Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Timur
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi. (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)
Sangatta - Kecamatan Sangatta Utara menjadi wilayah dengan jumlah keluarga berisiko stunting tertinggi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi, menjelaskan meskipun data stunting anak berada di Dinas Kesehatan, pendataan keluarga berisiko menjadi langkah awal penting untuk penanganan dan pencegahan stunting.
“Kalau kita bicara stunting, data lokasinya memang ada di Dinas Kesehatan. Namun untuk keluarga berisiko, yang paling banyak berada di Kecamatan Sangatta Utara, sekitar 3.686 keluarga,” ujar Junaidi.
Selain Sangatta Utara, Kecamatan Bengalon juga memiliki banyak keluarga berisiko. Menurutnya, hal ini tak lepas dari dinamika kependudukan di wilayah tersebut.
“Kenapa berisiko? Ya karena banyaknya pendatang. Di mana ada gula, di situ ada semut. Orang datang ke tempat kita karena peluang kerja dan ekonomi,” jelasnya.
Junaidi menekankan pentingnya pendataan dan pelayanan tanpa diskriminasi terhadap seluruh penduduk, termasuk pendatang yang sudah menetap di Kutim.
“Kalau seseorang sudah berdomisili di sini selama enam bulan, tidak boleh kita abaikan. Walaupun bukan warga asli Kutim, tetap harus didata dan dilayani. Posyandu harus tetap memberikan pelayanan kepada semua warga,” tegasnya.
Program pendataan dan layanan posyandu ini menjadi langkah strategis untuk memastikan semua anak dan keluarga berisiko mendapatkan perhatian.
Dengan kerja sama semua pihak, diharapkan angka stunting di Kutim dapat terus menurun, sekaligus meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Timur

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi. (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)
Sangatta - Kecamatan Sangatta Utara menjadi wilayah dengan jumlah keluarga berisiko stunting tertinggi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi, menjelaskan meskipun data stunting anak berada di Dinas Kesehatan, pendataan keluarga berisiko menjadi langkah awal penting untuk penanganan dan pencegahan stunting.
“Kalau kita bicara stunting, data lokasinya memang ada di Dinas Kesehatan. Namun untuk keluarga berisiko, yang paling banyak berada di Kecamatan Sangatta Utara, sekitar 3.686 keluarga,” ujar Junaidi.
Selain Sangatta Utara, Kecamatan Bengalon juga memiliki banyak keluarga berisiko. Menurutnya, hal ini tak lepas dari dinamika kependudukan di wilayah tersebut.
“Kenapa berisiko? Ya karena banyaknya pendatang. Di mana ada gula, di situ ada semut. Orang datang ke tempat kita karena peluang kerja dan ekonomi,” jelasnya.
Junaidi menekankan pentingnya pendataan dan pelayanan tanpa diskriminasi terhadap seluruh penduduk, termasuk pendatang yang sudah menetap di Kutim.
“Kalau seseorang sudah berdomisili di sini selama enam bulan, tidak boleh kita abaikan. Walaupun bukan warga asli Kutim, tetap harus didata dan dilayani. Posyandu harus tetap memberikan pelayanan kepada semua warga,” tegasnya.
Program pendataan dan layanan posyandu ini menjadi langkah strategis untuk memastikan semua anak dan keluarga berisiko mendapatkan perhatian.
Dengan kerja sama semua pihak, diharapkan angka stunting di Kutim dapat terus menurun, sekaligus meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang. (Adv)
(Sf/Rs)