Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Nugal hingga Neppa Pade, Cara Dayak Basap Lebo di Berau Merawat Warisan Leluhur

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    13 Oktober 2026 pukul 19:57 WITA

    Tradisi nugal atau menanam padi di Kampung Inaran, Kecamatan Sambaliung. (Foto: istimewa)

    Tanjung Redeb - Masyarakat adat Dayak Basap Lebo di Kabupaten Berau, terus merawat warisan leluhur melalui tradisi nugal atau menanam padi hingga syukuran panen Neppa Pade. Selain menjadi bagian dari aktivitas pertanian, tradisi ini juga menjaga semangat gotong royong dan mempererat silaturahmi antarkampung.

    Tokoh Adat Dayak Basap Lebo, Kamay, mengatakan nugal merupakan agenda rutin tahunan masyarakat salah satunya di Kampung Inaran, Kecamatan Sambaliung, yang mengutamakan kebersamaan melalui tradisi sengoyun atau gotong royong.

    "Nugal ini menjadi tradisi kami. Di dalamnya ada semangat gotong royong atau sengoyun. Kita selalu bersama-sama mulai dari menanam padi hingga nanti masa panen atau potong padi," ujar Kamay.

    Dalam kegiatan tersebut, masyarakat saling membantu tanpa membedakan peran laki-laki dan perempuan. Seluruh warga terlibat dalam pekerjaan di ladang, sementara kaum perempuan juga menyiapkan hidangan untuk dinikmati bersama setelah kegiatan nugal selesai.

    Kebersamaan itu tidak berhenti ketika masa tanam berakhir. Setelah panen, masyarakat melanjutkan rangkaian adat melalui pesta panen dan syukuran Neppa Pade, yakni tradisi menumbuk padi yang dipadukan dengan peringatan hari ulang tahun Kampung Inaran. 

    Ia menjelaskan, pesta panen dilaksanakan secara bergantian di kampung-kampung serumpun Dayak Basap. Pengaturan jadwal tersebut memberikan kesempatan kepada warga untuk saling berkunjung dan menghadiri perayaan adat di kampung lain.

    "Kita beriringan dan bergantian bulan supaya acaranya tidak tabrakan. Soalnya kita saling mengundang antarkampung serumpun Dayak Basap, mulai dari Kampung Merabu, Mapulu, Merapun hingga Panaan," terangnya.

    Tradisi nugal atau menanam padi di Kampung Inaran, Kecamatan Sambaliung. (Foto: istimewa)

    Di Kampung Inaran, Neppa Pade umumnya dilaksanakan pada Juli. Sementara itu, Kampung Merabu biasanya menggelarnya pada Mei, disusul kampung lainnya pada Juni.

    Meski tradisi tersebut masih dipertahankan, Kamay mengakui pelaksanaan ritual adat sebelum menanam padi mulai mengalami perubahan. 

    "Kalau dulu sebelum tanam padi ada ritual keselamatan. Tapi anak-anak zaman sekarang sudah jarang, langsung tanam saja. Memang zaman sudah canggih dan modern, jadi mungkin hanya satu atau dua orang dari generasi tua yang masih menjalankan ritual tersebut," ungkapnya.

    Bagi masyarakat Dayak Basap Lebo, tradisi nugal dan Neppa Pade memiliki makna penting dalam menjaga hubungan antar sesama sekaligus meneruskan nilai-nilai adat kepada generasi berikutnya. 

    Sementara itu, Kepala Kampung Inaran, Amirullah mengatakan, melalui tradisi nugal hingga Neppa Pade, masyarakat Dayak Basap Lebo berupaya mempertahankan identitas budaya sekaligus memastikan nilai kebersamaan tetap hidup di tengah arus modernisasi.

    Ia menilai, Gotong royong, rasa syukur kepada Tuhan, dan kebersamaan menjadi bagian yang terus dijaga melalui rangkaian kegiatan tersebut.

