Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Musim Kemarau Panjang, DTPHP Berau Waspadai Penurunan Produksi 2026

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    25 Agustus 2026 pukul 21:21 WITA

    Komoditas Padi. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau mewaspadai potensi penurunan produksi pertanian pada 2026 seiring kondisi El Nino yang membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang. 

    Kondisi tersebut mulai memengaruhi hasil panen serta menggeser jadwal tanam petani di sejumlah wilayah. Kepala DTPHP Berau, Lita Handini mengatakan, target produksi padi tahun ini dipatok lebih dari 8.800 ton. 

    Namun, hingga Agustus, capaian produksi baru berada di kisaran 40 persen akibat kekeringan yang melanda sejumlah lahan pertanian. "Kondisi panas ekstrem membuat produksi di sejumlah lokasi menurun karena kekurangan air," ujar Lita.

    Menurutnya kekeringan juga diperparah dengan angin yang cukup kencang. Kondisi tersebut membuat serangan hama dan penyakit meningkat, serta penyebaran berlangsung lebih cepat.

    Beberapa wilayah yang terdampak antara lain Buyung-Buyung dan Semurut. Di kedua wilayah tersebut, produksi masih ada, tetapi mengalami penurunan cukup signifikan. Sementara di Merancang, sebagian besar tanaman mengalami kegagalan produksi.

    Di sisi lain, produksi di Tasuk dan Labanan juga masih tergolong lebih baik meski mengalami penurunan. "Di Buyung-Buyung dan Semurut tidak gagal semua, tetapi hasilnya menurun karena banyak serangan hama dan kekeringan. Sedangkan di Merancang, sebagian besar gagal," terangnya.

    Oleh karena itu, untuk menghadapi kondisi tersebut, DTPHP Berau telah memberikan bantuan pompa air kepada petani di sejumlah lokasi. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman dari sumber air yang masih tersedia.

    "Bantuan pompa sudah banyak kami berikan untuk lahan yang irigasinya mengalami kekeringan. Petani yang masih bisa panen bulan ini sebagian karena terbantu dengan pompa," katanya.

    Namun, ia mengakui belum seluruh lokasi memiliki pompa sehingga penanganan kekeringan masih menjadi tantangan. Terlebih, sumber air yang dapat dimanfaatkan petani semakin jauh akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

    Kondisi tersebut juga berdampak pada komoditas jagung dan cabai. Petani jagung memilih menunda penanaman sambil menunggu hujan, sedangkan tanaman cabai yang masih berproduksi dipertahankan dengan penyiraman.

    Lita mengatakan, padi, jagung dan cabai merupakan tiga komoditas strategis yang menjadi prioritas pemerintah daerah. Namun, Jika kemarau terus berlangsung dan hujan baru turun sekitar Oktober, jadwal tanam berpotensi bergeser hingga akhir tahun.

    "Kami akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan dampaknya terhadap lahan pertanian. Jika musim kemarau terus berlangsung lebih panjang, penurunan produksi hingga akhir 2026 menjadi salah satu risiko yang harus kita antisipasi," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Diskominfo Kabupaten Berau

    Musim Kemarau Panjang, DTPHP Berau Waspadai Penurunan Produksi 2026

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    25 Agustus 2026 pukul 21:21 WITA

    Komoditas Padi. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau mewaspadai potensi penurunan produksi pertanian pada 2026 seiring kondisi El Nino yang membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang. 

    Kondisi tersebut mulai memengaruhi hasil panen serta menggeser jadwal tanam petani di sejumlah wilayah. Kepala DTPHP Berau, Lita Handini mengatakan, target produksi padi tahun ini dipatok lebih dari 8.800 ton. 

    Namun, hingga Agustus, capaian produksi baru berada di kisaran 40 persen akibat kekeringan yang melanda sejumlah lahan pertanian. "Kondisi panas ekstrem membuat produksi di sejumlah lokasi menurun karena kekurangan air," ujar Lita.

    Menurutnya kekeringan juga diperparah dengan angin yang cukup kencang. Kondisi tersebut membuat serangan hama dan penyakit meningkat, serta penyebaran berlangsung lebih cepat.

    Beberapa wilayah yang terdampak antara lain Buyung-Buyung dan Semurut. Di kedua wilayah tersebut, produksi masih ada, tetapi mengalami penurunan cukup signifikan. Sementara di Merancang, sebagian besar tanaman mengalami kegagalan produksi.

    Di sisi lain, produksi di Tasuk dan Labanan juga masih tergolong lebih baik meski mengalami penurunan. "Di Buyung-Buyung dan Semurut tidak gagal semua, tetapi hasilnya menurun karena banyak serangan hama dan kekeringan. Sedangkan di Merancang, sebagian besar gagal," terangnya.

    Oleh karena itu, untuk menghadapi kondisi tersebut, DTPHP Berau telah memberikan bantuan pompa air kepada petani di sejumlah lokasi. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman dari sumber air yang masih tersedia.

    "Bantuan pompa sudah banyak kami berikan untuk lahan yang irigasinya mengalami kekeringan. Petani yang masih bisa panen bulan ini sebagian karena terbantu dengan pompa," katanya.

    Namun, ia mengakui belum seluruh lokasi memiliki pompa sehingga penanganan kekeringan masih menjadi tantangan. Terlebih, sumber air yang dapat dimanfaatkan petani semakin jauh akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

    Kondisi tersebut juga berdampak pada komoditas jagung dan cabai. Petani jagung memilih menunda penanaman sambil menunggu hujan, sedangkan tanaman cabai yang masih berproduksi dipertahankan dengan penyiraman.

    Lita mengatakan, padi, jagung dan cabai merupakan tiga komoditas strategis yang menjadi prioritas pemerintah daerah. Namun, Jika kemarau terus berlangsung dan hujan baru turun sekitar Oktober, jadwal tanam berpotensi bergeser hingga akhir tahun.

    "Kami akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan dampaknya terhadap lahan pertanian. Jika musim kemarau terus berlangsung lebih panjang, penurunan produksi hingga akhir 2026 menjadi salah satu risiko yang harus kita antisipasi," tandasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)