Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Produktivitas Tambak Meningkat, Program SECURE Perkuat Budi Daya Berkelanjutan di Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    16 Juni 2026 pukul 16:00 WITA

    Dok. Udang windu Berau saat dipanen di tambak Pegat Batumbuk. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Program Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) di Kabupaten Berau membuktikan pengelolaan tambak berbasis ekosistem mampu meningkatkan produktivitas meski area budi daya yang dimanfaatkan semakin terbatas. 

    Pendekatan ini juga dinilai mampu menjaga keseimbangan antara produksi perikanan dan pelestarian lingkungan.

    Hal tersebut terlihat dari panen yang dilaksanakan pada 3 Juni 2026 di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran. Program yang didukung Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Perikanan Kabupaten Berau melalui Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) menunjukkan hasil positif dari penerapan tambak ramah lingkungan.

    Salah satu petambak, Abdul Rahman, berhasil memanen 115 kilogram udang windu, 141 kilogram udang bintik, 1,9 ton ikan bandeng dan 50 kilogram kepiting bakau dari tambaknya di Kampung Pegat Batumbuk.

    Ia mengatakan, penerapan metode SECURE memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pola budi daya sebelumnya. Selain produksi udang meningkat, komoditas lain seperti bandeng dan kepiting bakau juga memberikan tambahan pendapatan bagi petambak.

    "Hasil panen kali ini menunjukkan bahwa pengelolaan tambak yang lebih memperhatikan kondisi lingkungan dapat memberikan hasil yang baik. Selain udang, kami juga mendapatkan bandeng dan kepiting bakau," ujar Rahman.

    Ia menjelaskan, sebelum menerapkan pendekatan SECURE, produksi udang windu di tambaknya rata-rata hanya sekitar 100 kilogram setiap panen. Namun, produksi udang windu meningkat sekitar 15 persen dibanding sebelum menerapkan pendekatan SECURE.

    "Sebelum menerapkan pendekatan SECURE, hasil panen udang windu kami rata-rata sekitar 100 kilogram. Sekarang meningkat menjadi 115 kilogram meski area budidaya yang dimanfaatkan hanya sekitar 20 persen," katanya.

    Melalui program SECURE, petambak juga memperoleh pendampingan dalam mengelola tambak secara lebih efisien dan berkelanjutan. Pendampingan tersebut meliputi pelatihan pembuatan kompos dan mikroorganisme lokal (MOL) untuk menjaga kualitas lingkungan tambak sekaligus meningkatkan produktivitas.

    "Pendampingan melalui program SECURE tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mengajarkan petambak mengelola tambak secara lebih efisien dan berkelanjutan, termasuk melalui pembuatan kompos dan mikroorganisme lokal," terangnya.

    Rahman mengatakan program SECURE mengalokasikan sekitar 20 persen kawasan untuk kegiatan budidaya, sementara 80 persen sisanya dipertahankan sebagai kawasan mangrove. Pola tersebut membuktikan bahwa peningkatan hasil panen dapat dicapai tanpa mengorbankan fungsi ekologis kawasan pesisir.

    "Pendekatan budi daya berbasis ekosistem membuktikan bahwa produksi perikanan dapat terus meningkat tanpa mengabaikan upaya pelestarian mangrove sebagai penyangga kawasan pesisir," tutupnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Produktivitas Tambak Meningkat, Program SECURE Perkuat Budi Daya Berkelanjutan di Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    16 Juni 2026 pukul 16:00 WITA

    Dok. Udang windu Berau saat dipanen di tambak Pegat Batumbuk. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Program Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) di Kabupaten Berau membuktikan pengelolaan tambak berbasis ekosistem mampu meningkatkan produktivitas meski area budi daya yang dimanfaatkan semakin terbatas. 

    Pendekatan ini juga dinilai mampu menjaga keseimbangan antara produksi perikanan dan pelestarian lingkungan.

    Hal tersebut terlihat dari panen yang dilaksanakan pada 3 Juni 2026 di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran. Program yang didukung Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Perikanan Kabupaten Berau melalui Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) menunjukkan hasil positif dari penerapan tambak ramah lingkungan.

    Salah satu petambak, Abdul Rahman, berhasil memanen 115 kilogram udang windu, 141 kilogram udang bintik, 1,9 ton ikan bandeng dan 50 kilogram kepiting bakau dari tambaknya di Kampung Pegat Batumbuk.

    Ia mengatakan, penerapan metode SECURE memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pola budi daya sebelumnya. Selain produksi udang meningkat, komoditas lain seperti bandeng dan kepiting bakau juga memberikan tambahan pendapatan bagi petambak.

    "Hasil panen kali ini menunjukkan bahwa pengelolaan tambak yang lebih memperhatikan kondisi lingkungan dapat memberikan hasil yang baik. Selain udang, kami juga mendapatkan bandeng dan kepiting bakau," ujar Rahman.

    Ia menjelaskan, sebelum menerapkan pendekatan SECURE, produksi udang windu di tambaknya rata-rata hanya sekitar 100 kilogram setiap panen. Namun, produksi udang windu meningkat sekitar 15 persen dibanding sebelum menerapkan pendekatan SECURE.

    "Sebelum menerapkan pendekatan SECURE, hasil panen udang windu kami rata-rata sekitar 100 kilogram. Sekarang meningkat menjadi 115 kilogram meski area budidaya yang dimanfaatkan hanya sekitar 20 persen," katanya.

    Melalui program SECURE, petambak juga memperoleh pendampingan dalam mengelola tambak secara lebih efisien dan berkelanjutan. Pendampingan tersebut meliputi pelatihan pembuatan kompos dan mikroorganisme lokal (MOL) untuk menjaga kualitas lingkungan tambak sekaligus meningkatkan produktivitas.

    "Pendampingan melalui program SECURE tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mengajarkan petambak mengelola tambak secara lebih efisien dan berkelanjutan, termasuk melalui pembuatan kompos dan mikroorganisme lokal," terangnya.

    Rahman mengatakan program SECURE mengalokasikan sekitar 20 persen kawasan untuk kegiatan budidaya, sementara 80 persen sisanya dipertahankan sebagai kawasan mangrove. Pola tersebut membuktikan bahwa peningkatan hasil panen dapat dicapai tanpa mengorbankan fungsi ekologis kawasan pesisir.

    "Pendekatan budi daya berbasis ekosistem membuktikan bahwa produksi perikanan dapat terus meningkat tanpa mengabaikan upaya pelestarian mangrove sebagai penyangga kawasan pesisir," tutupnya. (Adv)

    (Sf/Lo)