Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Warisan 2 Kesultanan, Disbudpar Dorong Pesta Adat Berau Dikemas Lebih Terpadu

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya a
    25 September 2026 pukul 18:20 WITA

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau mendorong agar berbagai pesta adat yang berkembang dikemas dalam sebuah event budaya yang lebih terpadu. 

    Langkah tersebut dinilai dapat menjadi ruang untuk menggali sekaligus memperkenalkan kembali warisan budaya dari Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung.

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa mengatakan, sejarah Berau memiliki keterkaitan erat dengan Kerajaan Berau yang telah berdiri sejak 1400-an dan kemudian berkembang menjadi dua kesultanan pada abad ke-19. 

    Menurutnya, perjalanan sejarah tersebut telah meninggalkan beragam warisan seni, budaya, adat dan istiadat yang menjadi bagian penting dari identitas Berau.

    "Kerajaan Berau yang telah berdiri sejak tahun 1400-an kemudian pada abad ke-19 menjadi dua kesultanan, yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Ini memiliki ikatan sejarah yang tidak terpisahkan dengan pemerintah Kabupaten Berau," ujar Yudha.

    Ia pun menyebut, sejumlah warisan dari kedua kesultanan tersebut hingga kini masih menyimpan potensi yang belum sepenuhnya dikembangkan. Karena itu, Disbudpar ingin mendorong penggalian potensi tersebut agar dapat ditampilkan dalam kegiatan budaya yang lebih terintegrasi.

    "Warisan seni, budaya, adat dan istiadat yang selama ini mungkin masih berupa potensi belum kita gali secara sepenuhnya. Oleh karena itu, ke depan kita perlu lagi menggali potensi apa yang bisa kita tampilkan sehingga menjadi satu kesatuan," katanya.

    Dirinya menilai, pengemasan pesta adat dalam sebuah event besar juga dapat menjadi strategi untuk memperkuat daya tarik wisata budaya Berau. Ia pun mencontohkan Pesta Adat Erau di Tenggarong yang telah berkembang menjadi agenda budaya dan wisata berskala nasional.

    "Kita ingin bagaimana ke depan pesta-pesta adat yang ada di Kabupaten Berau ini dirumuskan kembali untuk menjadi satu, sehingga kita mempunyai event yang setara dengan Erau di Tenggarong," terangnya.

    Menurutnya, penguatan kegiatan budaya diperlukan agar warisan yang ditinggalkan kedua kesultanan tetap hidup dan tidak kehilangan relevansinya di tengah perkembangan zaman.

    "Kalau apa yang kita lakukan tidak kita sesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang, kemungkinan kita juga akan mengalami penurunan ataupun kehilangan seni dan budaya itu sendiri," katanya.

    Selain itu, Yudha berharap event tersebut nantinya dapat menjadi wadah bagi pelaku seni, budaya dan ekonomi kreatif untuk menampilkan berbagai karya. Hal ini sekaligus mempertemukan tradisi yang selama ini masih berlangsung secara terpisah di sejumlah kampung.

    "Dengan cara melestarikan melalui suatu event, mudah-mudahan pelaku-pelaku seni, budaya, kreator-kreator yang ada di Kabupaten Berau ini bisa menampilkan semua kreasinya dan menjadi satu padu," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Warisan 2 Kesultanan, Disbudpar Dorong Pesta Adat Berau Dikemas Lebih Terpadu

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya a
    25 September 2026 pukul 18:20 WITA

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau mendorong agar berbagai pesta adat yang berkembang dikemas dalam sebuah event budaya yang lebih terpadu. 

    Langkah tersebut dinilai dapat menjadi ruang untuk menggali sekaligus memperkenalkan kembali warisan budaya dari Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung.

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa mengatakan, sejarah Berau memiliki keterkaitan erat dengan Kerajaan Berau yang telah berdiri sejak 1400-an dan kemudian berkembang menjadi dua kesultanan pada abad ke-19. 

    Menurutnya, perjalanan sejarah tersebut telah meninggalkan beragam warisan seni, budaya, adat dan istiadat yang menjadi bagian penting dari identitas Berau.

    "Kerajaan Berau yang telah berdiri sejak tahun 1400-an kemudian pada abad ke-19 menjadi dua kesultanan, yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Ini memiliki ikatan sejarah yang tidak terpisahkan dengan pemerintah Kabupaten Berau," ujar Yudha.

    Ia pun menyebut, sejumlah warisan dari kedua kesultanan tersebut hingga kini masih menyimpan potensi yang belum sepenuhnya dikembangkan. Karena itu, Disbudpar ingin mendorong penggalian potensi tersebut agar dapat ditampilkan dalam kegiatan budaya yang lebih terintegrasi.

    "Warisan seni, budaya, adat dan istiadat yang selama ini mungkin masih berupa potensi belum kita gali secara sepenuhnya. Oleh karena itu, ke depan kita perlu lagi menggali potensi apa yang bisa kita tampilkan sehingga menjadi satu kesatuan," katanya.

    Dirinya menilai, pengemasan pesta adat dalam sebuah event besar juga dapat menjadi strategi untuk memperkuat daya tarik wisata budaya Berau. Ia pun mencontohkan Pesta Adat Erau di Tenggarong yang telah berkembang menjadi agenda budaya dan wisata berskala nasional.

    "Kita ingin bagaimana ke depan pesta-pesta adat yang ada di Kabupaten Berau ini dirumuskan kembali untuk menjadi satu, sehingga kita mempunyai event yang setara dengan Erau di Tenggarong," terangnya.

    Menurutnya, penguatan kegiatan budaya diperlukan agar warisan yang ditinggalkan kedua kesultanan tetap hidup dan tidak kehilangan relevansinya di tengah perkembangan zaman.

    "Kalau apa yang kita lakukan tidak kita sesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang, kemungkinan kita juga akan mengalami penurunan ataupun kehilangan seni dan budaya itu sendiri," katanya.

    Selain itu, Yudha berharap event tersebut nantinya dapat menjadi wadah bagi pelaku seni, budaya dan ekonomi kreatif untuk menampilkan berbagai karya. Hal ini sekaligus mempertemukan tradisi yang selama ini masih berlangsung secara terpisah di sejumlah kampung.

    "Dengan cara melestarikan melalui suatu event, mudah-mudahan pelaku-pelaku seni, budaya, kreator-kreator yang ada di Kabupaten Berau ini bisa menampilkan semua kreasinya dan menjadi satu padu," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)