Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Angka Stunting Kukar Turun Jadi 12,6 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi dan Pencegahan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Rusdianto
    03 Oktober 2026 pukul 21:25 WITA

    Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)

    Tenggarong - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat angka stunting pada September 2026 mengalami penurunan dari 14 persen menjadi 12,6 persen dibanding bulan lalu.

    Namun, angka tersebut masih terus dipantau karena dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu

    Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah mengatakan pemerintah daerah terus memperkuat upaya penanganan dan pencegahan stunting melalui pemantauan pertumbuhan serta perkembangan anak secara berkala.

    Tidak hanya itu, Dinkes Kukar juga melakukan pengukuran secara rutin setiap bulan untuk melihat perkembangan kondisi anak sekaligus menentukan intervensi yang diperlukan.

    “Kita selalu melakukan pengukuran setiap bulan supaya pergerakannya kelihatan. Mana misalnya yang masih waspada, masih merah, nantinya masih tinggi, itu kita intervensi. Jadi nanti di Desember baru kelihatan totalnya,” ujar Ismi, Sabtu (3/10/2026).

    Ia mengungkapan dari angka stunting sebesar 12,6 persen tersebut, sekitar 0,8 persen merupakan kasus baru yang ditemukan. 

    Sementara kasus yang sebelumnya telah ditemukan masih tetap tercatat dalam pemantauan pada bulan berjalan.

    Karena itu, intervensi yang diberikan juga disesuaikan dengan kondisi dan tahapan masing-masing sasaran.

    Ismi menyampaikan pemantauan stunting dilakukan melalui pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak. 

    Pengukuran tersebut meliputi berat badan serta tinggi atau panjang badan bayi dan balita.

    Pengukuran dilakukan secara serentak dan paling banyak berlangsung di posyandu. Selain itu, pemeriksaan juga dapat dilakukan di puskesmas ketika masyarakat membawa anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

    “Yang dicek pasti angka pertumbuhan dan perkembangannya. Makanya untuk melakukan pengukuran stunting kita lakukan pengukuran secara serentak,” jelasnya.

    Ia menerangkan penentuan stunting tidak hanya berdasarkan kondisi fisik secara kasatmata, tapi juga mengacu pada hasil pengukuran tinggi atau panjang badan berdasarkan umur dan standar pertumbuhan anak.

    Dengan pemantauan rutin tersebut, anak yang pertumbuhannya mulai menunjukkan kondisi yang perlu mendapat perhatian dapat segera ditindaklanjuti melalui intervensi yang sesuai.

    Ismi menegaskan Dinkes Kukar tidak hanya berfokus pada penanganan anak yang telah mengalami stunting. 

    Upaya pencegahan juga dilakukan sejak sebelum memasuki masa kehamilan, termasuk menyasar remaja putri dan calon pengantin.

    Salah satu program yang dilakukan yakni pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri di tingkat SMP dan SMA. 

    Program tersebut ditujukan untuk membantu mencegah anemia yang dapat menjadi salah satu faktor risiko dalam kesehatan reproduksi dan kehamilan.

    Dinkes juga memberikan edukasi kepada calon pengantin agar memiliki pemahaman mengenai pentingnya kesehatan sebelum memasuki masa kehamilan.

    “Upayanya banyak. Tidak hanya pada kasus yang sudah stunting, tapi kita lebih pada upaya mencegah,” katanya.

    Ismi menyebut langkah pencegahan tersebut penting karena penanganan stunting tidak hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan. Kondisi ibu sebelum dan selama kehamilan turut menjadi perhatian.

    Bagi ibu hamil yang mengalami kondisi kurang energi kronis atau memiliki kondisi tubuh yang membutuhkan perhatian, pemerintah juga menyediakan intervensi berupa pemberian makanan tambahan.

    Tujuannya untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan ibu sehingga pertumbuhan janin dapat berlangsung secara optimal.

