Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat ada sebanyak 25.520 kasus diabetes mellitus sepanjang Januari-September 2026.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah mengatakan angka tersebut menunjukkan kasus diabetes masih menjadi perhatian, terlebih penyakit tersebut kini tidak hanya ditemukan pada kelompok lanjut usia.
“Januari sampai September ini sudah 25.520 kunjungan di puskesmas. Ini cukup tinggi,” ujar Ismi, Selasa (6/10/2026).
Berdasarkan kelompok usia, kasus diabetes paling banyak ditemukan pada masyarakat usia produktif 18-59 tahun dengan 16.220 kasus atau sekitar 63 persen.
Kemudian pada kelompok usia 60 tahun ke atas tercatat sebanyak 9.230 kasus atau sekitar 36 persen. Tidak hanya itu, Dinkes Kukar juga menemukan 69 kasus atau sekitar 0,3 persen pada kelompok usia 5-18 tahun.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan diabetes tidak lagi dapat dipandang sebagai penyakit yang hanya berkaitan dengan faktor keturunan atau usia lanjut.
“Kalau dulu orang berasumsi diabetes itu hanya karena faktor keturunan, sekarang tidak lagi,” katanya.
Ismi menilai pola konsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi turut menjadi salah satu yang perlu diperhatikan masyarakat.
Ia mencontohkan berbagai jenis minuman yang banyak dijual saat ini, termasuk jus yang ditambahkan gula maupun susu.
“Jus pun yang namanya jus sehat karena itu buah. Tapi kalau ditambah gula, ditambah susu, itu yang membuat tidak sehat,” jelasnya.
Ismi mengingatkan masyarakat agar memperhatikan konsumsi minuman manis, termasuk es teh dan minuman kemasan. Selain minuman kemasan, asupan gula juga dapat berasal dari sumber karbohidrat seperti nasi.
Ia menerangkan diabetes mellitus dapat memicu berbagai komplikasi apabila tidak dikendalikan. Penyakit tersebut dapat berdampak pada organ tubuh lainnya, termasuk jantung, ginjal dan mata.
“Diabetes mellitus itu ibunya semua penyakit. Kalau kena diabetes mellitus, bisa terjadi komplikasi ke jantung, ginjal, kebutaan pada mata, juga bisa menyebabkan kecacatan,” bebernya.
Ismi mengajak masyarakat lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman sehari-hari agar terhindar dari penyakit diabetes.
Ia mendorong masyarakat untuk memilih air putih ketika tersedia sebagai alternatif minuman, serta mengurangi takaran gula saat membeli minuman.
Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Dampaknya pun tidak selalu dirasakan secara langsung setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis.
“Yang kita rasakan itu jangka panjang. Kalau minumnya sekarang, kemudian terus dilakukan, bisa jadi kebiasaan itu yang mengakibatkan masalah kesehatan ke depannya,” tuturnya.
Ia menyebut kebutuhan gula juga perlu disesuaikan dengan kondisi dan usia seseorang. Pada kelompok lanjut usia, konsumsi gula perlu lebih diperhatikan karena metabolisme tubuh cenderung tidak secepat ketika masih muda.
Kalangan lanjut usia juga disarankan memilih produk yang tidak mengandung tambahan gula atau rendah gula ketika memilih susu untuk menjaga kesehatan tulang.
“Susu pilih yang tanpa gula, cari pilihan yang tanpa gula,” tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat ada sebanyak 25.520 kasus diabetes mellitus sepanjang Januari-September 2026.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah mengatakan angka tersebut menunjukkan kasus diabetes masih menjadi perhatian, terlebih penyakit tersebut kini tidak hanya ditemukan pada kelompok lanjut usia.
“Januari sampai September ini sudah 25.520 kunjungan di puskesmas. Ini cukup tinggi,” ujar Ismi, Selasa (6/10/2026).
Berdasarkan kelompok usia, kasus diabetes paling banyak ditemukan pada masyarakat usia produktif 18-59 tahun dengan 16.220 kasus atau sekitar 63 persen.
Kemudian pada kelompok usia 60 tahun ke atas tercatat sebanyak 9.230 kasus atau sekitar 36 persen. Tidak hanya itu, Dinkes Kukar juga menemukan 69 kasus atau sekitar 0,3 persen pada kelompok usia 5-18 tahun.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan diabetes tidak lagi dapat dipandang sebagai penyakit yang hanya berkaitan dengan faktor keturunan atau usia lanjut.
“Kalau dulu orang berasumsi diabetes itu hanya karena faktor keturunan, sekarang tidak lagi,” katanya.
Ismi menilai pola konsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi turut menjadi salah satu yang perlu diperhatikan masyarakat.
Ia mencontohkan berbagai jenis minuman yang banyak dijual saat ini, termasuk jus yang ditambahkan gula maupun susu.
“Jus pun yang namanya jus sehat karena itu buah. Tapi kalau ditambah gula, ditambah susu, itu yang membuat tidak sehat,” jelasnya.
Ismi mengingatkan masyarakat agar memperhatikan konsumsi minuman manis, termasuk es teh dan minuman kemasan. Selain minuman kemasan, asupan gula juga dapat berasal dari sumber karbohidrat seperti nasi.
Ia menerangkan diabetes mellitus dapat memicu berbagai komplikasi apabila tidak dikendalikan. Penyakit tersebut dapat berdampak pada organ tubuh lainnya, termasuk jantung, ginjal dan mata.
“Diabetes mellitus itu ibunya semua penyakit. Kalau kena diabetes mellitus, bisa terjadi komplikasi ke jantung, ginjal, kebutaan pada mata, juga bisa menyebabkan kecacatan,” bebernya.
Ismi mengajak masyarakat lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman sehari-hari agar terhindar dari penyakit diabetes.
Ia mendorong masyarakat untuk memilih air putih ketika tersedia sebagai alternatif minuman, serta mengurangi takaran gula saat membeli minuman.
Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Dampaknya pun tidak selalu dirasakan secara langsung setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis.
“Yang kita rasakan itu jangka panjang. Kalau minumnya sekarang, kemudian terus dilakukan, bisa jadi kebiasaan itu yang mengakibatkan masalah kesehatan ke depannya,” tuturnya.
Ia menyebut kebutuhan gula juga perlu disesuaikan dengan kondisi dan usia seseorang. Pada kelompok lanjut usia, konsumsi gula perlu lebih diperhatikan karena metabolisme tubuh cenderung tidak secepat ketika masih muda.
Kalangan lanjut usia juga disarankan memilih produk yang tidak mengandung tambahan gula atau rendah gula ketika memilih susu untuk menjaga kesehatan tulang.
“Susu pilih yang tanpa gula, cari pilihan yang tanpa gula,” tandasnya. (Adv)
(Sf/Lo)