Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Timur
Dewan Pengawas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Dewi Dohi. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) tengah menyiapkan konsep pengelolaan sampah terpadu yang mencakup hulu, tengah, dan hilir.
Sistem ini dirancang untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 70 persen.
Pejabat Pengawas DLH Kutim, Dewi Dohi, menjelaskan di tahap hulu, DLH akan melakukan pendampingan terhadap 20 RT binaan agar dapat mengelola sampah rumah tangga secara mandiri.
“Kita akan dampingi secara masif, 20 RT ini betul-betul settle untuk bisa mengelola limbah domestik secara mandiri,” ujar Dewi.
Di tahap tengah, DLH Kutim telah memiliki Tempat Pengolahan Sementara (TPS) 3R di belakang Pasar Induk. Dewi menjelaskan, fasilitas ini belum optimal karena keterbatasan sarana prasarana.
Ke depan, lokasi ini akan dimaksimalkan sebagai pengelolaan organik khusus untuk Pasar Induk, dengan target pengurangan 60–70 persen sampah yang masuk ke TPA.
“Target kita ke depan itu adalah pengurangan 60–70 persen sampah masuk ke TPA. Sampah organik mendominasi sekitar 60 persen dari total sampah yang dihasilkan, sehingga pengolahan kompos, cacing, dan magot menjadi fokus utama kami,” jelas Dewi.
Sementara untuk tahap hilir, TPA Kutim sudah menuju sistem controlled landfill. Sampah yang masuk diratakan, dipadatkan, dan ditutup dengan tanah setinggi 20 cm, berbeda dengan sebelumnya yang berupa penumpukan sampah terbuka.
"Kalau dulu kan sistemnya gunung-gunung gunung sampah kayak gitu. Kalau sekarang Sampah yang masuk kita ratakan kita padatkan," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Timur

Dewan Pengawas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Dewi Dohi. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) tengah menyiapkan konsep pengelolaan sampah terpadu yang mencakup hulu, tengah, dan hilir.
Sistem ini dirancang untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 70 persen.
Pejabat Pengawas DLH Kutim, Dewi Dohi, menjelaskan di tahap hulu, DLH akan melakukan pendampingan terhadap 20 RT binaan agar dapat mengelola sampah rumah tangga secara mandiri.
“Kita akan dampingi secara masif, 20 RT ini betul-betul settle untuk bisa mengelola limbah domestik secara mandiri,” ujar Dewi.
Di tahap tengah, DLH Kutim telah memiliki Tempat Pengolahan Sementara (TPS) 3R di belakang Pasar Induk. Dewi menjelaskan, fasilitas ini belum optimal karena keterbatasan sarana prasarana.
Ke depan, lokasi ini akan dimaksimalkan sebagai pengelolaan organik khusus untuk Pasar Induk, dengan target pengurangan 60–70 persen sampah yang masuk ke TPA.
“Target kita ke depan itu adalah pengurangan 60–70 persen sampah masuk ke TPA. Sampah organik mendominasi sekitar 60 persen dari total sampah yang dihasilkan, sehingga pengolahan kompos, cacing, dan magot menjadi fokus utama kami,” jelas Dewi.
Sementara untuk tahap hilir, TPA Kutim sudah menuju sistem controlled landfill. Sampah yang masuk diratakan, dipadatkan, dan ditutup dengan tanah setinggi 20 cm, berbeda dengan sebelumnya yang berupa penumpukan sampah terbuka.
"Kalau dulu kan sistemnya gunung-gunung gunung sampah kayak gitu. Kalau sekarang Sampah yang masuk kita ratakan kita padatkan," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)