Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Potensi Perikanan Berau Besar, Dinas Perikanan Fokus Kembangkan Industri Pengolahan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    30 Juli 2026 pukul 11:17 WITA

    Kepala Diskan Berau, Abdul Majid. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Besarnya potensi sumber daya perikanan di Kabupaten Berau dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi yang optimal. Melihat kondisi tersebut, Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau mulai memfokuskan pengembangan industri pengolahan hasil perikanan melalui Program Hilir Berau sebagai strategi memperkuat hilirisasi sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.

    Program yang merupakan proyek perubahan Kepala Diskan Berau, Abdul Majid, itu diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada penjualan ikan segar. Selama ini, sebagian besar hasil tangkapan nelayan masih dipasarkan dalam bentuk mentah sehingga peluang memperoleh nilai tambah dari proses pengolahan belum dimanfaatkan secara maksimal.

    Berdasarkan data Diskan Berau, potensi perikanan daerah mencapai 104.915 ton per tahun. Namun, produksi hasil olahan baru sekitar 3.779 ton per tahun atau hanya 3,6 persen dari total potensi yang tersedia. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk mempercepat pengembangan industri pengolahan hasil laut.

    Kepala Diskan Berau, Abdul Majid, mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah inovatif agar hasil perikanan Berau tidak hanya dipasarkan sebagai bahan baku, tetapi mampu menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

    "Dengan potensi yang ada, kami melakukan langkah inovasi. Selama ini produk perikanan Berau masih didominasi ikan segar. Kini kami mengembangkan produk olahan," ujar Majid.

    Menurutnya, pengembangan industri pengolahan menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan daya saing sektor perikanan Berau. Melalui Program Hilir Berau, pemerintah ingin mendorong lahirnya produk-produk olahan, termasuk pengalengan ikan premium yang memiliki peluang pasar lebih luas.

    "Ke depan, pemerintah daerah ingin memperkuat sektor pengolahan agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah yang memiliki daya saing lebih tinggi di pasar," katanya.

    Ia mengatakan program tersebut juga sejalan dengan kebijakan nasional dalam mendukung ekonomi biru (Blue Economy) dan industrialisasi berbasis sumber daya lokal. Selain itu, hilirisasi diharapkan mampu memperkuat peran UMKM yang bergerak di bidang pengolahan hasil perikanan sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

    Dalam proyeksi Diskan, hilirisasi mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan hingga 3,62 kali lipat atau sekitar 262 persen dibandingkan penjualan produk mentah. Pendapatan UMKM pengolahan ikan bahkan diperkirakan meningkat dari rata-rata Rp8 juta menjadi sekitar Rp29 juta per bulan.

    Majid optimistis Program Hilir Berau akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru di sektor perikanan. Selain meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha, program tersebut juga diyakini mampu membuka lapangan kerja, menarik investasi, serta memperkuat posisi produk perikanan Berau di pasar regional maupun nasional.

    "Hilirisasi bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keharusan. Dengan mengembangkan industri pengolahan, kami ingin potensi perikanan Berau benar-benar mampu memberikan nilai tambah dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Potensi Perikanan Berau Besar, Dinas Perikanan Fokus Kembangkan Industri Pengolahan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    30 Juli 2026 pukul 11:17 WITA

    Kepala Diskan Berau, Abdul Majid. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Besarnya potensi sumber daya perikanan di Kabupaten Berau dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi yang optimal. Melihat kondisi tersebut, Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau mulai memfokuskan pengembangan industri pengolahan hasil perikanan melalui Program Hilir Berau sebagai strategi memperkuat hilirisasi sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.

    Program yang merupakan proyek perubahan Kepala Diskan Berau, Abdul Majid, itu diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada penjualan ikan segar. Selama ini, sebagian besar hasil tangkapan nelayan masih dipasarkan dalam bentuk mentah sehingga peluang memperoleh nilai tambah dari proses pengolahan belum dimanfaatkan secara maksimal.

    Berdasarkan data Diskan Berau, potensi perikanan daerah mencapai 104.915 ton per tahun. Namun, produksi hasil olahan baru sekitar 3.779 ton per tahun atau hanya 3,6 persen dari total potensi yang tersedia. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk mempercepat pengembangan industri pengolahan hasil laut.

    Kepala Diskan Berau, Abdul Majid, mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah inovatif agar hasil perikanan Berau tidak hanya dipasarkan sebagai bahan baku, tetapi mampu menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

    "Dengan potensi yang ada, kami melakukan langkah inovasi. Selama ini produk perikanan Berau masih didominasi ikan segar. Kini kami mengembangkan produk olahan," ujar Majid.

    Menurutnya, pengembangan industri pengolahan menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan daya saing sektor perikanan Berau. Melalui Program Hilir Berau, pemerintah ingin mendorong lahirnya produk-produk olahan, termasuk pengalengan ikan premium yang memiliki peluang pasar lebih luas.

    "Ke depan, pemerintah daerah ingin memperkuat sektor pengolahan agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah yang memiliki daya saing lebih tinggi di pasar," katanya.

    Ia mengatakan program tersebut juga sejalan dengan kebijakan nasional dalam mendukung ekonomi biru (Blue Economy) dan industrialisasi berbasis sumber daya lokal. Selain itu, hilirisasi diharapkan mampu memperkuat peran UMKM yang bergerak di bidang pengolahan hasil perikanan sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

    Dalam proyeksi Diskan, hilirisasi mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan hingga 3,62 kali lipat atau sekitar 262 persen dibandingkan penjualan produk mentah. Pendapatan UMKM pengolahan ikan bahkan diperkirakan meningkat dari rata-rata Rp8 juta menjadi sekitar Rp29 juta per bulan.

    Majid optimistis Program Hilir Berau akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru di sektor perikanan. Selain meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha, program tersebut juga diyakini mampu membuka lapangan kerja, menarik investasi, serta memperkuat posisi produk perikanan Berau di pasar regional maupun nasional.

    "Hilirisasi bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keharusan. Dengan mengembangkan industri pengolahan, kami ingin potensi perikanan Berau benar-benar mampu memberikan nilai tambah dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)