Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Optimistis Menuju Geopark Nasional, Tim Verifikator Nilai Kesiapan Geosite Berau Sudah Baik

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    11 Juli 2026 pukul 13:30 WITA

    Labuan Cermin salah satu destinasi wisata di Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat menilai kesiapan geosite di Kabupaten Berau secara umum sudah menunjukkan perkembangan yang positif. Meski masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperkuat, terutama dari sisi edukasi geologi, potensi kawasan dinilai layak untuk terus didorong menuju penetapan sebagai Geopark Nasional.

    Ketua Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Prof. Mega Fatimah Rosana, mengatakan tim telah melakukan verifikasi lapangan selama lima hari, mulai dari Kabupaten Kutai Timur (Kutim) hingga Kabupaten Berau. Dari sejumlah geosite yang dikunjungi, kesiapan pengelolaan kawasan maupun pemberdayaan masyarakat dinilai sudah cukup baik.

    "Secara umum, dari beberapa geosite yang mewakili kawasan maupun pemberdayaan masyarakat saya lihat kesiapannya sudah cukup bagus. Memang masih ada beberapa bagian yang perlu ditingkatkan, tetapi pemanfaatannya dari sisi pariwisata dan ekonomi sudah berjalan dengan baik," ujar Mega, Jumat, (10/7/2026). 

    Menurutnya, apabila Geopark Sangkulirang-Mangkalihat nantinya resmi menyandang status Geopark Nasional, setiap geosite harus lebih menonjolkan fungsi edukasi, khususnya yang berkaitan dengan nilai-nilai geologi di setiap lokasi.

    Ia mencontohkan destinasi wisata Labuan Cermin yang selama ini dikenal memiliki fenomena dua rasa yakni air asin dan air tawar dalam satu kawasan. Namun, informasi ilmiah mengenai fenomena tersebut belum tersampaikan secara maksimal kepada pengunjung.

    "Ke depan hal-hal seperti itu perlu ditambahkan agar masyarakat tidak hanya menikmati wisatanya, tetapi juga mendapatkan edukasi tentang geologinya. Begitu juga dengan geosite lainnya," tambahnya.

    Dirinya juga menyoroti pengelolaan Taman Sungai Dumaring yang dinilai telah menggabungkan unsur konservasi, edukasi, pariwisata, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, model seperti itu menjadi contoh yang baik untuk terus dikembangkan.

    "Kalau nanti status Geopark Nasional sudah diperoleh, tentu branding kawasan ini akan semakin meningkat. Karena itu semua pihak harus siap," tuturnya.

    Selain itu, ia memberikan apresiasi terhadap keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan mengelola kawasan. Menurutnya, konsep pengembangan geopark memang mengedepankan pendekatan dari bawah atau bottom-up, sehingga inisiatif masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan sebuah geopark.

    "Saya sangat mengapresiasi keterlibatan masyarakat di sini. Kelihatannya mereka sudah mandiri dalam mengelola kawasan. Memang dalam geopark yang diharapkan adalah proses bottom-up, sehingga bukan semata-mata keinginan pemerintah daerah, tetapi muncul dari masyarakat yang ingin menjaga kelestarian kawasan. Itu sudah terlihat di beberapa lokasi," katanya.

    Berdasarkan hasil kunjungan lapangan, Mega mengaku optimistis Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memiliki peluang besar memperoleh status Geopark Nasional. Meski demikian, ia menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah pusat melalui rapat lintas kementerian.

    "Setiap geosite tentu memiliki karakteristik yang berbeda, begitu juga sistem pengelolaannya. Tetapi yang saya lihat hampir semuanya memiliki kesamaan, yakni keterlibatan masyarakat dan dukungan pemerintah daerah, mulai dari kampung, kecamatan hingga kabupaten. Mereka sangat antusias dan mau berkolaborasi. Itu menjadi modal awal yang sangat baik untuk pengembangan geopark ke depan," kata Mega.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa mengatakan meski tim verifikator belum sempat mengunjungi seluruh lokasi karena keterbatasan waktu, seluruh geosite tetap dinilai melalui dokumen administrasi dan data pendukung yang telah disiapkan.

    "Dari hasil kami membedah dokumen dan data-data tersebut memang ada beberapa catatan perbaikan. Ada data dukung yang masih kurang lengkap atau kurang sesuai, sehingga kami diminta untuk mencari dan menyusun ulang data itu," tuturnya.

    Oleh karena itu, Yudha mengatakan bahwa tim verifikator memberikan waktu selama satu bulan kepada pemerintah daerah untuk melengkapi seluruh dokumen yang masih menjadi catatan. 

