Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Sinergi Berau-Kutim Kian Matang, Disbudpar Optimistis Raih Status Geopark Nasional

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    10 Juli 2026 pukul 21:08 WITA

    Labuan Cermin, salah satu geosite unggulan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat di Kabupaten Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Sinergi pengembangan Geopark antara Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai semakin matang. Pemerintah Kabupaten Berau optimistis kolaborasi tersebut mampu mengantarkan kawasan Sangkulirang-Mangkalihat meraih status Geopark Nasional setelah melalui proses verifikasi lapangan dan evaluasi dokumen.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan perpaduan potensi yang dimiliki kedua daerah menjadi nilai unggulan dalam proses penilaian. Menurutnya, karakteristik geologi, bentang alam, hingga potensi wisata Berau dan Kutim saling melengkapi.

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    "Perpaduan Kutim dan Berau itu sangat baik. Kalau di Kutim keunggulannya lebih kuat di geosite karst yang berupa pegunungan dengan goa-goa yang sangat banyak, termasuk budayanya. Sementara kita di Berau, pengembangan ekonomi, pariwisata, dan geosite nya sudah jauh lebih berkembang dengan keunggulan di wilayah pesisir serta kepulauan. Jadi pegunungan ketemu pesisir, ini perpaduan yang sangat bagus," ujar Yudha.

    Dirinya menjelaskan, dari sisi geologi kawasan Sangkulirang-Mangkalihat telah memiliki kualitas batuan, bentang alam, dan keanekaragaman hayati yang sangat kuat. Komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kawasan hutan lindung juga menjadi salah satu nilai penting dalam mendukung pengajuan Geopark Nasional.

    "Dalam proses pengajuan terdapat 26 usulan geosite yang diajukan, terdiri atas 15 geosite dari Kabupaten Berau dan 11 geosite dari Kabupaten Kutim," katanya.

    Ia pun menegaskan bahwa meski tim verifikator belum sempat mengunjungi seluruh lokasi karena keterbatasan waktu, seluruh geosite tetap dinilai melalui dokumen administrasi dan data pendukung yang telah disiapkan.

    Sementara itu, dirinya menyampaikan, proses verifikasi tidak hanya dilakukan di lapangan, tetapi juga melalui pembahasan dokumen secara mendalam. Bersama tim, ia pun turut mendampingi proses evaluasi untuk memastikan seluruh data yang dibutuhkan dapat dipenuhi.

    "Dari hasil kami membedah dokumen dan data-data tersebut memang ada beberapa catatan perbaikan. Ada data dukung yang masih kurang lengkap atau kurang sesuai, sehingga kami diminta untuk mencari dan menyusun ulang data itu," tuturnya.

    Oleh karena itu, tim verifikator memberikan waktu selama satu bulan kepada pemerintah daerah untuk melengkapi seluruh dokumen yang masih menjadi catatan. 

    Meski demikian, Yudha optimistis seluruh kekurangan tersebut dapat segera dipenuhi sehingga peluang memperoleh status Geopark Nasional semakin besar sebelum melangkah menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.

    "Penilaiannya sangat kompleks. Mulai dari bagaimana upaya pelestarian dan perlindungan kawasannya, penerapan di dunia pendidikan seperti hasil penelitian dan karya ilmiah yang sudah ada, hingga keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga serta memanfaatkan geopark untuk pemberdayaan ekonomi mereka. Intinya ada tiga pilar utama yakni kelestarian, ekonomi, dan budaya," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Sinergi Berau-Kutim Kian Matang, Disbudpar Optimistis Raih Status Geopark Nasional

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    10 Juli 2026 pukul 21:08 WITA

    Labuan Cermin, salah satu geosite unggulan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat di Kabupaten Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Sinergi pengembangan Geopark antara Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai semakin matang. Pemerintah Kabupaten Berau optimistis kolaborasi tersebut mampu mengantarkan kawasan Sangkulirang-Mangkalihat meraih status Geopark Nasional setelah melalui proses verifikasi lapangan dan evaluasi dokumen.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan perpaduan potensi yang dimiliki kedua daerah menjadi nilai unggulan dalam proses penilaian. Menurutnya, karakteristik geologi, bentang alam, hingga potensi wisata Berau dan Kutim saling melengkapi.

    Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    "Perpaduan Kutim dan Berau itu sangat baik. Kalau di Kutim keunggulannya lebih kuat di geosite karst yang berupa pegunungan dengan goa-goa yang sangat banyak, termasuk budayanya. Sementara kita di Berau, pengembangan ekonomi, pariwisata, dan geosite nya sudah jauh lebih berkembang dengan keunggulan di wilayah pesisir serta kepulauan. Jadi pegunungan ketemu pesisir, ini perpaduan yang sangat bagus," ujar Yudha.

    Dirinya menjelaskan, dari sisi geologi kawasan Sangkulirang-Mangkalihat telah memiliki kualitas batuan, bentang alam, dan keanekaragaman hayati yang sangat kuat. Komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kawasan hutan lindung juga menjadi salah satu nilai penting dalam mendukung pengajuan Geopark Nasional.

    "Dalam proses pengajuan terdapat 26 usulan geosite yang diajukan, terdiri atas 15 geosite dari Kabupaten Berau dan 11 geosite dari Kabupaten Kutim," katanya.

    Ia pun menegaskan bahwa meski tim verifikator belum sempat mengunjungi seluruh lokasi karena keterbatasan waktu, seluruh geosite tetap dinilai melalui dokumen administrasi dan data pendukung yang telah disiapkan.

    Sementara itu, dirinya menyampaikan, proses verifikasi tidak hanya dilakukan di lapangan, tetapi juga melalui pembahasan dokumen secara mendalam. Bersama tim, ia pun turut mendampingi proses evaluasi untuk memastikan seluruh data yang dibutuhkan dapat dipenuhi.

    "Dari hasil kami membedah dokumen dan data-data tersebut memang ada beberapa catatan perbaikan. Ada data dukung yang masih kurang lengkap atau kurang sesuai, sehingga kami diminta untuk mencari dan menyusun ulang data itu," tuturnya.

    Oleh karena itu, tim verifikator memberikan waktu selama satu bulan kepada pemerintah daerah untuk melengkapi seluruh dokumen yang masih menjadi catatan. 

    Meski demikian, Yudha optimistis seluruh kekurangan tersebut dapat segera dipenuhi sehingga peluang memperoleh status Geopark Nasional semakin besar sebelum melangkah menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.

    "Penilaiannya sangat kompleks. Mulai dari bagaimana upaya pelestarian dan perlindungan kawasannya, penerapan di dunia pendidikan seperti hasil penelitian dan karya ilmiah yang sudah ada, hingga keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga serta memanfaatkan geopark untuk pemberdayaan ekonomi mereka. Intinya ada tiga pilar utama yakni kelestarian, ekonomi, dan budaya," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)