    “Yang lebih penting itu mencegah terjadi stunting. Kalau sudah kena stunting, pemberian makanan tambahan mungkin akan bisa berhasil, tapi sebenarnya kesempatan emasnya itu sebelum itu terjadi,” tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Angka Stunting Kukar Turun Jadi 12,6 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi dan Pencegahan

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Rusdianto
    03 Oktober 2026 pukul 21:25 WITA

    Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)

    Tenggarong - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat angka stunting pada September 2026 mengalami penurunan dari 14 persen menjadi 12,6 persen dibanding bulan lalu.

    Namun, angka tersebut masih terus dipantau karena dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu

    Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah mengatakan pemerintah daerah terus memperkuat upaya penanganan dan pencegahan stunting melalui pemantauan pertumbuhan serta perkembangan anak secara berkala.

    Tidak hanya itu, Dinkes Kukar juga melakukan pengukuran secara rutin setiap bulan untuk melihat perkembangan kondisi anak sekaligus menentukan intervensi yang diperlukan.

    “Kita selalu melakukan pengukuran setiap bulan supaya pergerakannya kelihatan. Mana misalnya yang masih waspada, masih merah, nantinya masih tinggi, itu kita intervensi. Jadi nanti di Desember baru kelihatan totalnya,” ujar Ismi, Sabtu (3/10/2026).

    Ia mengungkapan dari angka stunting sebesar 12,6 persen tersebut, sekitar 0,8 persen merupakan kasus baru yang ditemukan. 

    Sementara kasus yang sebelumnya telah ditemukan masih tetap tercatat dalam pemantauan pada bulan berjalan.

    Karena itu, intervensi yang diberikan juga disesuaikan dengan kondisi dan tahapan masing-masing sasaran.

    Ismi menyampaikan pemantauan stunting dilakukan melalui pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak. 

    Pengukuran tersebut meliputi berat badan serta tinggi atau panjang badan bayi dan balita.

    Pengukuran dilakukan secara serentak dan paling banyak berlangsung di posyandu. Selain itu, pemeriksaan juga dapat dilakukan di puskesmas ketika masyarakat membawa anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

    “Yang dicek pasti angka pertumbuhan dan perkembangannya. Makanya untuk melakukan pengukuran stunting kita lakukan pengukuran secara serentak,” jelasnya.

    Ia menerangkan penentuan stunting tidak hanya berdasarkan kondisi fisik secara kasatmata, tapi juga mengacu pada hasil pengukuran tinggi atau panjang badan berdasarkan umur dan standar pertumbuhan anak.

    Dengan pemantauan rutin tersebut, anak yang pertumbuhannya mulai menunjukkan kondisi yang perlu mendapat perhatian dapat segera ditindaklanjuti melalui intervensi yang sesuai.

    Ismi menegaskan Dinkes Kukar tidak hanya berfokus pada penanganan anak yang telah mengalami stunting. 

    Upaya pencegahan juga dilakukan sejak sebelum memasuki masa kehamilan, termasuk menyasar remaja putri dan calon pengantin.

    Salah satu program yang dilakukan yakni pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri di tingkat SMP dan SMA. 

    Program tersebut ditujukan untuk membantu mencegah anemia yang dapat menjadi salah satu faktor risiko dalam kesehatan reproduksi dan kehamilan.

    Dinkes juga memberikan edukasi kepada calon pengantin agar memiliki pemahaman mengenai pentingnya kesehatan sebelum memasuki masa kehamilan.

    “Upayanya banyak. Tidak hanya pada kasus yang sudah stunting, tapi kita lebih pada upaya mencegah,” katanya.

    Ismi menyebut langkah pencegahan tersebut penting karena penanganan stunting tidak hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan. Kondisi ibu sebelum dan selama kehamilan turut menjadi perhatian.

    Bagi ibu hamil yang mengalami kondisi kurang energi kronis atau memiliki kondisi tubuh yang membutuhkan perhatian, pemerintah juga menyediakan intervensi berupa pemberian makanan tambahan.

    Tujuannya untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan ibu sehingga pertumbuhan janin dapat berlangsung secara optimal.

    “Yang lebih penting itu mencegah terjadi stunting. Kalau sudah kena stunting, pemberian makanan tambahan mungkin akan bisa berhasil, tapi sebenarnya kesempatan emasnya itu sebelum itu terjadi,” tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)