pun mengajak seluruh elemen untuk saling bersinergi, baik itu pemerhati pendidikan mulai dari keluarga dan stakeholder. Ini bertujuan agar visi Indonesia bisa tercapai, seperti menciptakan SDM yang unggul dan menuju Indonesia Emas 2045 mendatang.

    “Saya harap pendataan secara menyeluruh harus segera terselesaikan sehingga langsung kita tindaklanjuti terkait permasalahan anak putus sekolah ini, karena ini menyangkut masa depan generasi penerus bangsa yang dipersiapkan untuk menyangga kehadiran IKN di PPU,” tandasnya. (adv)

    (Sf/By)

    Diskominfo Kabupaten Penajam Paser Utara

    Angka Anak Putus Sekolah di PPU Tinggi, Disdikpora Akui Sulit Identifikasi Masalahnya

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Marully Z
    19 Oktober 2024 pukul 14:49 WITA

    Ilustrasi pemenuhan air bersih untuk warga ( foto: SolusiPeduli.org)

    Penajam – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Penajam Paser Utara (PPU) mencatat sebanyak ada 145 anak harus putus sekolah dan hanya menempuh pendidikan sampai jenjang Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja.

    Kepala Disdikpora PPU, Andi Singkerru mengungkapkan, angka tersebut berdasarkan data yang dihimpun melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang tercatat dari Januari hingga Oktober 2024.

    Dengan rincian, anak putus sekolah di tingkat SD berjumlah 86 kasus dan SMP terdapat 59 kasus. “Angka itu terbilang cukup tinggi, apalagi yang putus sekolah ini merupakan anak-anak yang sepatutnya harus menerima pendidikan,” ucap Andi, Jumat (18/10/2024).

    Meski sudah mengetahui jumlah putus sekolah di wilayah Benuo Taka, Disdikpora PPU kesulitan mengidentifikasi latar belakang anak putus sekolah tersebut, seperti alamat, umur, alasan anak putus sekolah dan lainnya.

    “Kami menerima data tersebut dari pemerintah provinsi yang hanya melampirkan data jumlahnya saja. Sedangkan alamat, latar belakang serta alasan tidak turut dicantumkan saat kita menerima data itu, sehingga kami cukup kesulitan untuk menindaklanjuti permasalahan ini,” ungkap Andi.

    Kata dia, mengetahui alasan seseorang anak alasan putus sekolah merupakan informasi yang sangat penting. Sebab dengan mengetahui dibalik alasannya, Disdikpora PPU bisa mencarikan dan menemukan solusi atas permasalahan ini.

    Sebagai contoh, penyebab berhenti melanjutkan pendidikan dikarenakan menjadi sasaran dari tindakan Bullying (perundungan), maka solusinya dengan menghadirkan tenaga pendidik sebagai penengah dan memberikan sebuah peringatan kepada pelaku.

    “Semisalnya atas kejadian tersebut membuat mereka trauma dan memutuskan untuk tidak bersekolah, maka ada alternatif lain seperti mengambil paket dan mereka tak perlu khawatir terkait ijazahnya karena juga diakui oleh negara,” jelas Andi.

    Andi mengaku sangat prihatin setelah mengetahui jumlah anak putus sekolah di PPU. Sebab, anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang patut mendapatkan perhatian dari berbagai pihak.

    Untuk mengurangi dan mencegah bertambahnya anak putus sekolah, ia pun mengajak seluruh elemen untuk saling bersinergi, baik itu pemerhati pendidikan mulai dari keluarga dan stakeholder. Ini bertujuan agar visi Indonesia bisa tercapai, seperti menciptakan SDM yang unggul dan menuju Indonesia Emas 2045 mendatang.

    “Saya harap pendataan secara menyeluruh harus segera terselesaikan sehingga langsung kita tindaklanjuti terkait permasalahan anak putus sekolah ini, karena ini menyangkut masa depan generasi penerus bangsa yang dipersiapkan untuk menyangga kehadiran IKN di PPU,” tandasnya. (adv)

    (Sf/By)