    "Saya berharap tradisi yang diwariskan para leluhur ini dapat terus dilanjutkan oleh generasi muda, meskipun kehidupan masyarakat semakin berkembang mengikuti zaman, tapi nilai budaya tetap harus dijaga dan dilestarikan," tandas Amirullah. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Nugal hingga Neppa Pade, Cara Dayak Basap Lebo di Berau Merawat Warisan Leluhur

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    13 Oktober 2026 pukul 19:57 WITA

    Tradisi nugal atau menanam padi di Kampung Inaran, Kecamatan Sambaliung. (Foto: istimewa)

    Tanjung Redeb - Masyarakat adat Dayak Basap Lebo di Kabupaten Berau, terus merawat warisan leluhur melalui tradisi nugal atau menanam padi hingga syukuran panen Neppa Pade. Selain menjadi bagian dari aktivitas pertanian, tradisi ini juga menjaga semangat gotong royong dan mempererat silaturahmi antarkampung.

    Tokoh Adat Dayak Basap Lebo, Kamay, mengatakan nugal merupakan agenda rutin tahunan masyarakat salah satunya di Kampung Inaran, Kecamatan Sambaliung, yang mengutamakan kebersamaan melalui tradisi sengoyun atau gotong royong.

    "Nugal ini menjadi tradisi kami. Di dalamnya ada semangat gotong royong atau sengoyun. Kita selalu bersama-sama mulai dari menanam padi hingga nanti masa panen atau potong padi," ujar Kamay.

    Dalam kegiatan tersebut, masyarakat saling membantu tanpa membedakan peran laki-laki dan perempuan. Seluruh warga terlibat dalam pekerjaan di ladang, sementara kaum perempuan juga menyiapkan hidangan untuk dinikmati bersama setelah kegiatan nugal selesai.

    Kebersamaan itu tidak berhenti ketika masa tanam berakhir. Setelah panen, masyarakat melanjutkan rangkaian adat melalui pesta panen dan syukuran Neppa Pade, yakni tradisi menumbuk padi yang dipadukan dengan peringatan hari ulang tahun Kampung Inaran. 

    Ia menjelaskan, pesta panen dilaksanakan secara bergantian di kampung-kampung serumpun Dayak Basap. Pengaturan jadwal tersebut memberikan kesempatan kepada warga untuk saling berkunjung dan menghadiri perayaan adat di kampung lain.

    "Kita beriringan dan bergantian bulan supaya acaranya tidak tabrakan. Soalnya kita saling mengundang antarkampung serumpun Dayak Basap, mulai dari Kampung Merabu, Mapulu, Merapun hingga Panaan," terangnya.

    Tradisi nugal atau menanam padi di Kampung Inaran, Kecamatan Sambaliung. (Foto: istimewa)

    Di Kampung Inaran, Neppa Pade umumnya dilaksanakan pada Juli. Sementara itu, Kampung Merabu biasanya menggelarnya pada Mei, disusul kampung lainnya pada Juni.

    Meski tradisi tersebut masih dipertahankan, Kamay mengakui pelaksanaan ritual adat sebelum menanam padi mulai mengalami perubahan. 

    "Kalau dulu sebelum tanam padi ada ritual keselamatan. Tapi anak-anak zaman sekarang sudah jarang, langsung tanam saja. Memang zaman sudah canggih dan modern, jadi mungkin hanya satu atau dua orang dari generasi tua yang masih menjalankan ritual tersebut," ungkapnya.

    Bagi masyarakat Dayak Basap Lebo, tradisi nugal dan Neppa Pade memiliki makna penting dalam menjaga hubungan antar sesama sekaligus meneruskan nilai-nilai adat kepada generasi berikutnya. 

    Sementara itu, Kepala Kampung Inaran, Amirullah mengatakan, melalui tradisi nugal hingga Neppa Pade, masyarakat Dayak Basap Lebo berupaya mempertahankan identitas budaya sekaligus memastikan nilai kebersamaan tetap hidup di tengah arus modernisasi.

    Ia menilai, Gotong royong, rasa syukur kepada Tuhan, dan kebersamaan menjadi bagian yang terus dijaga melalui rangkaian kegiatan tersebut.

    "Saya berharap tradisi yang diwariskan para leluhur ini dapat terus dilanjutkan oleh generasi muda, meskipun kehidupan masyarakat semakin berkembang mengikuti zaman, tapi nilai budaya tetap harus dijaga dan dilestarikan," tandas Amirullah. (Adv)

    (Sf/Rs)