Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Tari Baliu Dalling. (Sumber: YouTube Kemendikbud RI)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus memperkuat identitas daerah melalui pengembangan karya budaya sebagai bagian dari promosi pariwisata.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas daya tarik wisata Berau yang selama ini dikenal dengan kekayaan alam, khususnya kawasan Derawan dan Maratua. Disbudpar menilai potensi alam akan semakin kuat apabila dipadukan dengan budaya yang menjadi karakter masyarakat setempat.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan budaya memiliki peran penting dalam memberikan identitas bagi sebuah destinasi. Karena itu, pengembangan pariwisata perlu dilakukan bersamaan dengan upaya menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah.
"Karena budaya inilah yang memberikan identitas dan karakter terhadap sebuah destinasi. Pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan keindahan alam jadi harus berjalan beriringan dengan penguatan kebudayaan," ujar Yudha.
Ia pun mengatakan salah satu langkah konkret diwujudkan melalui kolaborasi Disbudpar Berau bersama Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN) dalam program "Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya".
Dirinya menyebut program tersebut menghasilkan tiga motif batik yang terinspirasi dari kekayaan kawasan Derawan dan Maratua, yakni Bokko' Lumangi, Buung Embal Naban, dan Goyak.
"Ketiga motif ini menggambarkan interpretasi terhadap lingkungan, kehidupan masyarakat, serta kekayaan budaya yang berkembang di kawasan pesisir Berau," terangnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa program ini juga menghadirkan kembali Tari Baliu Dalling melalui proses riset budaya, pengembangan koreografi hingga aransemen musik. Penggarapannya tetap mempertahankan akar nilai budaya masyarakat Bajau sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya.
Program Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya resmi diluncurkan pada 30 Juli 2026 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta. Program tersebut mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesia Raya yang dikelola LPDP.
Yudha menyebut karya budaya seperti batik dan seni tari tidak hanya memiliki nilai pelestarian, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan Berau kepada wisatawan. Di sisi lain, pengembangan produk budaya juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku seni dan masyarakat.
"Melalui program ini kami ingin memperluas cara memperkenalkan daerah kepada wisatawan. Tidak hanya melalui panorama alam Derawan dan Maratua, tetapi juga lewat karya budaya yang membawa cerita, nilai, dan identitas masyarakat Berau," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Tari Baliu Dalling. (Sumber: YouTube Kemendikbud RI)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus memperkuat identitas daerah melalui pengembangan karya budaya sebagai bagian dari promosi pariwisata.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas daya tarik wisata Berau yang selama ini dikenal dengan kekayaan alam, khususnya kawasan Derawan dan Maratua. Disbudpar menilai potensi alam akan semakin kuat apabila dipadukan dengan budaya yang menjadi karakter masyarakat setempat.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan budaya memiliki peran penting dalam memberikan identitas bagi sebuah destinasi. Karena itu, pengembangan pariwisata perlu dilakukan bersamaan dengan upaya menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah.
"Karena budaya inilah yang memberikan identitas dan karakter terhadap sebuah destinasi. Pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan keindahan alam jadi harus berjalan beriringan dengan penguatan kebudayaan," ujar Yudha.
Ia pun mengatakan salah satu langkah konkret diwujudkan melalui kolaborasi Disbudpar Berau bersama Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN) dalam program "Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya".
Dirinya menyebut program tersebut menghasilkan tiga motif batik yang terinspirasi dari kekayaan kawasan Derawan dan Maratua, yakni Bokko' Lumangi, Buung Embal Naban, dan Goyak.
"Ketiga motif ini menggambarkan interpretasi terhadap lingkungan, kehidupan masyarakat, serta kekayaan budaya yang berkembang di kawasan pesisir Berau," terangnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa program ini juga menghadirkan kembali Tari Baliu Dalling melalui proses riset budaya, pengembangan koreografi hingga aransemen musik. Penggarapannya tetap mempertahankan akar nilai budaya masyarakat Bajau sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya.
Program Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya resmi diluncurkan pada 30 Juli 2026 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta. Program tersebut mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesia Raya yang dikelola LPDP.
Yudha menyebut karya budaya seperti batik dan seni tari tidak hanya memiliki nilai pelestarian, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan Berau kepada wisatawan. Di sisi lain, pengembangan produk budaya juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku seni dan masyarakat.
"Melalui program ini kami ingin memperluas cara memperkenalkan daerah kepada wisatawan. Tidak hanya melalui panorama alam Derawan dan Maratua, tetapi juga lewat karya budaya yang membawa cerita, nilai, dan identitas masyarakat Berau," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)