Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Proses pengalengan produk olahan hasil laut di SMK Negeri 3 Tanjung Batu, Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Inovasi pengolahan hasil laut terus dikembangkan Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Perikanan (Diskan).
Berkolaborasi dengan SMK Negeri 3 Tanjung Batu, Diskan berhasil mengembangkan produk ikan kaleng premium yang mampu bertahan hingga tiga tahun tanpa menggunakan bahan pengawet maupun penyimpanan di lemari pendingin.
Produk tersebut menjadi salah satu langkah hilirisasi sektor perikanan untuk meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan. Selain memiliki masa simpan yang panjang, produk ikan kaleng juga diharapkan mampu memperluas jangkauan pemasaran hasil laut khas Berau.
Kepala Diskan Berau, Abdul Majid mengatakan saat ini terdapat tujuh varian produk yang sedang dikembangkan, yakni suwir tuna sambal hijau, tuna pedas, mercon balelo, pesisir, sate goreng kerang, ikan asap kare dan bandeng mercon. Menurutnya, seluruh varian tersebut diolah dari hasil laut Berau yang memiliki kualitas unggul.
"Kami ingin hasil laut Berau memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Melalui pengalengan, produk menjadi lebih awet, praktis dan memiliki peluang lebih besar untuk dipasarkan, termasuk ke pasar modern," ujar Majid.
Ia menjelaskan, seluruh proses produksi dilakukan menggunakan teknologi pengalengan yang memenuhi standar keamanan pangan. Yang mana produk telah melewati uji F0 atau uji titik panas serta pengujian logam berat sehingga dipastikan aman dikonsumsi.
"Pengalengan ini berbasis uji F0 dan uji logam berat. Ketika standar tersebut terpenuhi, produk bebas dari bahan pengawet, tidak perlu disimpan di kulkas, cukup pada suhu ruangan dan mampu bertahan hingga kurang lebih tiga tahun," terangnya.
Menurutnya, pengembangan produk olahan menjadi solusi atas keterbatasan masa simpan ikan segar yang harus segera dipasarkan setelah ditangkap. Dengan masa simpan yang lebih panjang, produk memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan risiko kerugian akibat hasil tangkapan yang tidak terjual dapat diminimalkan.
"Kalau ikan segar harus segera habis terjual agar kualitasnya tetap terjaga. Sementara melalui pengalengan, hasil laut dapat disimpan dalam waktu lama sehingga memberi nilai tambah yang lebih besar bagi nelayan maupun pelaku usaha," katanya.
Oleh karena itu, Majid berharap produk hasil kolaborasi antara Diskan Berau dan SMK Negeri 3 Tanjung Batu dapat menjadi salah satu ikon kuliner khas Berau yang mampu bersaing di pasar modern.
Selain memperkenalkan potensi hasil laut daerah, inovasi tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui penguatan industri pengolahan hasil perikanan.
"Harapan kami, produk ikan kaleng premium ini dapat diterima masyarakat luas sebagai produk khas Berau yang sehat, praktis, berkualitas dan mampu meningkatkan daya saing hasil perikanan daerah," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Proses pengalengan produk olahan hasil laut di SMK Negeri 3 Tanjung Batu, Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Inovasi pengolahan hasil laut terus dikembangkan Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Perikanan (Diskan).
Berkolaborasi dengan SMK Negeri 3 Tanjung Batu, Diskan berhasil mengembangkan produk ikan kaleng premium yang mampu bertahan hingga tiga tahun tanpa menggunakan bahan pengawet maupun penyimpanan di lemari pendingin.
Produk tersebut menjadi salah satu langkah hilirisasi sektor perikanan untuk meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan. Selain memiliki masa simpan yang panjang, produk ikan kaleng juga diharapkan mampu memperluas jangkauan pemasaran hasil laut khas Berau.
Kepala Diskan Berau, Abdul Majid mengatakan saat ini terdapat tujuh varian produk yang sedang dikembangkan, yakni suwir tuna sambal hijau, tuna pedas, mercon balelo, pesisir, sate goreng kerang, ikan asap kare dan bandeng mercon. Menurutnya, seluruh varian tersebut diolah dari hasil laut Berau yang memiliki kualitas unggul.
"Kami ingin hasil laut Berau memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Melalui pengalengan, produk menjadi lebih awet, praktis dan memiliki peluang lebih besar untuk dipasarkan, termasuk ke pasar modern," ujar Majid.
Ia menjelaskan, seluruh proses produksi dilakukan menggunakan teknologi pengalengan yang memenuhi standar keamanan pangan. Yang mana produk telah melewati uji F0 atau uji titik panas serta pengujian logam berat sehingga dipastikan aman dikonsumsi.
"Pengalengan ini berbasis uji F0 dan uji logam berat. Ketika standar tersebut terpenuhi, produk bebas dari bahan pengawet, tidak perlu disimpan di kulkas, cukup pada suhu ruangan dan mampu bertahan hingga kurang lebih tiga tahun," terangnya.
Menurutnya, pengembangan produk olahan menjadi solusi atas keterbatasan masa simpan ikan segar yang harus segera dipasarkan setelah ditangkap. Dengan masa simpan yang lebih panjang, produk memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan risiko kerugian akibat hasil tangkapan yang tidak terjual dapat diminimalkan.
"Kalau ikan segar harus segera habis terjual agar kualitasnya tetap terjaga. Sementara melalui pengalengan, hasil laut dapat disimpan dalam waktu lama sehingga memberi nilai tambah yang lebih besar bagi nelayan maupun pelaku usaha," katanya.
Oleh karena itu, Majid berharap produk hasil kolaborasi antara Diskan Berau dan SMK Negeri 3 Tanjung Batu dapat menjadi salah satu ikon kuliner khas Berau yang mampu bersaing di pasar modern.
Selain memperkenalkan potensi hasil laut daerah, inovasi tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui penguatan industri pengolahan hasil perikanan.
"Harapan kami, produk ikan kaleng premium ini dapat diterima masyarakat luas sebagai produk khas Berau yang sehat, praktis, berkualitas dan mampu meningkatkan daya saing hasil perikanan daerah," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Lo)