Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Pasar Eropa Melirik Kakao Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    17 September 2026 pukul 23:08 WITA

    Kakao Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Kakao asal Kabupaten Berau mulai mendapat perhatian dari pasar internasional, khususnya Eropa. Kualitas dan karakter cita rasa yang khas membuat biji kakao Berau dilirik pasar premium hingga produsen cokelat asal Prancis.

    Sepanjang 2023 hingga 2025, sebanyak 23 ton biji kakao Berau telah diekspor ke Virginia, California, Belanda, dan Prancis. Memasuki 2026, ekspor kembali dilakukan dengan volume 11,5 ton yang dikirim ke Prancis dan Swiss.

    Plt Kepala Dinas Perkebunan Berau, M Hendratno, mengatakan ketertarikan pasar tersebut menjadi peluang bagi daerah untuk memperkuat pengembangan kakao. Namun, peluang itu harus diikuti dengan kemampuan petani menjaga kualitas produksi.

    "Penambahan lahan ini kami arahkan untuk petani yang serius dan lahannya bebas banjir," ujar Hendratno.

    Ia pun mengatakan bahwa kakao Berau memiliki karakter rasa yang khas, berupa perpaduan rasa pahit dengan asam segar. Kualitas tersebut sebelumnya juga mendapat pengakuan melalui ajang SIAL Interfood di tingkat nasional. Tak hanya itu, biji kakao Berau juga diminati Valrhona, produsen cokelat premium asal Prancis. 

    "Permintaan dari pasar itu jadi salah satu dasar kakao Berau memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai komoditas bernilai tambah," katanya.

    Oleh karena itu, pemerintah daerah tidak hanya mengejar peningkatan produksi melalui perluasan lahan. Kualitas biji, terutama hasil fermentasi, menjadi perhatian dalam pendampingan kepada petani. Bantuan alat fermentasi, pupuk, serta pelatihan sumber daya manusia juga diberikan untuk mendukung proses tersebut.

    "Upaya ini dilakukan agar biji kakao yang dihasilkan bisa memenuhi standar dan kebutuhan pasar premium," katanya.

    Selain itu, Berau mendapat alokasi perluasan 400 hektare dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian. Sebanyak 200 hektare dialokasikan untuk kakao dan 200 hektare untuk kelapa.

    Dengan tambahan tersebut, luas perkebunan kakao Berau mencapai sekitar 1.050 hektare, naik dari sekitar 1.037 hektare pada tahun sebelumnya. Produksi rata-rata mencapai sekitar 800 ton per tahun.

    "Sambaliung menjadi sentra utama kakao dengan luas sekitar 479 hektare. Pengembangan juga berlangsung di Kelay, Segah, Long Lanuk, Kampung Merasa, dan Kampung Birang," tuturnya.

    Hendratno menyebut pengembangan kakao ke depan akan diarahkan pada peningkatan kualitas sekaligus nilai ekonomi yang diterima petani. Dengan begitu, peluang pasar yang mulai terbuka dapat memberikan manfaat lebih besar bagi sektor perkebunan daerah.

    "Target kami bukan hanya menambah luas kebun, tetapi meningkatkan kualitas dan nilai tambah bagi petani," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Pasar Eropa Melirik Kakao Berau

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    17 September 2026 pukul 23:08 WITA

    Kakao Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Kakao asal Kabupaten Berau mulai mendapat perhatian dari pasar internasional, khususnya Eropa. Kualitas dan karakter cita rasa yang khas membuat biji kakao Berau dilirik pasar premium hingga produsen cokelat asal Prancis.

    Sepanjang 2023 hingga 2025, sebanyak 23 ton biji kakao Berau telah diekspor ke Virginia, California, Belanda, dan Prancis. Memasuki 2026, ekspor kembali dilakukan dengan volume 11,5 ton yang dikirim ke Prancis dan Swiss.

    Plt Kepala Dinas Perkebunan Berau, M Hendratno, mengatakan ketertarikan pasar tersebut menjadi peluang bagi daerah untuk memperkuat pengembangan kakao. Namun, peluang itu harus diikuti dengan kemampuan petani menjaga kualitas produksi.

    "Penambahan lahan ini kami arahkan untuk petani yang serius dan lahannya bebas banjir," ujar Hendratno.

    Ia pun mengatakan bahwa kakao Berau memiliki karakter rasa yang khas, berupa perpaduan rasa pahit dengan asam segar. Kualitas tersebut sebelumnya juga mendapat pengakuan melalui ajang SIAL Interfood di tingkat nasional. Tak hanya itu, biji kakao Berau juga diminati Valrhona, produsen cokelat premium asal Prancis. 

    "Permintaan dari pasar itu jadi salah satu dasar kakao Berau memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai komoditas bernilai tambah," katanya.

    Oleh karena itu, pemerintah daerah tidak hanya mengejar peningkatan produksi melalui perluasan lahan. Kualitas biji, terutama hasil fermentasi, menjadi perhatian dalam pendampingan kepada petani. Bantuan alat fermentasi, pupuk, serta pelatihan sumber daya manusia juga diberikan untuk mendukung proses tersebut.

    "Upaya ini dilakukan agar biji kakao yang dihasilkan bisa memenuhi standar dan kebutuhan pasar premium," katanya.

    Selain itu, Berau mendapat alokasi perluasan 400 hektare dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian. Sebanyak 200 hektare dialokasikan untuk kakao dan 200 hektare untuk kelapa.

    Dengan tambahan tersebut, luas perkebunan kakao Berau mencapai sekitar 1.050 hektare, naik dari sekitar 1.037 hektare pada tahun sebelumnya. Produksi rata-rata mencapai sekitar 800 ton per tahun.

    "Sambaliung menjadi sentra utama kakao dengan luas sekitar 479 hektare. Pengembangan juga berlangsung di Kelay, Segah, Long Lanuk, Kampung Merasa, dan Kampung Birang," tuturnya.

    Hendratno menyebut pengembangan kakao ke depan akan diarahkan pada peningkatan kualitas sekaligus nilai ekonomi yang diterima petani. Dengan begitu, peluang pasar yang mulai terbuka dapat memberikan manfaat lebih besar bagi sektor perkebunan daerah.

    "Target kami bukan hanya menambah luas kebun, tetapi meningkatkan kualitas dan nilai tambah bagi petani," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Rs)