Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara
Kabut asap akibat Karhutla tampak masih menyelimuti wilayah Tenggarong (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) menggunakan alat pemantau kualitas udara portabel untuk membantu melihat kondisi udara di tengah persebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Sekretaris BPBD Kukar, Aspinur Sandi mengatakan pemantauan kualitas udara menjadi penting karena kondisi asap dapat berubah dalam waktu singkat.
Kata dia, pergerakan asap dipengaruhi berbagai faktor, seperti arah angin, kelembapan, suhu dan kondisi geografis. Situasi tersebut membuat kualitas udara di suatu wilayah tidak selalu sama sepanjang hari.
“Kami menggunakan alat portabel untuk memantau kualitas udara,” ujar Sandi, Sabtu (24/10/2026).
Ia menyampaikan pengukuran partikel halus di udara, termasuk PM2.5, idealnya dilakukan secara berkala agar perubahan kondisi udara dapat diketahui.
Meski penggunaan alat portabel dinilai cukup membantu pemantauan di lapangan, namun hasil pengukuran perlu dibaca sesuai lokasi dan waktu pemeriksaan karena kondisi udara bersifat dinamis.
“Kalau kita mengukur PM2.5, itu bisa dipantau per jam karena kondisinya dinamis,” jelasnya.
Sandi menyebut pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya mitigasi untuk mengetahui perkembangan kondisi udara dan menentukan langkah perlindungan bagi masyarakat. Selain pemantauan, BPBD juga melakukan pembagian masker bersama instansi terkait.
“Kita bersama teman-teman dari Dinas Kesehatan (Dinkes) sudah beberapa kali membagikan masker kepada masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, terutama pengguna jalan sebagai upaya mengurangi menghirup paparan asap karhutla,” bebernya.
Di tengah kondisi udara yang masih dalam kategori tidak sehat tersebut, masyarakat diimbau untuk senantiasa menggunakan masker.
“Harapan kami, semoga masyarakat selalu mengenakan masker agar terhindar dari serangan penyakit yang dipicu akibat menghirup asap karhutla,” tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

Kabut asap akibat Karhutla tampak masih menyelimuti wilayah Tenggarong (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) menggunakan alat pemantau kualitas udara portabel untuk membantu melihat kondisi udara di tengah persebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Sekretaris BPBD Kukar, Aspinur Sandi mengatakan pemantauan kualitas udara menjadi penting karena kondisi asap dapat berubah dalam waktu singkat.
Kata dia, pergerakan asap dipengaruhi berbagai faktor, seperti arah angin, kelembapan, suhu dan kondisi geografis. Situasi tersebut membuat kualitas udara di suatu wilayah tidak selalu sama sepanjang hari.
“Kami menggunakan alat portabel untuk memantau kualitas udara,” ujar Sandi, Sabtu (24/10/2026).
Ia menyampaikan pengukuran partikel halus di udara, termasuk PM2.5, idealnya dilakukan secara berkala agar perubahan kondisi udara dapat diketahui.
Meski penggunaan alat portabel dinilai cukup membantu pemantauan di lapangan, namun hasil pengukuran perlu dibaca sesuai lokasi dan waktu pemeriksaan karena kondisi udara bersifat dinamis.
“Kalau kita mengukur PM2.5, itu bisa dipantau per jam karena kondisinya dinamis,” jelasnya.
Sandi menyebut pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya mitigasi untuk mengetahui perkembangan kondisi udara dan menentukan langkah perlindungan bagi masyarakat. Selain pemantauan, BPBD juga melakukan pembagian masker bersama instansi terkait.
“Kita bersama teman-teman dari Dinas Kesehatan (Dinkes) sudah beberapa kali membagikan masker kepada masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, terutama pengguna jalan sebagai upaya mengurangi menghirup paparan asap karhutla,” bebernya.
Di tengah kondisi udara yang masih dalam kategori tidak sehat tersebut, masyarakat diimbau untuk senantiasa menggunakan masker.
“Harapan kami, semoga masyarakat selalu mengenakan masker agar terhindar dari serangan penyakit yang dipicu akibat menghirup asap karhutla,” tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)