Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Tak Lagi Manual, Pengurusan BBM Subsidi Nelayan Berau kini Wajib Lewat Aplikasi XStar

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    08 Juli 2026 pukul 23:46 WITA

    Sekretaris Diskan Berau, Yunda Zuliarsih. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pengurusan surat rekomendasi pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi bagi nelayan di Kabupaten Berau kini tidak lagi dilakukan secara manual. Dinas Perikanan (Diskan) Berau mulai menerapkan penggunaan aplikasi XStar sesuai kebijakan dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), sehingga seluruh proses pengajuan dilakukan secara digital.

    Sekretaris Diskan Berau, Yunda Zuliarsih, mengatakan perubahan sistem tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan ketepatan penyaluran BBM subsidi kepada nelayan yang berhak. Saat ini, setiap nelayan yang mengajukan rekomendasi diwajibkan terdaftar dalam aplikasi XStar.

    "Jadi sebenarnya sekarang ini untuk mengeluarkan rekomendasi BBM subsidi harus melalui aplikasi XStar. Dari BPH Migas sudah mewajibkan itu dan kami saat ini sedang mensosialisasikan kepada nelayan. Kalau dulu kami masih bisa memberikan rekomendasi secara manual, sekarang sudah tidak bisa lagi," ujar Yunda.

    Ia menjelaskan, syarat utama untuk dapat mengakses aplikasi XStar adalah memiliki Kartu Kusuka sebagai identitas resmi nelayan. Setelah data diverifikasi, nelayan akan memperoleh barcode yang digunakan sebagai dasar penerbitan surat rekomendasi.

    "Yang penting mereka memiliki Kartu Kusuka. Setelah terdaftar di aplikasi XStar dan memiliki barcode, Insya Allah mereka bisa memperoleh rekomendasi BBM subsidi sesuai kuota yang ditetapkan oleh BPH Migas," katanya.

    Dirinya menjelaskan meski pengajuan dilakukan melalui aplikasi, surat rekomendasi tetap diterbitkan oleh Diskan. Karena itu, pihaknya terus membuka layanan pendampingan bagi nelayan yang belum memahami mekanisme penggunaan aplikasi.

    "Rekomendasinya tetap dari Diskan. Mereka datang membawa data-data, lalu kami ajarkan cara menggunakan aplikasinya. Dari bulan Mei kemarin rame para nelayan yang mengurus datang bisa 10 sampai 20 nelayan dalam sehari semua petugas ikut membantu.  Sekarang sudah tidak terlalu rame tapi ada saja yang masih datang," terangnya.

    Sementara itu, ia mengatakan bahwa aplikasi XStar sebenarnya telah diperkenalkan sejak tahun lalu dan Diskan juga telah melakukan bimbingan teknis (bimtek). Namun, penerapan penuh baru dilakukan setelah BPH Migas menghentikan penggunaan rekomendasi manual.

    "Sebenarnya XStar ini sudah dari tahun lalu, bahkan kita sudah sempat bimtek. Cuma beberapa kali kita mau aplikasikan kan masih bisa ditolerir ya. Cuma ini sejak Juni benar-benar harus diterapkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, sistem ini harus kita implementasikan," tegasnya.

    Yunda pun mengakui masih terdapat beberapa kendala selama masa transisi, terutama karena tidak semua nelayan terbiasa menggunakan layanan berbasis digital. Selain itu, kualitas jaringan internet yang belum stabil juga kerap memperlambat proses pendaftaran.

    "Kami akan terus mendampingi nelayan hingga seluruh proses pengajuan dapat dilakukan secara mandiri. Kami juga berharap dengan penerapan aplikasi ini bisa membuat penyaluran BBM subsidi lebih tertib, transparan, dan tepat sasaran bagi nelayan yang benar-benar berhak menerima," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Tak Lagi Manual, Pengurusan BBM Subsidi Nelayan Berau kini Wajib Lewat Aplikasi XStar

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    08 Juli 2026 pukul 23:46 WITA

    Sekretaris Diskan Berau, Yunda Zuliarsih. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pengurusan surat rekomendasi pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi bagi nelayan di Kabupaten Berau kini tidak lagi dilakukan secara manual. Dinas Perikanan (Diskan) Berau mulai menerapkan penggunaan aplikasi XStar sesuai kebijakan dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), sehingga seluruh proses pengajuan dilakukan secara digital.

    Sekretaris Diskan Berau, Yunda Zuliarsih, mengatakan perubahan sistem tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan ketepatan penyaluran BBM subsidi kepada nelayan yang berhak. Saat ini, setiap nelayan yang mengajukan rekomendasi diwajibkan terdaftar dalam aplikasi XStar.

    "Jadi sebenarnya sekarang ini untuk mengeluarkan rekomendasi BBM subsidi harus melalui aplikasi XStar. Dari BPH Migas sudah mewajibkan itu dan kami saat ini sedang mensosialisasikan kepada nelayan. Kalau dulu kami masih bisa memberikan rekomendasi secara manual, sekarang sudah tidak bisa lagi," ujar Yunda.

    Ia menjelaskan, syarat utama untuk dapat mengakses aplikasi XStar adalah memiliki Kartu Kusuka sebagai identitas resmi nelayan. Setelah data diverifikasi, nelayan akan memperoleh barcode yang digunakan sebagai dasar penerbitan surat rekomendasi.

    "Yang penting mereka memiliki Kartu Kusuka. Setelah terdaftar di aplikasi XStar dan memiliki barcode, Insya Allah mereka bisa memperoleh rekomendasi BBM subsidi sesuai kuota yang ditetapkan oleh BPH Migas," katanya.

    Dirinya menjelaskan meski pengajuan dilakukan melalui aplikasi, surat rekomendasi tetap diterbitkan oleh Diskan. Karena itu, pihaknya terus membuka layanan pendampingan bagi nelayan yang belum memahami mekanisme penggunaan aplikasi.

    "Rekomendasinya tetap dari Diskan. Mereka datang membawa data-data, lalu kami ajarkan cara menggunakan aplikasinya. Dari bulan Mei kemarin rame para nelayan yang mengurus datang bisa 10 sampai 20 nelayan dalam sehari semua petugas ikut membantu.  Sekarang sudah tidak terlalu rame tapi ada saja yang masih datang," terangnya.

    Sementara itu, ia mengatakan bahwa aplikasi XStar sebenarnya telah diperkenalkan sejak tahun lalu dan Diskan juga telah melakukan bimbingan teknis (bimtek). Namun, penerapan penuh baru dilakukan setelah BPH Migas menghentikan penggunaan rekomendasi manual.

    "Sebenarnya XStar ini sudah dari tahun lalu, bahkan kita sudah sempat bimtek. Cuma beberapa kali kita mau aplikasikan kan masih bisa ditolerir ya. Cuma ini sejak Juni benar-benar harus diterapkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, sistem ini harus kita implementasikan," tegasnya.

    Yunda pun mengakui masih terdapat beberapa kendala selama masa transisi, terutama karena tidak semua nelayan terbiasa menggunakan layanan berbasis digital. Selain itu, kualitas jaringan internet yang belum stabil juga kerap memperlambat proses pendaftaran.

    "Kami akan terus mendampingi nelayan hingga seluruh proses pengajuan dapat dilakukan secara mandiri. Kami juga berharap dengan penerapan aplikasi ini bisa membuat penyaluran BBM subsidi lebih tertib, transparan, dan tepat sasaran bagi nelayan yang benar-benar berhak menerima," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)