Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Timur
Camat Karangan, Madnuh. (foto: lisda/seputarfakta.com)
Kutai Timur - Kecamatan Karangan di Kutai Timur (Kutim), yang dikenal sebagai penghasil kakao terbesar di Kalimantan Timur, menghadapi masalah besar dalam mengembangkan potensi ekonominya.
Akses jalan yang buruk menjadi hambatan utama dalam distribusi produk, termasuk kakao, yang memiliki permintaan tinggi, bahkan di pasar Eropa.
Camat Karangan, Madnuh, menyampaikan bahwa meskipun sudah ada laporan untuk perbaikan jalan, hingga kini belum ada tindakan nyata dari pemerintah.
"Kami sudah melapor, tapi aksi perbaikannya belum ada," kata Madnuh.
Menurut Madnuh, buruknya akses jalan menghambat hasil pertanian dan produk UMKM setempat untuk dipasarkan. Ia berharap pemerintah segera memperbaiki infrastruktur agar ekonomi Karangan tidak tertinggal.
"Kami ingin cepat berkembang, supaya tidak ketinggalan dari kecamatan lain," tambahnya.
Di tengah kendala tersebut, produk UMKM Karangan, termasuk keripik dan olahan kakao, terus berkembang. Kakao Karangan bahkan sudah berhasil diproduksi menjadi coklat batangan dan permen coklat. "Kami sudah mulai buat batangan coklat, bentuknya sudah seperti quinoa super," kata Madnuh.
Saat ini, pabrik pengolahan kakao di Karangan masih kecil. Madnuh berharap dengan dukungan mesin dan perbaikan jalan, produk kakao Karangan bisa bersaing lebih luas, baik di pasar nasional maupun internasional.
ia menambahkan, demi mendukung pengembangan produk lokal, pemerintah desa telah membeli mesin pengolahan kakao dengan dana desa.
"Bupati juga janji untuk memberikan bantuan mesin tambahan agar kami bisa lebih cepat berkembang," pungkasnya.
Dengan perbaikan jalan dan fasilitas yang memadai, Madnuh yakin produk kakao Karangan bisa lebih dikenal dan memiliki peluang ekspor yang lebih besar ke luar negeri. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Timur

Camat Karangan, Madnuh. (foto: lisda/seputarfakta.com)
Kutai Timur - Kecamatan Karangan di Kutai Timur (Kutim), yang dikenal sebagai penghasil kakao terbesar di Kalimantan Timur, menghadapi masalah besar dalam mengembangkan potensi ekonominya.
Akses jalan yang buruk menjadi hambatan utama dalam distribusi produk, termasuk kakao, yang memiliki permintaan tinggi, bahkan di pasar Eropa.
Camat Karangan, Madnuh, menyampaikan bahwa meskipun sudah ada laporan untuk perbaikan jalan, hingga kini belum ada tindakan nyata dari pemerintah.
"Kami sudah melapor, tapi aksi perbaikannya belum ada," kata Madnuh.
Menurut Madnuh, buruknya akses jalan menghambat hasil pertanian dan produk UMKM setempat untuk dipasarkan. Ia berharap pemerintah segera memperbaiki infrastruktur agar ekonomi Karangan tidak tertinggal.
"Kami ingin cepat berkembang, supaya tidak ketinggalan dari kecamatan lain," tambahnya.
Di tengah kendala tersebut, produk UMKM Karangan, termasuk keripik dan olahan kakao, terus berkembang. Kakao Karangan bahkan sudah berhasil diproduksi menjadi coklat batangan dan permen coklat. "Kami sudah mulai buat batangan coklat, bentuknya sudah seperti quinoa super," kata Madnuh.
Saat ini, pabrik pengolahan kakao di Karangan masih kecil. Madnuh berharap dengan dukungan mesin dan perbaikan jalan, produk kakao Karangan bisa bersaing lebih luas, baik di pasar nasional maupun internasional.
ia menambahkan, demi mendukung pengembangan produk lokal, pemerintah desa telah membeli mesin pengolahan kakao dengan dana desa.
"Bupati juga janji untuk memberikan bantuan mesin tambahan agar kami bisa lebih cepat berkembang," pungkasnya.
Dengan perbaikan jalan dan fasilitas yang memadai, Madnuh yakin produk kakao Karangan bisa lebih dikenal dan memiliki peluang ekspor yang lebih besar ke luar negeri. (Adv)
(Sf/Rs)