Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    10 Desa di Kukar Jadi Tulang Punggung Pariwisata Lokal

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Lodya A
    22 April 2025 pukul 21:41 WITA

    Kedang Ipil, Kota Bangun Darat, salah satu desa yang ditetapkan sebagai desa wisata di Kukar. (foto:M.anshori/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Sebanyak 10 desa wisata di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi tulang punggung pariwisata lokal. 

    10 desa ini berada di Kecamatan Kota Bangun, Tenggarong Seberang, Muara Wis, Muara Jawa, Sebulu dan Anggana. 

    Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Arianto mengatakan 10 desa telah ditetapkan sebagai desa wisata. Di antaranya Desa Pela, Sangkuliman, Kedang Ipil, Bhuana Jaya, Kerta Buana, Bukit Pariaman, Muara Enggelam, Teluk Dalam Muara Jawa, Liang Buaya dan Sungai Meriam.

    Arianto menyebut konsep desa wisata ini dirancang sejak 2012 lalu. Tapi, dalam perkembangannya tidak semua desa menunjukkan kemajuan yang sama.

    "Ada desa berkembang karena mereka aktif, ada juga yang masih perlu banyak dorongan. Faktor utamanya ada pada sinergi antara masyarakat, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pemerintah desa,” kata Arianto, Selasa (22/4/2025).

    Dia mencontohkan Kedang Ipil merupakan desa yang telah sukses menarik perhatian wisatawan, di wilayah ini wisata alam dan pelestarian budaya lokal dikelola secara konsisten oleh masyarakat. 

    “Warga di sana menjaga dan mengelola warisan budayanya, makanya selalu saja ada wisatawan yang berkunjung, ini nilai lebih untuk mereka,” ujarnya. 

    Selain itu, ada Desa Pela dan Sangkuliman yang tetap menjadi sorotan karena keberhasilannya mengembangkan ekowisata, termasuk pelestarian pesut Mahakam. 

    “Kita sudah bantu Desa Pela mulai dari pembangunan dan fasilitas sejak 2023 lalu,” ungkapnya.

    Meski bagitu, beberapa desa masih memerlukan pendampingan intensif. Tantangan yang dihadapi tidak hanya infrastruktur, tetapi juga pada penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan pengelola wisata.

    “Kita tidak ingin desa wisata ini hilang begitu saja, mereka harus punya kegiatan, sehingga mampu menarik wisatawan,” sebutnya. 

    Kata dia, Dispar Kukar telah membangun sinergi dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar program pembangunan lainnya dapat sesuai dengan kebutuhan.

    “Edukasi, pelatihan, pengembangan infrastruktur, semuanya harus didorong. Tapi kuncinya pada komitmen pengelola lokal,” ucapnya. 

    Ia berharap, desa-desa wisata di Kukar mampu bersaing dan menjadi wajah baru untuk pariwisata daerah, sebagai pelengkap dan penyeimbang destinasi besar seperti Pulau Kumala. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara

    10 Desa di Kukar Jadi Tulang Punggung Pariwisata Lokal

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Lodya A
    22 April 2025 pukul 21:41 WITA

    Kedang Ipil, Kota Bangun Darat, salah satu desa yang ditetapkan sebagai desa wisata di Kukar. (foto:M.anshori/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Sebanyak 10 desa wisata di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi tulang punggung pariwisata lokal. 

    10 desa ini berada di Kecamatan Kota Bangun, Tenggarong Seberang, Muara Wis, Muara Jawa, Sebulu dan Anggana. 

    Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Arianto mengatakan 10 desa telah ditetapkan sebagai desa wisata. Di antaranya Desa Pela, Sangkuliman, Kedang Ipil, Bhuana Jaya, Kerta Buana, Bukit Pariaman, Muara Enggelam, Teluk Dalam Muara Jawa, Liang Buaya dan Sungai Meriam.

    Arianto menyebut konsep desa wisata ini dirancang sejak 2012 lalu. Tapi, dalam perkembangannya tidak semua desa menunjukkan kemajuan yang sama.

    "Ada desa berkembang karena mereka aktif, ada juga yang masih perlu banyak dorongan. Faktor utamanya ada pada sinergi antara masyarakat, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pemerintah desa,” kata Arianto, Selasa (22/4/2025).

    Dia mencontohkan Kedang Ipil merupakan desa yang telah sukses menarik perhatian wisatawan, di wilayah ini wisata alam dan pelestarian budaya lokal dikelola secara konsisten oleh masyarakat. 

    “Warga di sana menjaga dan mengelola warisan budayanya, makanya selalu saja ada wisatawan yang berkunjung, ini nilai lebih untuk mereka,” ujarnya. 

    Selain itu, ada Desa Pela dan Sangkuliman yang tetap menjadi sorotan karena keberhasilannya mengembangkan ekowisata, termasuk pelestarian pesut Mahakam. 

    “Kita sudah bantu Desa Pela mulai dari pembangunan dan fasilitas sejak 2023 lalu,” ungkapnya.

    Meski bagitu, beberapa desa masih memerlukan pendampingan intensif. Tantangan yang dihadapi tidak hanya infrastruktur, tetapi juga pada penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan pengelola wisata.

    “Kita tidak ingin desa wisata ini hilang begitu saja, mereka harus punya kegiatan, sehingga mampu menarik wisatawan,” sebutnya. 

    Kata dia, Dispar Kukar telah membangun sinergi dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar program pembangunan lainnya dapat sesuai dengan kebutuhan.

    “Edukasi, pelatihan, pengembangan infrastruktur, semuanya harus didorong. Tapi kuncinya pada komitmen pengelola lokal,” ucapnya. 

    Ia berharap, desa-desa wisata di Kukar mampu bersaing dan menjadi wajah baru untuk pariwisata daerah, sebagai pelengkap dan penyeimbang destinasi besar seperti Pulau Kumala. (Adv)

    (Sf/Lo)