Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Tradisi Baturunan Manurunkan Parau Jadi Cerminan Gotong Royong dan Kearifan Lokal Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    20 September 2026 pukul 23:34 WITA

    Tradisi Baturunan Manurunkan Parau kembali digelar di depan Museum Batiwakkal. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Tradisi Baturunan Manurunkan Parau kembali digelar di depan Museum Batiwakkal, Sabtu (19/9/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau ke-73 dan Kota Tanjung Redeb ke-216.

    Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menilai tradisi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan adat, tetapi juga mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan dan kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa mengatakan, baturunan parau memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, khususnya hubungan dengan lingkungan dan sumber daya perairan.

    "Baturunan manurunkan parau bukan sekadar kegiatan menurunkan parau ke perairan. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, kebersamaan, penghormatan terhadap tradisi, serta hubungan yang erat antara masyarakat, lingkungan dan sumber daya, khususnya perairan," ujar Yudha.

    Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Berau yang perlu terus dijaga. Ia pun mengatakan pelestarian budaya, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik sekaligus pelaku budaya.

    "Pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab kita semua, terutama masyarakat sebagai pemilik dan pelaku budaya itu sendiri," katanya.

    Ia berharap pelaksanaan baturunan manurunkan parau dapat menjadi momentum untuk mengenalkan kembali tradisi daerah kepada generasi muda. Terlebih, perkembangan zaman berpotensi membuat generasi berikutnya semakin jauh dari pengetahuan mengenai budaya lokal.

    "Kita berharap generasi muda akan mengenal, memahami dan ikut melestarikan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita. Jangan sampai perkembangan zaman membuat kita dan generasi berikutnya kehilangan pengetahuan dan keterkaitan terhadap budaya daerah kita sendiri," terangnya.

    Selain itu, Yudha juga mendorong tradisi masyarakat untuk dikembangkan secara positif sehingga dapat mendukung pariwisata berbasis budaya. Menurutnya, kegiatan budaya dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam pengembangan pariwisata daerah.

    Namun, pengembangan tersebut tetap harus memperhatikan nilai adat dan pakem yang berlaku. Aspek kelestarian lingkungan, keselamatan serta norma masyarakat juga harus menjadi perhatian agar tradisi tetap berjalan sesuai nilai yang diwariskan.

    Tradisi Baturunan Manurunkan Parau kembali digelar di depan Museum Batiwakkal. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    "Dengan demikian, budaya tetap hidup, tetap relevan dan masyarakat mendapatkan manfaat, sementara lingkungan juga tetap terjaga," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Tradisi Baturunan Manurunkan Parau Jadi Cerminan Gotong Royong dan Kearifan Lokal Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    20 September 2026 pukul 23:34 WITA

    Tradisi Baturunan Manurunkan Parau kembali digelar di depan Museum Batiwakkal. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Tradisi Baturunan Manurunkan Parau kembali digelar di depan Museum Batiwakkal, Sabtu (19/9/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau ke-73 dan Kota Tanjung Redeb ke-216.

    Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menilai tradisi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan adat, tetapi juga mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan dan kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa mengatakan, baturunan parau memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, khususnya hubungan dengan lingkungan dan sumber daya perairan.

    "Baturunan manurunkan parau bukan sekadar kegiatan menurunkan parau ke perairan. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, kebersamaan, penghormatan terhadap tradisi, serta hubungan yang erat antara masyarakat, lingkungan dan sumber daya, khususnya perairan," ujar Yudha.

    Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Berau yang perlu terus dijaga. Ia pun mengatakan pelestarian budaya, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik sekaligus pelaku budaya.

    "Pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab kita semua, terutama masyarakat sebagai pemilik dan pelaku budaya itu sendiri," katanya.

    Ia berharap pelaksanaan baturunan manurunkan parau dapat menjadi momentum untuk mengenalkan kembali tradisi daerah kepada generasi muda. Terlebih, perkembangan zaman berpotensi membuat generasi berikutnya semakin jauh dari pengetahuan mengenai budaya lokal.

    "Kita berharap generasi muda akan mengenal, memahami dan ikut melestarikan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita. Jangan sampai perkembangan zaman membuat kita dan generasi berikutnya kehilangan pengetahuan dan keterkaitan terhadap budaya daerah kita sendiri," terangnya.

    Selain itu, Yudha juga mendorong tradisi masyarakat untuk dikembangkan secara positif sehingga dapat mendukung pariwisata berbasis budaya. Menurutnya, kegiatan budaya dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam pengembangan pariwisata daerah.

    Namun, pengembangan tersebut tetap harus memperhatikan nilai adat dan pakem yang berlaku. Aspek kelestarian lingkungan, keselamatan serta norma masyarakat juga harus menjadi perhatian agar tradisi tetap berjalan sesuai nilai yang diwariskan.

    Tradisi Baturunan Manurunkan Parau kembali digelar di depan Museum Batiwakkal. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    "Dengan demikian, budaya tetap hidup, tetap relevan dan masyarakat mendapatkan manfaat, sementara lingkungan juga tetap terjaga," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)