Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Pemerintah Kabupaten Berau Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Peresmian Galeri Tenun M@m@be

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    11 Juli 2026 pukul 22:17 WITA

    Produk dan kain tenun yang ada di Galeri M@M@Be. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Berau terus menunjukkan tren pertumbuhan yang menggembirakan. Guna mendorong produk lokal agar semakin bersaing dan naik kelas, peresmian Galeri Tenun M@m@be yang terletak di Jalan Pemuda, Gang Muslimin, Tanjung Redeb, ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan industri kreatif, khususnya kerajinan tenun khas daerah. 

    Dalam sambutannya, Kepala Diskoperindag diwakili oleh Sekretaris Diskoperindag Berau, Hasnawati menekankan bahwa kuantitas pertumbuhan UMKM Berau sudah sangat positif. Namun, tantangan besar berikutnya adalah memacu pertumbuhan secara kualitatif agar UMKM bisa benar-benar naik kelas.

    "UMKM naik kelas itu ditandai dengan peningkatan income (pendapatan), penambahan tenaga kerja, serta perluasan pasar. Misal kalau dari tahun-tahun kemarin jumlah tenaga kerjanya dua orang, lalu tiga tahun ke depan tetap dua orang, artinya belum naik kelas. Ini yang harus terus kita dorong," ujar Hasnawati.

    Ia pun menyampaikan, untuk memenangkan persaingan pasar yang semakin ketat, para pelaku usaha diimbau untuk memegang teguh tiga pilar utama, yaitu menjaga kualitas produk secara konsisten, menetapkan harga yang kompetitif, dan memberikan pelayanan yang terbaik.

    "Jangan pakai prinsip aji mumpung, merasa sebagai satu-satunya produsen lalu menjual dengan harga semaunya. Sekali konsumen kecewa, dampaknya panjang," tambahnya.

    Terakhir, Hasnawati berharap galeri ini mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru di Bumi Batiwakkal.

    Sementara itu, Owner Tenun M@m@be, Sonia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas terwujudnya galeri mandiri ini setelah melalui perjalanan panjang yang penuh liku. Ia mengapresiasi kolaborasi dari berbagai pihak yang terjalin erat antara PKK, Diskoperindag, pihak ketiga, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau.

    Ia menceritakan, sejarah tenun di Berau tidak lepas dari tantangan yang diberikan oleh Ketua Dekranasda Berau terdahulu pada tahun 2016, dan didukung penuh oleh Diskoperindag.

    "Awalnya Berau belum memiliki kerajinan tenun. Kami memulainya dengan alat gedogan. Seiring berjalannya waktu dan berkat dukungan luar biasa dari Pemerintah Kabupaten Berau, kami beralih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)," kata Sonia.

    Peralihan ke teknologi ATBM ini berhasil mengatasi kendala kain gedogan yang dinilai terlalu tebal dan berharga mahal. Kini, kain Tenun Berau jauh lebih variatif dan harganya kian terjangkau oleh semua kalangan masyarakat, baik kelas menengah ke atas maupun menengah ke bawah. 

    Namun, dibalik itu semua ia mengakui bahwa industri tenun lokal saat ini menghadapi ancaman serius terkait regenerasi pengrajin.

    "Harapan terbesar saya adalah adanya kaderisasi. Saat ini, mayoritas pengrajin tenun yang bertahan adalah mereka yang sudah lanjut usia, di mana kemampuan fisik dan penglihatan mulai menurun. Kita butuh generasi muda yang mau meneruskan dan mencintai tenun agar warisan budaya ini tidak punah," tegasnya.

    Terakhir, Sonia pun berharap melalui sinergi antara pemerintah, dinas terkait, dan pelaku usaha, kerajinan Tenun Berau diharapkan mampu menjadi ikon fashion daerah yang kompetitif sekaligus lestari di tangan generasi penerus. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Pemerintah Kabupaten Berau Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Peresmian Galeri Tenun M@m@be

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    11 Juli 2026 pukul 22:17 WITA

    Produk dan kain tenun yang ada di Galeri M@M@Be. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Berau terus menunjukkan tren pertumbuhan yang menggembirakan. Guna mendorong produk lokal agar semakin bersaing dan naik kelas, peresmian Galeri Tenun M@m@be yang terletak di Jalan Pemuda, Gang Muslimin, Tanjung Redeb, ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan industri kreatif, khususnya kerajinan tenun khas daerah. 

    Dalam sambutannya, Kepala Diskoperindag diwakili oleh Sekretaris Diskoperindag Berau, Hasnawati menekankan bahwa kuantitas pertumbuhan UMKM Berau sudah sangat positif. Namun, tantangan besar berikutnya adalah memacu pertumbuhan secara kualitatif agar UMKM bisa benar-benar naik kelas.

    "UMKM naik kelas itu ditandai dengan peningkatan income (pendapatan), penambahan tenaga kerja, serta perluasan pasar. Misal kalau dari tahun-tahun kemarin jumlah tenaga kerjanya dua orang, lalu tiga tahun ke depan tetap dua orang, artinya belum naik kelas. Ini yang harus terus kita dorong," ujar Hasnawati.

    Ia pun menyampaikan, untuk memenangkan persaingan pasar yang semakin ketat, para pelaku usaha diimbau untuk memegang teguh tiga pilar utama, yaitu menjaga kualitas produk secara konsisten, menetapkan harga yang kompetitif, dan memberikan pelayanan yang terbaik.

    "Jangan pakai prinsip aji mumpung, merasa sebagai satu-satunya produsen lalu menjual dengan harga semaunya. Sekali konsumen kecewa, dampaknya panjang," tambahnya.

    Terakhir, Hasnawati berharap galeri ini mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru di Bumi Batiwakkal.

    Sementara itu, Owner Tenun M@m@be, Sonia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas terwujudnya galeri mandiri ini setelah melalui perjalanan panjang yang penuh liku. Ia mengapresiasi kolaborasi dari berbagai pihak yang terjalin erat antara PKK, Diskoperindag, pihak ketiga, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau.

    Ia menceritakan, sejarah tenun di Berau tidak lepas dari tantangan yang diberikan oleh Ketua Dekranasda Berau terdahulu pada tahun 2016, dan didukung penuh oleh Diskoperindag.

    "Awalnya Berau belum memiliki kerajinan tenun. Kami memulainya dengan alat gedogan. Seiring berjalannya waktu dan berkat dukungan luar biasa dari Pemerintah Kabupaten Berau, kami beralih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)," kata Sonia.

    Peralihan ke teknologi ATBM ini berhasil mengatasi kendala kain gedogan yang dinilai terlalu tebal dan berharga mahal. Kini, kain Tenun Berau jauh lebih variatif dan harganya kian terjangkau oleh semua kalangan masyarakat, baik kelas menengah ke atas maupun menengah ke bawah. 

    Namun, dibalik itu semua ia mengakui bahwa industri tenun lokal saat ini menghadapi ancaman serius terkait regenerasi pengrajin.

    "Harapan terbesar saya adalah adanya kaderisasi. Saat ini, mayoritas pengrajin tenun yang bertahan adalah mereka yang sudah lanjut usia, di mana kemampuan fisik dan penglihatan mulai menurun. Kita butuh generasi muda yang mau meneruskan dan mencintai tenun agar warisan budaya ini tidak punah," tegasnya.

    Terakhir, Sonia pun berharap melalui sinergi antara pemerintah, dinas terkait, dan pelaku usaha, kerajinan Tenun Berau diharapkan mampu menjadi ikon fashion daerah yang kompetitif sekaligus lestari di tangan generasi penerus. (Adv)

    (Sf/Rs)