Diskominfo Kabupaten Kutai Timur

    Diskominfo Kabupaten Kutai Timur

    Menuju Sekolah Rujukan Google, 957 Guru dan Tenaga Kependidikan Kutim Ikuti Pelatihan Digital

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta — Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi transformasi digital terus dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim). 

    Hingga tahap kedua pelaksanaan, tercatat hampir 957 tenaga pendidik dan kependidikan telah mengikuti pelatihan Google Certified sebagai bagian dari persiapan menuju Sekolah Rujukan Google.

    Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda, menyampaikan pelatihan ini merupakan syarat penting untuk mendukung proses akreditasi digital bagi 35 sekolah kandidat.

    “Untuk tahap kedua, yang sebelumnya sekitar 100 lebih peserta, kini sudah hampir 957 tenaga pendidik dan kependidikan yang ikut. Totalnya sudah lumayan untuk 35 sekolah itu,” ujar Irma.

    Ia menjelaskan bahwa seluruh pendidik wajib mengikuti Level Zero (L0) Certified Google, sementara minimal 30 persen dari mereka harus lulus Level 1 (L1) sebagai syarat utama ditetapkannya sekolah sebagai Sekolah Rujukan Google.

    Selain kompetensi, kebutuhan perangkat juga menjadi perhatian. Setiap sekolah wajib menyediakan minimal 60 Chromebook sebagai fasilitas pembelajaran berbasis digital.

    “Tantangan terbesar ada pada peningkatan kapasitas SDM. Guru harus melek digital, mulai dari Google Form, Google Sheet, Google Cloud, hingga fitur-fitur Workspace lainnya. Bahkan sudah ada pengembangan kecerdasan buatan dari Google yang harus dipahami,” jelasnya.

    Ia mengatakan, digitalisasi menjadi kebutuhan mendesak mengingat peserta didik akan menghadapi era generasi emas dan bonus demografi pada 2035. 

    “Bayangkan jika kita tidak mulai membekali peserta didik dari sekarang, tentu generasi kita bisa tertinggal dari daerah lain yang lebih siap,” katanya.

    Irma juga menegaskan bahwa 100 persen guru dan siswa diwajibkan memiliki akun belajar untuk mendukung pembelajaran digital yang terintegrasi. Hal ini penting untuk menunjang implementasi kurikulum terbaru yang menekankan deep learning atau pembelajaran mendalam.

    “Guru harus bisa menyajikan materi secara interaktif dan inovatif supaya tidak membosankan. Karena dalam pembelajaran mendalam, peserta didik harus benar-benar memahami konsep, bukan sekadar menghafal,” pungkasnya.

    Ia berharap melalui peningkatan kompetensi ini, proses pembelajaran di Kutim berjalan lebih kreatif, interaktif, dan sesuai kebutuhan zaman. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Kutai Timur

    Diskominfo Kabupaten Kutai Timur

    Menuju Sekolah Rujukan Google, 957 Guru dan Tenaga Kependidikan Kutim Ikuti Pelatihan Digital

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta — Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi transformasi digital terus dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim). 

    Hingga tahap kedua pelaksanaan, tercatat hampir 957 tenaga pendidik dan kependidikan telah mengikuti pelatihan Google Certified sebagai bagian dari persiapan menuju Sekolah Rujukan Google.

    Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda, menyampaikan pelatihan ini merupakan syarat penting untuk mendukung proses akreditasi digital bagi 35 sekolah kandidat.

    “Untuk tahap kedua, yang sebelumnya sekitar 100 lebih peserta, kini sudah hampir 957 tenaga pendidik dan kependidikan yang ikut. Totalnya sudah lumayan untuk 35 sekolah itu,” ujar Irma.

    Ia menjelaskan bahwa seluruh pendidik wajib mengikuti Level Zero (L0) Certified Google, sementara minimal 30 persen dari mereka harus lulus Level 1 (L1) sebagai syarat utama ditetapkannya sekolah sebagai Sekolah Rujukan Google.

    Selain kompetensi, kebutuhan perangkat juga menjadi perhatian. Setiap sekolah wajib menyediakan minimal 60 Chromebook sebagai fasilitas pembelajaran berbasis digital.

    “Tantangan terbesar ada pada peningkatan kapasitas SDM. Guru harus melek digital, mulai dari Google Form, Google Sheet, Google Cloud, hingga fitur-fitur Workspace lainnya. Bahkan sudah ada pengembangan kecerdasan buatan dari Google yang harus dipahami,” jelasnya.

    Ia mengatakan, digitalisasi menjadi kebutuhan mendesak mengingat peserta didik akan menghadapi era generasi emas dan bonus demografi pada 2035. 

    “Bayangkan jika kita tidak mulai membekali peserta didik dari sekarang, tentu generasi kita bisa tertinggal dari daerah lain yang lebih siap,” katanya.

    Irma juga menegaskan bahwa 100 persen guru dan siswa diwajibkan memiliki akun belajar untuk mendukung pembelajaran digital yang terintegrasi. Hal ini penting untuk menunjang implementasi kurikulum terbaru yang menekankan deep learning atau pembelajaran mendalam.

    “Guru harus bisa menyajikan materi secara interaktif dan inovatif supaya tidak membosankan. Karena dalam pembelajaran mendalam, peserta didik harus benar-benar memahami konsep, bukan sekadar menghafal,” pungkasnya.

    Ia berharap melalui peningkatan kompetensi ini, proses pembelajaran di Kutim berjalan lebih kreatif, interaktif, dan sesuai kebutuhan zaman. (Adv)

    (Sf/Rs)