Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Tanaman cabe. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Dinas Pangan Kabupaten Berau mendorong penerapan konsep "urban farming" sebagai salah satu solusi untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas cabai yang selama ini kerap memicu kenaikan harga pangan. Melalui pemanfaatan lahan pekarangan, masyarakat diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri sekaligus menjaga stabilitas pasokan.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau tengah menyiapkan gerakan tanam cabai yang akan melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD), sekolah, hingga masyarakat di tingkat rukun tetangga (RT). Program ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional yang menjadi salah satu prioritas pemerintah pusat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu, menjelaskan bahwa konsep urban farming sebenarnya belum diterapkan sebagai gerakan resmi di Berau. Namun, ia mengatakan daerah Berau pernah menjalankan Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang memiliki tujuan serupa, yakni mengoptimalkan lahan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
"Kalau secara gerakan memang belum ada. Tapi dulu ada Gerakan Pekarangan Pangan Lestari yang konsepnya hampir sama, yaitu memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga," ujar Tenteram.
Menurutnya, keberhasilan urban farming di sejumlah daerah menjadi bukti bahwa pemanfaatan lahan terbatas dapat meningkatkan ketahanan pangan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Karena itu, konsep ini menurut saya sangat memungkinkan diterapkan di Berau sesuai dengan kondisi dan potensi wilayah. Daerah lain saja bisa masa kita tidak bisa," tambahnya.
Dirinya menyebut, selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah, peningkatan produksi cabai di tingkat rumah tangga juga diyakini dapat menekan fluktuasi harga ketika permintaan pasar meningkat.
"Kami berharap gerakan tanam cabai bisa dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kantor-kantor OPD, sekolah hingga lingkungan RT. Semakin banyak masyarakat yang menanam, semakin besar pula peluang kita menjaga stabilitas harga cabai di Berau," katanya.
Tak hanya itu, ia juga menyampaikan, manfaat urban farming tidak hanya bisa dirasakan masyarakat di kawasan perkotaan, tetapi juga warga pesisir. Bagi keluarga nelayan, tanaman pangan di pekarangan dapat menjadi sumber kebutuhan sehari-hari ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melaut.
"Jadi jika terjadi cuaca yang tidak baik, masyarakat tetap memiliki sumber pangan dari pekarangan rumah. Dengan begitu kebutuhan keluarga tetap bisa terpenuhi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan laut," tuturnya.
Tenteram berharap melalui gerakan tersebut, budaya memanfaatkan lahan pekarangan semakin berkembang di tengah masyarakat dan memberi dampak bagi perekonomian daerah.
"Kami juga berharap dengan langkah ini bisa mengendalikan inflasi komoditas cabai, menjaga stabilitas harga pangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Tanaman cabe. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Dinas Pangan Kabupaten Berau mendorong penerapan konsep "urban farming" sebagai salah satu solusi untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas cabai yang selama ini kerap memicu kenaikan harga pangan. Melalui pemanfaatan lahan pekarangan, masyarakat diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri sekaligus menjaga stabilitas pasokan.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau tengah menyiapkan gerakan tanam cabai yang akan melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD), sekolah, hingga masyarakat di tingkat rukun tetangga (RT). Program ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional yang menjadi salah satu prioritas pemerintah pusat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu, menjelaskan bahwa konsep urban farming sebenarnya belum diterapkan sebagai gerakan resmi di Berau. Namun, ia mengatakan daerah Berau pernah menjalankan Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang memiliki tujuan serupa, yakni mengoptimalkan lahan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
"Kalau secara gerakan memang belum ada. Tapi dulu ada Gerakan Pekarangan Pangan Lestari yang konsepnya hampir sama, yaitu memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga," ujar Tenteram.
Menurutnya, keberhasilan urban farming di sejumlah daerah menjadi bukti bahwa pemanfaatan lahan terbatas dapat meningkatkan ketahanan pangan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Karena itu, konsep ini menurut saya sangat memungkinkan diterapkan di Berau sesuai dengan kondisi dan potensi wilayah. Daerah lain saja bisa masa kita tidak bisa," tambahnya.
Dirinya menyebut, selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah, peningkatan produksi cabai di tingkat rumah tangga juga diyakini dapat menekan fluktuasi harga ketika permintaan pasar meningkat.
"Kami berharap gerakan tanam cabai bisa dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kantor-kantor OPD, sekolah hingga lingkungan RT. Semakin banyak masyarakat yang menanam, semakin besar pula peluang kita menjaga stabilitas harga cabai di Berau," katanya.
Tak hanya itu, ia juga menyampaikan, manfaat urban farming tidak hanya bisa dirasakan masyarakat di kawasan perkotaan, tetapi juga warga pesisir. Bagi keluarga nelayan, tanaman pangan di pekarangan dapat menjadi sumber kebutuhan sehari-hari ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melaut.
"Jadi jika terjadi cuaca yang tidak baik, masyarakat tetap memiliki sumber pangan dari pekarangan rumah. Dengan begitu kebutuhan keluarga tetap bisa terpenuhi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan laut," tuturnya.
Tenteram berharap melalui gerakan tersebut, budaya memanfaatkan lahan pekarangan semakin berkembang di tengah masyarakat dan memberi dampak bagi perekonomian daerah.
"Kami juga berharap dengan langkah ini bisa mengendalikan inflasi komoditas cabai, menjaga stabilitas harga pangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)