Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Tak Sekadar Mata Pelajaran, Bahasa Banua Jadi Upaya Menjaga Warisan Budaya Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    08 Juli 2026 pukul 11:34 WITA

    Kepala Disdik Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Penerapan Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Banua di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) mulai tahun ajaran 2026/2027 menjadi langkah strategis Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau dalam menjaga kelestarian bahasa daerah. 

    Program tersebut tidak hanya menghadirkan mata pelajaran baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas budaya masyarakat Berau di tengah perkembangan zaman.

    Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah, menegaskan Bahasa Banua merupakan warisan budaya yang harus dikenalkan kepada generasi muda melalui lingkungan pendidikan. 

    Menurutnya, sekolah menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan kecintaan terhadap bahasa daerah sejak dini.

    "Bahasa Banua adalah identitas masyarakat asli Berau. Karena itu pemerintah daerah berkomitmen menghadirkannya di lingkungan sekolah agar generasi muda mengenal, memahami dan mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari," ujar Idalisah.

    Ia menjelaskan, penerapan kurikulum tersebut telah didukung dengan modul pembelajaran yang akan menjadi pedoman bagi seluruh guru pengampu. Tahun ini penerapan baru dimulai di tingkat SMP dan akan diperluas ke jenjang SD pada tahun ajaran berikutnya.

    "Setiap pengajar yang bertugas harus memperhatikan bahan ajar. Modul yang sudah kita launching itulah yang nanti digunakan sebagai bahan ajar di SMP. Kita baru memulai di SMP, insya Allah tahun depan di SD," katanya.

    Selain itu, Disdik Berau juga mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang mendukung penggunaan Bahasa Banua dalam aktivitas sehari-hari. Sejumlah kebijakan pun tengah disusun untuk memperkuat implementasi program tersebut.

    "Bagaimana cara melestarikan bahasa itu sendiri di lingkungan sekolah. Insya Allah kami akan mengeluarkan beberapa kebijakan bagaimana Bahasa Banua nantinya harus digunakan," jelasnya.

    Oleh karena itu, untuk menunjang pelaksanaan mata pelajaran tersebut, Disdik telah menunjuk koordinator serta guru pengampu, tenaga pendidik yang memiliki minat mengajar Bahasa Banua akan dilibatkan agar kebutuhan pengajar dapat terpenuhi.

    "Kita sudah tunjuk koordinator dan guru. Saat ini juga sedang kita urus supaya linier dengan mata pelajaran. Jadi bisa saja guru lain atau mereka yang memang berminat mengajar," ungkapnya.

    Menurut Idalisah, kebijakan ini juga memberikan manfaat bagi para guru yang masih kekurangan jam mengajar. Mereka dapat diberi tugas mengampu mata pelajaran Bahasa Banua sehingga beban kerja tetap terpenuhi, sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya daerah.

    "Keuntungannya banyak. Yang pertama Bahasa Banua bisa tersosialisasikan dan dilestarikan dengan baik. Kedua, bagi guru yang jam mengajarnya masih kurang, mereka bisa ditugaskan mengajar Bahasa Banua sehingga jam mengajar mereka menjadi cukup," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Tak Sekadar Mata Pelajaran, Bahasa Banua Jadi Upaya Menjaga Warisan Budaya Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    08 Juli 2026 pukul 11:34 WITA

    Kepala Disdik Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Penerapan Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Banua di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) mulai tahun ajaran 2026/2027 menjadi langkah strategis Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau dalam menjaga kelestarian bahasa daerah. 

    Program tersebut tidak hanya menghadirkan mata pelajaran baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas budaya masyarakat Berau di tengah perkembangan zaman.

    Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah, menegaskan Bahasa Banua merupakan warisan budaya yang harus dikenalkan kepada generasi muda melalui lingkungan pendidikan. 

    Menurutnya, sekolah menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan kecintaan terhadap bahasa daerah sejak dini.

    "Bahasa Banua adalah identitas masyarakat asli Berau. Karena itu pemerintah daerah berkomitmen menghadirkannya di lingkungan sekolah agar generasi muda mengenal, memahami dan mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari," ujar Idalisah.

    Ia menjelaskan, penerapan kurikulum tersebut telah didukung dengan modul pembelajaran yang akan menjadi pedoman bagi seluruh guru pengampu. Tahun ini penerapan baru dimulai di tingkat SMP dan akan diperluas ke jenjang SD pada tahun ajaran berikutnya.

    "Setiap pengajar yang bertugas harus memperhatikan bahan ajar. Modul yang sudah kita launching itulah yang nanti digunakan sebagai bahan ajar di SMP. Kita baru memulai di SMP, insya Allah tahun depan di SD," katanya.

    Selain itu, Disdik Berau juga mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang mendukung penggunaan Bahasa Banua dalam aktivitas sehari-hari. Sejumlah kebijakan pun tengah disusun untuk memperkuat implementasi program tersebut.

    "Bagaimana cara melestarikan bahasa itu sendiri di lingkungan sekolah. Insya Allah kami akan mengeluarkan beberapa kebijakan bagaimana Bahasa Banua nantinya harus digunakan," jelasnya.

    Oleh karena itu, untuk menunjang pelaksanaan mata pelajaran tersebut, Disdik telah menunjuk koordinator serta guru pengampu, tenaga pendidik yang memiliki minat mengajar Bahasa Banua akan dilibatkan agar kebutuhan pengajar dapat terpenuhi.

    "Kita sudah tunjuk koordinator dan guru. Saat ini juga sedang kita urus supaya linier dengan mata pelajaran. Jadi bisa saja guru lain atau mereka yang memang berminat mengajar," ungkapnya.

    Menurut Idalisah, kebijakan ini juga memberikan manfaat bagi para guru yang masih kekurangan jam mengajar. Mereka dapat diberi tugas mengampu mata pelajaran Bahasa Banua sehingga beban kerja tetap terpenuhi, sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya daerah.

    "Keuntungannya banyak. Yang pertama Bahasa Banua bisa tersosialisasikan dan dilestarikan dengan baik. Kedua, bagi guru yang jam mengajarnya masih kurang, mereka bisa ditugaskan mengajar Bahasa Banua sehingga jam mengajar mereka menjadi cukup," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)