Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Terasi Berau. (Foto: terasi_novita)
Tanjung Redeb - Produksi terasi di Kabupaten Berau diperkirakan mencapai 1.680 ton per tahun. Potensi tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi sektor perikanan, namun masih perlu didukung perluasan pasar dan penguatan industri pengolahan agar produk lokal mampu bersaing dengan identitasnya sendiri.
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono, mengatakan produksi terasi yang mencapai sekitar 140 ton per bulan belum sepenuhnya memberikan nilai tambah optimal bagi daerah. Sebagian besar produk masih dipasarkan ke luar wilayah karena terbatasnya pasar lokal.
"Produksi terasi kita cukup besar. Yang perlu diperkuat sekarang adalah bagaimana produk ini bisa diolah dan dipasarkan dengan baik, sehingga nilai tambahnya juga bisa dinikmati daerah," ujar Budiono.
Ia menyebut bahwa selama ini, pemasaran terasi Berau telah menjangkau sejumlah daerah, terutama Lombok dan Surabaya. Jalur perdagangan tersebut sudah terjalin cukup lama dan turut mendukung kebutuhan produksi, termasuk pasokan garam dari mitra dagang luar daerah.
Dirinya pun menyampaikan bahwa salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah terasi Berau yang masih dijual dalam bentuk setengah jadi. Dimana, produk tersebut berpotensi diolah kembali dan dipasarkan menggunakan merek atau identitas daerah lain ketika sampai di tujuan.
"Upaya pengembangan perlu lebih diarahkan pada pembentukan alternatif pengolahan dan pemasaran agar pelaku usaha lokal memiliki kesempatan lebih besar dalam mengembangkan produknya," tuturnya.
Oleh karena itu, penguatan sektor hilir menjadi penting, terutama melalui peningkatan kualitas, pengemasan, pembentukan merek, dan perluasan akses pasar.
"Saat ini, terdapat empat wilayah yang dikenal sebagai sentra produksi terasi di Berau, ada Batu Putih, Pegat Batumbuk, Derawan, dan Biatan," katanya.
Sementara itu, ia mengatakan Batu Putih mulai diarahkan menjadi salah satu pusat pengembangan industri setelah ditetapkan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau sebagai kawasan sentra industri terasi.
Tak hanya itu, pengembangan tersebut juga disiapkan melalui kerja sama Dinas Perikanan, Diskoperindag, serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Ketiga perangkat daerah ini tengah menyiapkan pola kerja bersama untuk memperkuat rantai industri terasi dari hulu hingga hilir.
"Kami di pemerintahan juga berencana memetakan potensi berbagai jenis terasi yang dihasilkan masyarakat, mulai dari terasi kering, basah, hingga cair," ujarnya.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui karakter produk dan peluang pengembangannya sesuai kebutuhan pasar. Selain itu, dukungan sarana produksi, legalitas usaha, dan kemudahan investasi menjadi bagian dari upaya mendorong industri pengolahan berkembang lebih luas, tidak hanya pada skala rumah tangga.
Budiono pun berharap dengan adanya penguatan pasar dan kemasan juga bisa meningkatkan daya saing terasi Berau. Produk yang selama ini banyak dikirim keluar daerah diharapkan dapat dipasarkan dengan merek lokal sehingga identitas dan nilai ekonominya tetap melekat pada daerah asal.
"Harapannya, ketika produk ini masuk ke pasar yang lebih luas, orang mengenalnya sebagai terasi Berau. Jadi, bukan hanya produksinya yang besar, tetapi nilai ekonominya juga bisa kembali dan tumbuh di daerah," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Terasi Berau. (Foto: terasi_novita)
Tanjung Redeb - Produksi terasi di Kabupaten Berau diperkirakan mencapai 1.680 ton per tahun. Potensi tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi sektor perikanan, namun masih perlu didukung perluasan pasar dan penguatan industri pengolahan agar produk lokal mampu bersaing dengan identitasnya sendiri.
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono, mengatakan produksi terasi yang mencapai sekitar 140 ton per bulan belum sepenuhnya memberikan nilai tambah optimal bagi daerah. Sebagian besar produk masih dipasarkan ke luar wilayah karena terbatasnya pasar lokal.
"Produksi terasi kita cukup besar. Yang perlu diperkuat sekarang adalah bagaimana produk ini bisa diolah dan dipasarkan dengan baik, sehingga nilai tambahnya juga bisa dinikmati daerah," ujar Budiono.
Ia menyebut bahwa selama ini, pemasaran terasi Berau telah menjangkau sejumlah daerah, terutama Lombok dan Surabaya. Jalur perdagangan tersebut sudah terjalin cukup lama dan turut mendukung kebutuhan produksi, termasuk pasokan garam dari mitra dagang luar daerah.
Dirinya pun menyampaikan bahwa salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah terasi Berau yang masih dijual dalam bentuk setengah jadi. Dimana, produk tersebut berpotensi diolah kembali dan dipasarkan menggunakan merek atau identitas daerah lain ketika sampai di tujuan.
"Upaya pengembangan perlu lebih diarahkan pada pembentukan alternatif pengolahan dan pemasaran agar pelaku usaha lokal memiliki kesempatan lebih besar dalam mengembangkan produknya," tuturnya.
Oleh karena itu, penguatan sektor hilir menjadi penting, terutama melalui peningkatan kualitas, pengemasan, pembentukan merek, dan perluasan akses pasar.
"Saat ini, terdapat empat wilayah yang dikenal sebagai sentra produksi terasi di Berau, ada Batu Putih, Pegat Batumbuk, Derawan, dan Biatan," katanya.
Sementara itu, ia mengatakan Batu Putih mulai diarahkan menjadi salah satu pusat pengembangan industri setelah ditetapkan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau sebagai kawasan sentra industri terasi.
Tak hanya itu, pengembangan tersebut juga disiapkan melalui kerja sama Dinas Perikanan, Diskoperindag, serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Ketiga perangkat daerah ini tengah menyiapkan pola kerja bersama untuk memperkuat rantai industri terasi dari hulu hingga hilir.
"Kami di pemerintahan juga berencana memetakan potensi berbagai jenis terasi yang dihasilkan masyarakat, mulai dari terasi kering, basah, hingga cair," ujarnya.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui karakter produk dan peluang pengembangannya sesuai kebutuhan pasar. Selain itu, dukungan sarana produksi, legalitas usaha, dan kemudahan investasi menjadi bagian dari upaya mendorong industri pengolahan berkembang lebih luas, tidak hanya pada skala rumah tangga.
Budiono pun berharap dengan adanya penguatan pasar dan kemasan juga bisa meningkatkan daya saing terasi Berau. Produk yang selama ini banyak dikirim keluar daerah diharapkan dapat dipasarkan dengan merek lokal sehingga identitas dan nilai ekonominya tetap melekat pada daerah asal.
"Harapannya, ketika produk ini masuk ke pasar yang lebih luas, orang mengenalnya sebagai terasi Berau. Jadi, bukan hanya produksinya yang besar, tetapi nilai ekonominya juga bisa kembali dan tumbuh di daerah," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)