Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Perkuat Sektor Pertanian, Pemdes Sumber Sari Berdayakan 28 Kelompok Tani

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Lodya A
    17 Juli 2025 pukul 20:26 WITA

    Salah satu lahan pertanian yang dikelola oleh Petani Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu. (Foto:M.anshori/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat potensi di sektor pertanian. 

    Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno mengatakan ada 28 kelompok tani aktif yang terdiri dari delapan kelompok tani umum dan 11 kelompok perikanan. Luasan sawah yang dikelola petani di desa ini mencapai 318 hektare.

    “Para petani ini aktif mengolah lahannya untuk hasil pertanian, rata-rata hasilnya dijual ke pasar. Ada juga yang dijual ke tengkulak, tapi mereka lebih memilih menjual beras, bukan gabah karena sekalian bisa dipakai untuk pakan ternak,” kata Sutarno, Kamis (17/7/2025).

    Pemberdayaan kelompok tani ini mencakup berbagai aspek, pertama peningkatan produktivitas, memberikan pelatihan dan bantuan teknis untuk meningkatkan hasil panen. 

    Kedua pengembangan agribisnis, membantu petani dalam memasarkan hasil pertanian mereka. Ketiga penguatan kelembagaan, memastikan kelompok tani berfungsi efektif sebagai wadah musyawarah dan pengambilan keputusan. Keempat peningkatan kesejahteraan, yaitu meningkatkan pendapatan petani melalui berbagai program pengembangan.

    Soal produktivitas, lahan pertanian di Sumber Sari kini rata-rata mampu menghasilkan lebih dari 4,5 ton gabah per hektare dalam sekali panen. Ia menyebut pemdes tetap fokus memikirkan strategi jangka panjang untuk meningkatkan nilai jual hasil pertanian warganya.

    Ia mengungkapkan salah satu pendekatan yang tengah didorong adalah melalui penguatan kelembagaan ekonomi desa seperti BUMDes dan koperasi.

    “Tantangan kami masih banyak, karena di sini banyak juga pengepul dan pedagang besar. Mereka langsung jual ke pasar atau konsumen, jadi harganya lebih tinggi. Kalau ke tengkulak biasanya harga beli sekitar Rp 12 ribu, masih untung, tapi tidak maksimal,” ungkapnya. 

    Dengan adanya pemberdayaan ini diharapkan sektor pertanian di Sumber Sari juga dapat semakin maju dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian desa. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Perkuat Sektor Pertanian, Pemdes Sumber Sari Berdayakan 28 Kelompok Tani

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Lodya A
    17 Juli 2025 pukul 20:26 WITA

    Salah satu lahan pertanian yang dikelola oleh Petani Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu. (Foto:M.anshori/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat potensi di sektor pertanian. 

    Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno mengatakan ada 28 kelompok tani aktif yang terdiri dari delapan kelompok tani umum dan 11 kelompok perikanan. Luasan sawah yang dikelola petani di desa ini mencapai 318 hektare.

    “Para petani ini aktif mengolah lahannya untuk hasil pertanian, rata-rata hasilnya dijual ke pasar. Ada juga yang dijual ke tengkulak, tapi mereka lebih memilih menjual beras, bukan gabah karena sekalian bisa dipakai untuk pakan ternak,” kata Sutarno, Kamis (17/7/2025).

    Pemberdayaan kelompok tani ini mencakup berbagai aspek, pertama peningkatan produktivitas, memberikan pelatihan dan bantuan teknis untuk meningkatkan hasil panen. 

    Kedua pengembangan agribisnis, membantu petani dalam memasarkan hasil pertanian mereka. Ketiga penguatan kelembagaan, memastikan kelompok tani berfungsi efektif sebagai wadah musyawarah dan pengambilan keputusan. Keempat peningkatan kesejahteraan, yaitu meningkatkan pendapatan petani melalui berbagai program pengembangan.

    Soal produktivitas, lahan pertanian di Sumber Sari kini rata-rata mampu menghasilkan lebih dari 4,5 ton gabah per hektare dalam sekali panen. Ia menyebut pemdes tetap fokus memikirkan strategi jangka panjang untuk meningkatkan nilai jual hasil pertanian warganya.

    Ia mengungkapkan salah satu pendekatan yang tengah didorong adalah melalui penguatan kelembagaan ekonomi desa seperti BUMDes dan koperasi.

    “Tantangan kami masih banyak, karena di sini banyak juga pengepul dan pedagang besar. Mereka langsung jual ke pasar atau konsumen, jadi harganya lebih tinggi. Kalau ke tengkulak biasanya harga beli sekitar Rp 12 ribu, masih untung, tapi tidak maksimal,” ungkapnya. 

    Dengan adanya pemberdayaan ini diharapkan sektor pertanian di Sumber Sari juga dapat semakin maju dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian desa. (Adv)

    (Sf/Lo)