Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Ratusan Penari Erau Terima Honor Rp1,4 Juta, Disdikbud Kukar Dorong Ekosistem Seni Berkelanjutan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Rusdianto
    03 Oktober 2026 pukul 10:27 WITA

    Ratusan penari Erau saat menerima honor dari Disdikbud Kukar (Dok: Produksi Tari Massal)

    Tenggarong - Sebanyak 350 penari yang tampil dalam pertunjukan kolosal Penjaga Tahta di Tepian Mahakam akhirnya menerima honor setelah menyelesaikan seluruh rangkaian persiapan hingga pementasan Erau Adat Kutai 2026.

    Honor tersebut diserahkan pada Jumat (2/10/2026) di Stadion Rondong Demang, Tenggarong.

    Setiap penari memperoleh Rp1,4 juta atas keterlibatan mereka dalam proses latihan dan pertunjukan.

    Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar), Heriansyah mengatakan pembayaran honor tersebut tidak semestinya dipandang hanya sebagai imbalan atas penampilan selama Erau.

    Menurutnya, keterlibatan penari dalam agenda kebudayaan daerah juga perlu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni yang mampu memberikan ruang berkarya sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku seni.

    “Ini tidak hanya sekadar tampil. Kegiatan ini harus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan para pelaku seni,” ujar Heriansyah.

    Ia menyebut keberlangsungan ekosistem seni membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, budayawan, pelaku usaha, pejabat hingga tokoh masyarakat dinilai memiliki peran masing-masing dalam menciptakan ruang bagi pelaku seni.

    Heriansyah yang juga merusak Ketua Panitia Erau 2026 turut mengapresiasi waktu dan tenaga yang dicurahkan para penari selama proses persiapan. 

    Ia menilai pengalaman mengikuti produksi berskala besar seperti Erau dapat menjadi bekal bagi para penari untuk terlibat dalam karya-karya berikutnya.

    “Banggalah adik-adikku seluruhnya yang telah berkontribusi, meluangkan waktunya, menyiapkan tenaganya dan berkonsentrasi selama proses latihan maupun saat penampilan,” katanya.

    Ia menyatakan Disdikbud Kukar akan terus mengarahkan program kebudayaan pada pengembangan pelaku seni. 

    Upaya tersebut menjadi bagian dari visi dan misi Kukar Idaman Terbaik, termasuk melalui pemberian stimulus bagi pelaku seni dan budaya. Namun, kesinambungan program tetap dipengaruhi kemampuan keuangan daerah.

    “Kita sama-sama berdoa, mudah-mudahan tahun 2027 kondisi keuangan kita membaik,” terangnya.

    Heriansyah berharap kondisi fiskal yang lebih baik nantinya dapat memperluas kesempatan seniman Kukar untuk berkarya. 

    Tidak hanya melalui penyediaan panggung, tapi juga dengan membuka peluang ekonomi dari karya dan keterlibatan mereka dalam berbagai produksi kebudayaan.

    Pimpinan Produksi Tari Massal Erau 2026, Misra Budiarto Ax menerangkan produksi tahun ini menjadi momentum khusus baginya karena kembali menangani produksi Erau setelah sekitar 23 tahun tidak terlibat.

    Ia juga menyoroti respons publik terhadap Penjaga Tahta di Tepian Mahakam. Menurutnya, tanggapan yang muncul di media sosial menunjukkan perhatian masyarakat terhadap pertunjukan tersebut.

    “Tidak ada yang negatif. Di media sosial semua positif untuk Penjaga Tahta di Tepian Mahakam,” tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Ratusan Penari Erau Terima Honor Rp1,4 Juta, Disdikbud Kukar Dorong Ekosistem Seni Berkelanjutan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Rusdianto
    03 Oktober 2026 pukul 10:27 WITA

    Ratusan penari Erau saat menerima honor dari Disdikbud Kukar (Dok: Produksi Tari Massal)

    Tenggarong - Sebanyak 350 penari yang tampil dalam pertunjukan kolosal Penjaga Tahta di Tepian Mahakam akhirnya menerima honor setelah menyelesaikan seluruh rangkaian persiapan hingga pementasan Erau Adat Kutai 2026.

    Honor tersebut diserahkan pada Jumat (2/10/2026) di Stadion Rondong Demang, Tenggarong.

    Setiap penari memperoleh Rp1,4 juta atas keterlibatan mereka dalam proses latihan dan pertunjukan.

    Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar), Heriansyah mengatakan pembayaran honor tersebut tidak semestinya dipandang hanya sebagai imbalan atas penampilan selama Erau.

    Menurutnya, keterlibatan penari dalam agenda kebudayaan daerah juga perlu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni yang mampu memberikan ruang berkarya sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku seni.

    “Ini tidak hanya sekadar tampil. Kegiatan ini harus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan para pelaku seni,” ujar Heriansyah.

    Ia menyebut keberlangsungan ekosistem seni membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, budayawan, pelaku usaha, pejabat hingga tokoh masyarakat dinilai memiliki peran masing-masing dalam menciptakan ruang bagi pelaku seni.

    Heriansyah yang juga merusak Ketua Panitia Erau 2026 turut mengapresiasi waktu dan tenaga yang dicurahkan para penari selama proses persiapan. 

    Ia menilai pengalaman mengikuti produksi berskala besar seperti Erau dapat menjadi bekal bagi para penari untuk terlibat dalam karya-karya berikutnya.

    “Banggalah adik-adikku seluruhnya yang telah berkontribusi, meluangkan waktunya, menyiapkan tenaganya dan berkonsentrasi selama proses latihan maupun saat penampilan,” katanya.

    Ia menyatakan Disdikbud Kukar akan terus mengarahkan program kebudayaan pada pengembangan pelaku seni. 

    Upaya tersebut menjadi bagian dari visi dan misi Kukar Idaman Terbaik, termasuk melalui pemberian stimulus bagi pelaku seni dan budaya. Namun, kesinambungan program tetap dipengaruhi kemampuan keuangan daerah.

    “Kita sama-sama berdoa, mudah-mudahan tahun 2027 kondisi keuangan kita membaik,” terangnya.

    Heriansyah berharap kondisi fiskal yang lebih baik nantinya dapat memperluas kesempatan seniman Kukar untuk berkarya. 

    Tidak hanya melalui penyediaan panggung, tapi juga dengan membuka peluang ekonomi dari karya dan keterlibatan mereka dalam berbagai produksi kebudayaan.

    Pimpinan Produksi Tari Massal Erau 2026, Misra Budiarto Ax menerangkan produksi tahun ini menjadi momentum khusus baginya karena kembali menangani produksi Erau setelah sekitar 23 tahun tidak terlibat.

    Ia juga menyoroti respons publik terhadap Penjaga Tahta di Tepian Mahakam. Menurutnya, tanggapan yang muncul di media sosial menunjukkan perhatian masyarakat terhadap pertunjukan tersebut.

    “Tidak ada yang negatif. Di media sosial semua positif untuk Penjaga Tahta di Tepian Mahakam,” tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)