Seputar Fakta
    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Antisipasi Kemarau Lebih Awal, Pemkab Kukar Siapkan Pemanfaatan Void Bekas Tambang untuk Pengairan Sawah

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Rusdianto
    08 November 2026 pukul 20:06 WITA

    Void bekas tambang yang tergenang air (Dok: Freepik)

    Tenggarong - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menyiapkan langkah untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian. 

    Salah satunya dengan memanfaatkan void atau lubang bekas tambang yang telah diidentifikasi sebagai sumber air untuk mengairi persawahan.

    Upaya ini menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah dalam menjaga produktivitas pertanian, terutama menghadapi potensi perubahan kondisi iklim yang diperkirakan memengaruhi pola musim pada 2027.

    Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri mengatakan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), fenomena La Nina diperkirakan akan terjadi pada tahun depan. 

    Kondisi tersebut diperkirakan dapat memengaruhi pola cuaca, termasuk kemungkinan musim kemarau datang lebih awal, yakni pada pertengahan tahun.

    Guna mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Kukar telah mengidentifikasi sejumlah void yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air bagi lahan pertanian.

    “Void-void yang sudah kita identifikasi untuk bisa melakukan pengairan di sawah-sawah akan kita lakukan penanganan melalui pembangunan saluran, sehingga airnya bisa mengalir ke persawahan,” ujar Aulia dalam pekan ini.

    Menurutnya, pembangunan saluran pengairan menjadi salah satu langkah penting agar sumber air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani.

    Melalui upaya tersebut, kebutuhan air untuk lahan pertanian diharapkan tetap terpenuhi meski pola musim mengalami perubahan.

    Ketersediaan air yang terjaga juga diharapkan dapat membantu petani mempertahankan produktivitas lahan dan kegiatan pertanian. 

    “Jadi langkah ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian, terutama dalam menghadapi perubahan pola musim,” tukasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Antisipasi Kemarau Lebih Awal, Pemkab Kukar Siapkan Pemanfaatan Void Bekas Tambang untuk Pengairan Sawah

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Rusdianto
    08 November 2026 pukul 20:06 WITA

    Void bekas tambang yang tergenang air (Dok: Freepik)

    Tenggarong - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menyiapkan langkah untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian. 

    Salah satunya dengan memanfaatkan void atau lubang bekas tambang yang telah diidentifikasi sebagai sumber air untuk mengairi persawahan.

    Upaya ini menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah dalam menjaga produktivitas pertanian, terutama menghadapi potensi perubahan kondisi iklim yang diperkirakan memengaruhi pola musim pada 2027.

    Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri mengatakan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), fenomena La Nina diperkirakan akan terjadi pada tahun depan. 

    Kondisi tersebut diperkirakan dapat memengaruhi pola cuaca, termasuk kemungkinan musim kemarau datang lebih awal, yakni pada pertengahan tahun.

    Guna mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Kukar telah mengidentifikasi sejumlah void yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air bagi lahan pertanian.

    “Void-void yang sudah kita identifikasi untuk bisa melakukan pengairan di sawah-sawah akan kita lakukan penanganan melalui pembangunan saluran, sehingga airnya bisa mengalir ke persawahan,” ujar Aulia dalam pekan ini.

    Menurutnya, pembangunan saluran pengairan menjadi salah satu langkah penting agar sumber air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani.

    Melalui upaya tersebut, kebutuhan air untuk lahan pertanian diharapkan tetap terpenuhi meski pola musim mengalami perubahan.

    Ketersediaan air yang terjaga juga diharapkan dapat membantu petani mempertahankan produktivitas lahan dan kegiatan pertanian. 

    “Jadi langkah ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian, terutama dalam menghadapi perubahan pola musim,” tukasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)