    "Penilaiannya sangat kompleks. Kami akan berusaha dan kami optimistis seluruh kekurangan tersebut dapat segera dipenuhi sehingga peluang memperoleh status Geopark Nasional semakin besar sebelum melangkah menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark," pungkas Yudha. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Optimistis Menuju Geopark Nasional, Tim Verifikator Nilai Kesiapan Geosite Berau Sudah Baik

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    11 Juli 2026 pukul 13:30 WITA

    Labuan Cermin salah satu destinasi wisata di Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat menilai kesiapan geosite di Kabupaten Berau secara umum sudah menunjukkan perkembangan yang positif. Meski masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperkuat, terutama dari sisi edukasi geologi, potensi kawasan dinilai layak untuk terus didorong menuju penetapan sebagai Geopark Nasional.

    Ketua Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Prof. Mega Fatimah Rosana, mengatakan tim telah melakukan verifikasi lapangan selama lima hari, mulai dari Kabupaten Kutai Timur (Kutim) hingga Kabupaten Berau. Dari sejumlah geosite yang dikunjungi, kesiapan pengelolaan kawasan maupun pemberdayaan masyarakat dinilai sudah cukup baik.

    "Secara umum, dari beberapa geosite yang mewakili kawasan maupun pemberdayaan masyarakat saya lihat kesiapannya sudah cukup bagus. Memang masih ada beberapa bagian yang perlu ditingkatkan, tetapi pemanfaatannya dari sisi pariwisata dan ekonomi sudah berjalan dengan baik," ujar Mega, Jumat, (10/7/2026). 

    Menurutnya, apabila Geopark Sangkulirang-Mangkalihat nantinya resmi menyandang status Geopark Nasional, setiap geosite harus lebih menonjolkan fungsi edukasi, khususnya yang berkaitan dengan nilai-nilai geologi di setiap lokasi.

    Ia mencontohkan destinasi wisata Labuan Cermin yang selama ini dikenal memiliki fenomena dua rasa yakni air asin dan air tawar dalam satu kawasan. Namun, informasi ilmiah mengenai fenomena tersebut belum tersampaikan secara maksimal kepada pengunjung.

    "Ke depan hal-hal seperti itu perlu ditambahkan agar masyarakat tidak hanya menikmati wisatanya, tetapi juga mendapatkan edukasi tentang geologinya. Begitu juga dengan geosite lainnya," tambahnya.

    Dirinya juga menyoroti pengelolaan Taman Sungai Dumaring yang dinilai telah menggabungkan unsur konservasi, edukasi, pariwisata, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, model seperti itu menjadi contoh yang baik untuk terus dikembangkan.

    "Kalau nanti status Geopark Nasional sudah diperoleh, tentu branding kawasan ini akan semakin meningkat. Karena itu semua pihak harus siap," tuturnya.

    Selain itu, ia memberikan apresiasi terhadap keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan mengelola kawasan. Menurutnya, konsep pengembangan geopark memang mengedepankan pendekatan dari bawah atau bottom-up, sehingga inisiatif masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan sebuah geopark.

    "Saya sangat mengapresiasi keterlibatan masyarakat di sini. Kelihatannya mereka sudah mandiri dalam mengelola kawasan. Memang dalam geopark yang diharapkan adalah proses bottom-up, sehingga bukan semata-mata keinginan pemerintah daerah, tetapi muncul dari masyarakat yang ingin menjaga kelestarian kawasan. Itu sudah terlihat di beberapa lokasi," katanya.

    Berdasarkan hasil kunjungan lapangan, Mega mengaku optimistis Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memiliki peluang besar memperoleh status Geopark Nasional. Meski demikian, ia menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah pusat melalui rapat lintas kementerian.

    "Setiap geosite tentu memiliki karakteristik yang berbeda, begitu juga sistem pengelolaannya. Tetapi yang saya lihat hampir semuanya memiliki kesamaan, yakni keterlibatan masyarakat dan dukungan pemerintah daerah, mulai dari kampung, kecamatan hingga kabupaten. Mereka sangat antusias dan mau berkolaborasi. Itu menjadi modal awal yang sangat baik untuk pengembangan geopark ke depan," kata Mega.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa mengatakan meski tim verifikator belum sempat mengunjungi seluruh lokasi karena keterbatasan waktu, seluruh geosite tetap dinilai melalui dokumen administrasi dan data pendukung yang telah disiapkan.

    "Dari hasil kami membedah dokumen dan data-data tersebut memang ada beberapa catatan perbaikan. Ada data dukung yang masih kurang lengkap atau kurang sesuai, sehingga kami diminta untuk mencari dan menyusun ulang data itu," tuturnya.

    Oleh karena itu, Yudha mengatakan bahwa tim verifikator memberikan waktu selama satu bulan kepada pemerintah daerah untuk melengkapi seluruh dokumen yang masih menjadi catatan. 

    "Penilaiannya sangat kompleks. Kami akan berusaha dan kami optimistis seluruh kekurangan tersebut dapat segera dipenuhi sehingga peluang memperoleh status Geopark Nasional semakin besar sebelum melangkah menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark," pungkas Yudha. (Adv)

    (Sf/Rs)