Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong budi daya maggot sebagai salah satu solusi dalam menangani sampah organik yang dihasilkan masyarakat.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro mengatakan maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik dengan cepat, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi timbunan sampah.
Menurutnya, berbagai jenis sampah organik seperti sisa makanan, sayuran hingga jeroan ikan dan ayam dapat diberikan sebagai pakan maggot.
“Maggot itu adalah salah satu solusi yang sangat cepat, mudah dan efektif sekali untuk penanganan sampah organik. Itu kita ibaratnya beli lalatnya bisa, beli telurnya bisa, beli maggot pun bisa,” ujar Tri Joko, Kamis (24/9/2026).
Ia menjelaskan sampah organik yang diberikan kepada maggot dapat habis dalam waktu relatif cepat karena terus dikonsumsi. Kondisi tersebut membuat sampah tidak sempat menimbulkan bau.
“Sampah organik jenis apa pun dikasihkan makan mereka, tidak sempat bau, sudah habis. Karena makan terus, makan terus terkait sampah,” terangnya.
Selain mudah dalam perawatan, budi daya maggot juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha tambahan bagi kelompok masyarakat, termasuk bank sampah dan organisasi lingkungan.
Tri Joko menyebut sejumlah kelompok binaan DLHK Kukar bahkan memanfaatkan maggot sebagai pakan tambahan untuk ayam petelur.
“Biasanya teman-teman bank sampah, organisasi, kelompok masyarakat yang budi daya maggot ini, mereka ada kegiatan turunannya. Misalkan budi daya maggot sambil beternak ayam telur. Jadi maggotnya dikasih makan ke ayam telur,” jelasnya.
Tri Joko mengungkapkan maggot memiliki kandungan nutrisi, khususnya protein yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Ia menambahkan sejumlah percobaan yang dilakukan kelompok masyarakat menunjukkan adanya perbedaan produksi telur antara ayam yang mendapatkan pakan maggot dan yang tidak.
“Karena maggot ini nutrisinya sangat luar biasa bagus. Ada beberapa studi atau percobaan teman-teman itu, ayam-ayam petelur yang dikasih maggot sama yang enggak, produksi telurnya sangat beda karena nilai proteinnya luar biasa sekali,” bebernya.
Ia menyampaikan budi daya maggot kini mulai dilakukan oleh sejumlah kelompok masyarakat di Kukar. Sebagian besar kelompok yang dibina memanfaatkan hasil budi daya tersebut untuk kebutuhan sendiri, terutama sebagai pakan ternak.
“Sudah banyak alhamdulillah di tengah ruang ini kelompok-kelompok yang mulai budi daya maggot. Karena rata-rata yang saya bina itu punya usaha sampingan, akhirnya mereka manfaatkan sendiri,” tuturnya.
Bahkan, maggot juga memiliki nilai jual apabila dipasarkan. Tri Joko menerangkan harga maggot di pasaran dapat berkisar sekitar Rp1-15 ribu, tergantung jenis dan bentuk produk yang dijual.
“Kalau dijual ada juga sih, kalau harganya mungkin sekitar seribu-lima belas ribu. Sangat mudah sebenarnya,” tandasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong budi daya maggot sebagai salah satu solusi dalam menangani sampah organik yang dihasilkan masyarakat.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro mengatakan maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik dengan cepat, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi timbunan sampah.
Menurutnya, berbagai jenis sampah organik seperti sisa makanan, sayuran hingga jeroan ikan dan ayam dapat diberikan sebagai pakan maggot.
“Maggot itu adalah salah satu solusi yang sangat cepat, mudah dan efektif sekali untuk penanganan sampah organik. Itu kita ibaratnya beli lalatnya bisa, beli telurnya bisa, beli maggot pun bisa,” ujar Tri Joko, Kamis (24/9/2026).
Ia menjelaskan sampah organik yang diberikan kepada maggot dapat habis dalam waktu relatif cepat karena terus dikonsumsi. Kondisi tersebut membuat sampah tidak sempat menimbulkan bau.
“Sampah organik jenis apa pun dikasihkan makan mereka, tidak sempat bau, sudah habis. Karena makan terus, makan terus terkait sampah,” terangnya.
Selain mudah dalam perawatan, budi daya maggot juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha tambahan bagi kelompok masyarakat, termasuk bank sampah dan organisasi lingkungan.
Tri Joko menyebut sejumlah kelompok binaan DLHK Kukar bahkan memanfaatkan maggot sebagai pakan tambahan untuk ayam petelur.
“Biasanya teman-teman bank sampah, organisasi, kelompok masyarakat yang budi daya maggot ini, mereka ada kegiatan turunannya. Misalkan budi daya maggot sambil beternak ayam telur. Jadi maggotnya dikasih makan ke ayam telur,” jelasnya.
Tri Joko mengungkapkan maggot memiliki kandungan nutrisi, khususnya protein yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Ia menambahkan sejumlah percobaan yang dilakukan kelompok masyarakat menunjukkan adanya perbedaan produksi telur antara ayam yang mendapatkan pakan maggot dan yang tidak.
“Karena maggot ini nutrisinya sangat luar biasa bagus. Ada beberapa studi atau percobaan teman-teman itu, ayam-ayam petelur yang dikasih maggot sama yang enggak, produksi telurnya sangat beda karena nilai proteinnya luar biasa sekali,” bebernya.
Ia menyampaikan budi daya maggot kini mulai dilakukan oleh sejumlah kelompok masyarakat di Kukar. Sebagian besar kelompok yang dibina memanfaatkan hasil budi daya tersebut untuk kebutuhan sendiri, terutama sebagai pakan ternak.
“Sudah banyak alhamdulillah di tengah ruang ini kelompok-kelompok yang mulai budi daya maggot. Karena rata-rata yang saya bina itu punya usaha sampingan, akhirnya mereka manfaatkan sendiri,” tuturnya.
Bahkan, maggot juga memiliki nilai jual apabila dipasarkan. Tri Joko menerangkan harga maggot di pasaran dapat berkisar sekitar Rp1-15 ribu, tergantung jenis dan bentuk produk yang dijual.
“Kalau dijual ada juga sih, kalau harganya mungkin sekitar seribu-lima belas ribu. Sangat mudah sebenarnya,” tandasnya.
(Sf/Lo)