Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Simulasi TESA oleh forum anak Kabupaten Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat perlindungan terhadap anak. Salah satunya melalui peluncuran Telepon Sahabat Anak (TESA), yang dihadirkan sebagai ruang alternatif bagi anak dan remaja untuk menyampaikan pengaduan maupun cerita terkait persoalan yang mereka alami.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau, Warji, mengatakan TESA merupakan gagasan bersama antara DPPKBP3A dan Forum Anak Kabupaten Berau. Layanan tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan bagi anak yang mengalami kekerasan, tetapi masih merasa malu atau ragu untuk melaporkannya secara langsung.
Menurutnya, tidak semua anak memiliki keberanian untuk langsung menyampaikan persoalan kepada DPPKBP3A, kepolisian maupun pihak terkait lainnya. Karena itu, diperlukan jalur pengaduan yang lebih dekat dengan keseharian anak, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi digital.
"Ini bagian dari alternatif untuk pengaduan karena banyak anak-anak remaja maupun anak-anak sekolah yang mengalami kekerasan, baik kekerasan fisik, pelecehan seksual ataupun bullying yang terjadi di sekolah," kata Warji.
Ia menjelaskan bahwa melalui TESA, anak dan remaja nantinya dapat menyampaikan pengaduan melalui telepon maupun WhatsApp. Pengelolaan layanan tersebut akan melibatkan Forum Anak Kabupaten Berau sebagai admin yang menerima dan mengidentifikasi setiap laporan yang masuk.
"Setelah ada identifikasi, mungkin ada pertanyaan atau curhatan dari anak-anak sekolah maupun anak-anak remaja kepada Forum Anak," ujarnya.
Oleh karena itu, dirinya menilai keterlibatan Forum Anak menjadi bagian penting dalam memberikan rasa nyaman kepada anak yang ingin bercerita. Sebab, para anggota Forum Anak juga berasal dari kalangan remaja sehingga komunikasi diharapkan dapat berlangsung lebih terbuka.
"Mudah-mudahan dengan adanya TESA ini anak tidak lagi merasa sendirian ketika menghadapi persoalan dan lebih banyak yang berani dan terbuka menyampaikan pengaduan, baik anak-anak remaja maupun para orang tua untuk melaporkan tindakan kekerasan, terutama terhadap anak-anak remaja," tuturnya.
Sementara itu, ia menyebut upaya perlindungan anak masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah perkembangan teknologi digital yang selain memberikan kemudahan komunikasi, juga membutuhkan pengawasan bersama agar tidak memberikan dampak negatif terhadap anak.
"Kemudian kita juga perlu meratakan pemahaman masyarakat mengenai hak anak. Karena itu memang perlu kolaborasi lintas sektor dalam perlindungan anak," tuturnya.
Warji menegaskan, keterlibatan seluruh pihak menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak. Pemerintah, keluarga, masyarakat serta Forum Anak diharapkan dapat bersama-sama membangun sistem perlindungan yang mampu memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh dan berkembang secara aman.
"Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen Pemkab Berau dalam mewujudkan Kabupaten Layak Anak (KLA), dengan memastikan anak memiliki akses untuk mendapatkan perlindungan, pendampingan serta ruang yang aman ketika menghadapi persoalan," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Simulasi TESA oleh forum anak Kabupaten Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat perlindungan terhadap anak. Salah satunya melalui peluncuran Telepon Sahabat Anak (TESA), yang dihadirkan sebagai ruang alternatif bagi anak dan remaja untuk menyampaikan pengaduan maupun cerita terkait persoalan yang mereka alami.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau, Warji, mengatakan TESA merupakan gagasan bersama antara DPPKBP3A dan Forum Anak Kabupaten Berau. Layanan tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan bagi anak yang mengalami kekerasan, tetapi masih merasa malu atau ragu untuk melaporkannya secara langsung.
Menurutnya, tidak semua anak memiliki keberanian untuk langsung menyampaikan persoalan kepada DPPKBP3A, kepolisian maupun pihak terkait lainnya. Karena itu, diperlukan jalur pengaduan yang lebih dekat dengan keseharian anak, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi digital.
"Ini bagian dari alternatif untuk pengaduan karena banyak anak-anak remaja maupun anak-anak sekolah yang mengalami kekerasan, baik kekerasan fisik, pelecehan seksual ataupun bullying yang terjadi di sekolah," kata Warji.
Ia menjelaskan bahwa melalui TESA, anak dan remaja nantinya dapat menyampaikan pengaduan melalui telepon maupun WhatsApp. Pengelolaan layanan tersebut akan melibatkan Forum Anak Kabupaten Berau sebagai admin yang menerima dan mengidentifikasi setiap laporan yang masuk.
"Setelah ada identifikasi, mungkin ada pertanyaan atau curhatan dari anak-anak sekolah maupun anak-anak remaja kepada Forum Anak," ujarnya.
Oleh karena itu, dirinya menilai keterlibatan Forum Anak menjadi bagian penting dalam memberikan rasa nyaman kepada anak yang ingin bercerita. Sebab, para anggota Forum Anak juga berasal dari kalangan remaja sehingga komunikasi diharapkan dapat berlangsung lebih terbuka.
"Mudah-mudahan dengan adanya TESA ini anak tidak lagi merasa sendirian ketika menghadapi persoalan dan lebih banyak yang berani dan terbuka menyampaikan pengaduan, baik anak-anak remaja maupun para orang tua untuk melaporkan tindakan kekerasan, terutama terhadap anak-anak remaja," tuturnya.
Sementara itu, ia menyebut upaya perlindungan anak masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah perkembangan teknologi digital yang selain memberikan kemudahan komunikasi, juga membutuhkan pengawasan bersama agar tidak memberikan dampak negatif terhadap anak.
"Kemudian kita juga perlu meratakan pemahaman masyarakat mengenai hak anak. Karena itu memang perlu kolaborasi lintas sektor dalam perlindungan anak," tuturnya.
Warji menegaskan, keterlibatan seluruh pihak menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak. Pemerintah, keluarga, masyarakat serta Forum Anak diharapkan dapat bersama-sama membangun sistem perlindungan yang mampu memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh dan berkembang secara aman.
"Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen Pemkab Berau dalam mewujudkan Kabupaten Layak Anak (KLA), dengan memastikan anak memiliki akses untuk mendapatkan perlindungan, pendampingan serta ruang yang aman ketika menghadapi persoalan," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)