Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara
Inovasi padi apung. (Silferius Sudi)
Tenggarong - Pemerintah Desa (Pemdes) Bukit Layang, Kecamatan Kembang Janggut terus berupaya mengembangkan inovasi pertanian berupa sawah apung dengan memanfaatkan lahan di atas permukaan air.
Kepala Desa (Kades) Bukit Layang, Silferius Sudi mengatakan inovasi tersebut dilakukan sejak 2023 lalu dan menggunakan metode ini untuk mendongkrak pendapatan kelompok tani setempat.
"Langkah ini juga kami ambil untuk meningkatkan ketahanan pangan di wilayah ini, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) juga mendukung inovasi ini," kata Silferius Sudi Jumat (29/11/2024).
Ia menjelaskan, pengembangan padi sawah apung ini berawal dari upaya memanfaatkan sumber daya air, terutama pada lahan sawah yang cenderung tergenang banjir saat musim hujan.
Sistem pertanian seperti ini memiliki beberapa keunggulan. Seperti, mengubah lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi lahan yang produktif.
Kemudian, menghemat biaya karena tidak perlu membajak lahan dan dapat mengatasi masalah kekurangan air.
Dengan upaya itu, meski masih terkendala dengan biaya media tanam yang mahal, tapi pemdes optimis dapat memberikan dampak positif terhadap ketahanan pangan di desa tersebut.
"Kami harap inovasi ini berkelanjutan untuk menghadapi tantangan lingkungan dan perubahan iklim," tutupnya. (Adv)
(Sf/By)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

Inovasi padi apung. (Silferius Sudi)
Tenggarong - Pemerintah Desa (Pemdes) Bukit Layang, Kecamatan Kembang Janggut terus berupaya mengembangkan inovasi pertanian berupa sawah apung dengan memanfaatkan lahan di atas permukaan air.
Kepala Desa (Kades) Bukit Layang, Silferius Sudi mengatakan inovasi tersebut dilakukan sejak 2023 lalu dan menggunakan metode ini untuk mendongkrak pendapatan kelompok tani setempat.
"Langkah ini juga kami ambil untuk meningkatkan ketahanan pangan di wilayah ini, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) juga mendukung inovasi ini," kata Silferius Sudi Jumat (29/11/2024).
Ia menjelaskan, pengembangan padi sawah apung ini berawal dari upaya memanfaatkan sumber daya air, terutama pada lahan sawah yang cenderung tergenang banjir saat musim hujan.
Sistem pertanian seperti ini memiliki beberapa keunggulan. Seperti, mengubah lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi lahan yang produktif.
Kemudian, menghemat biaya karena tidak perlu membajak lahan dan dapat mengatasi masalah kekurangan air.
Dengan upaya itu, meski masih terkendala dengan biaya media tanam yang mahal, tapi pemdes optimis dapat memberikan dampak positif terhadap ketahanan pangan di desa tersebut.
"Kami harap inovasi ini berkelanjutan untuk menghadapi tantangan lingkungan dan perubahan iklim," tutupnya. (Adv)
(Sf/By)