Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Timur
Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda.(foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) merilis perkembangan data Anak Tidak Sekolah (ATS) per 14 November 2025.
Berdasarkan laporan terbaru, tercatat 10.546 anak masuk kategori tidak sekolah di seluruh wilayah Kutim. Dari jumlah tersebut, 5.497 anak telah berhasil diverifikasi oleh tim Dinas Pendidikan.
Sementara 3.490 anak yang sebelumnya berstatus putus sekolah kini telah kembali bersekolah melalui jalur pendidikan formal maupun program kesetaraan.
“Sisanya masih menunggu proses verifikasi lanjutan yang melibatkan pemerintah desa dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil),” ujar Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda.
Ia menambahkan, angka ATS yang cukup tinggi dipengaruhi oleh sejumlah ketidaksesuaian data, terutama antara data lapangan, Dapodik, EMIS, dan data Pusat Data dan Statistik Pendidikan (Pusdatin).
Menurutnya, beberapa siswa yang telah bersekolah atau melanjutkan pendidikan di luar daerah tidak tercatat di Dapodik, sehingga tetap masuk kategori ATS di sistem Pusdatin.
Selain itu, Pusdatin menarik data anak berdasarkan informasi pada kartu keluarga (KK). Banyak keluarga belum memperbarui status pendidikan anak di KK sehingga menimbulkan data ATS yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Irma menegaskan bahwa data ATS di Kutim bersifat fluktuatif, diperbarui setiap hari, dan sangat bergantung pada validitas data administrasi kependudukan maupun pendidikan.
“Kami memastikan verifikasi terus berjalan agar angka ATS benar-benar menggambarkan kondisi nyata di lapangan. Kolaborasi semua pihak sangat diperlukan untuk memperbaiki kualitas data,” pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Timur

Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda.(foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) merilis perkembangan data Anak Tidak Sekolah (ATS) per 14 November 2025.
Berdasarkan laporan terbaru, tercatat 10.546 anak masuk kategori tidak sekolah di seluruh wilayah Kutim. Dari jumlah tersebut, 5.497 anak telah berhasil diverifikasi oleh tim Dinas Pendidikan.
Sementara 3.490 anak yang sebelumnya berstatus putus sekolah kini telah kembali bersekolah melalui jalur pendidikan formal maupun program kesetaraan.
“Sisanya masih menunggu proses verifikasi lanjutan yang melibatkan pemerintah desa dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil),” ujar Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda.
Ia menambahkan, angka ATS yang cukup tinggi dipengaruhi oleh sejumlah ketidaksesuaian data, terutama antara data lapangan, Dapodik, EMIS, dan data Pusat Data dan Statistik Pendidikan (Pusdatin).
Menurutnya, beberapa siswa yang telah bersekolah atau melanjutkan pendidikan di luar daerah tidak tercatat di Dapodik, sehingga tetap masuk kategori ATS di sistem Pusdatin.
Selain itu, Pusdatin menarik data anak berdasarkan informasi pada kartu keluarga (KK). Banyak keluarga belum memperbarui status pendidikan anak di KK sehingga menimbulkan data ATS yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Irma menegaskan bahwa data ATS di Kutim bersifat fluktuatif, diperbarui setiap hari, dan sangat bergantung pada validitas data administrasi kependudukan maupun pendidikan.
“Kami memastikan verifikasi terus berjalan agar angka ATS benar-benar menggambarkan kondisi nyata di lapangan. Kolaborasi semua pihak sangat diperlukan untuk memperbaiki kualitas data,” pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)