Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau
Ilustrasi ikan kerapu (freepik)
Tanjung Redeb - Kecamatan Maratua terus memperkuat posisinya sebagai sentra budidaya ikan kerapu di Kabupaten Berau. Pada triwulan pertama 2026, produksi komoditas unggulan tersebut mencapai sekitar 60 hingga 70 ton, didukung aktivitas puluhan pembudidaya yang tersebar di sejumlah kampung yang ada di Maratua.
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono, mengatakan Maratua telah ditetapkan sebagai Kampung Budidaya Kerapu berdasarkan kebijakan pemerintah pusat. Penetapan tersebut membuka peluang dukungan program pengembangan budidaya dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.
"Maratua sudah ditetapkan sebagai Kampung Budidaya Kerapu. Jadi kita mendapat dukungan program dari pemerintah pusat dan provinsi. Sementara dari kabupaten, sesuai kewenangan kami memberikan pendampingan kepada pelaku usaha melalui bimbingan teknis kalau sarana dan prasarana sesuai kewenangan ada di provinsi dan pusat," ujar Budiono.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat sekitar 10 kelompok pembudidaya dengan kurang lebih 100 rumah tangga perikanan yang aktif membudidayakan kerapu di Maratua.
"Aktivitas budidaya tersebar di empat kampung di Maratua yaitu Kampung Payung-Payung, Bohe Silian, Teluk Alulu, dan Teluk Harapan," tambahnya.
Meski produksi tetap terjaga, dirinya mengakui ekspor ikan kerapu mengalami penurunan akibat perlambatan ekonomi global yang memengaruhi permintaan pasar internasional. Sementara sepanjang 2025, volume ekspor tercatat mencapai 149 ton.
"Untuk tiga bulan pertama di 2026 produksinya sekitar 60-70 ton. Produksinya tidak mengalami penurunan, hanya ekspornya yang memang terdampak kondisi ekonomi global," katanya.
Ia menyampaikan bahwa, ikan kerapu dari Berau dipasarkan ke luar negeri dalam kondisi hidup untuk menjaga nilai jualnya di pasar internasional. Pengiriman dilakukan melalui kapal dari Hong Kong yang langsung datang ke Maratua sebelum membawa komoditas tersebut ke pasar ekspor.
"Kerapu diekspor dalam kondisi hidup sehingga nilainya lebih tinggi. Kapal dari Hong Kong langsung datang ke Maratua untuk mengangkut ikan tersebut," tuturnya.
Selain Maratua, Budiono menyebut sejumlah wilayah pesisir Berau seperti Batu Putih, Biduk-Biduk, Tanjung Batu, dan Derawan juga memiliki potensi besar untuk pengembangan budidaya kerapu. Namun, hingga saat ini aktivitas ekspor masih dipusatkan di Maratua karena menjadi lokasi datang kapal pengangkut tujuan luar negeri.
"Potensinya juga ada di Batu Putih, Biduk-Biduk, Tanjung Batu, dan Derawan. Hanya saja, untuk kegiatan ekspor saat ini masih melalui Maratua karena kapal dari Hong Kong datang di sana," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Diskominfo Kabupaten Berau

Ilustrasi ikan kerapu (freepik)
Tanjung Redeb - Kecamatan Maratua terus memperkuat posisinya sebagai sentra budidaya ikan kerapu di Kabupaten Berau. Pada triwulan pertama 2026, produksi komoditas unggulan tersebut mencapai sekitar 60 hingga 70 ton, didukung aktivitas puluhan pembudidaya yang tersebar di sejumlah kampung yang ada di Maratua.
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono, mengatakan Maratua telah ditetapkan sebagai Kampung Budidaya Kerapu berdasarkan kebijakan pemerintah pusat. Penetapan tersebut membuka peluang dukungan program pengembangan budidaya dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.
"Maratua sudah ditetapkan sebagai Kampung Budidaya Kerapu. Jadi kita mendapat dukungan program dari pemerintah pusat dan provinsi. Sementara dari kabupaten, sesuai kewenangan kami memberikan pendampingan kepada pelaku usaha melalui bimbingan teknis kalau sarana dan prasarana sesuai kewenangan ada di provinsi dan pusat," ujar Budiono.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat sekitar 10 kelompok pembudidaya dengan kurang lebih 100 rumah tangga perikanan yang aktif membudidayakan kerapu di Maratua.
"Aktivitas budidaya tersebar di empat kampung di Maratua yaitu Kampung Payung-Payung, Bohe Silian, Teluk Alulu, dan Teluk Harapan," tambahnya.
Meski produksi tetap terjaga, dirinya mengakui ekspor ikan kerapu mengalami penurunan akibat perlambatan ekonomi global yang memengaruhi permintaan pasar internasional. Sementara sepanjang 2025, volume ekspor tercatat mencapai 149 ton.
"Untuk tiga bulan pertama di 2026 produksinya sekitar 60-70 ton. Produksinya tidak mengalami penurunan, hanya ekspornya yang memang terdampak kondisi ekonomi global," katanya.
Ia menyampaikan bahwa, ikan kerapu dari Berau dipasarkan ke luar negeri dalam kondisi hidup untuk menjaga nilai jualnya di pasar internasional. Pengiriman dilakukan melalui kapal dari Hong Kong yang langsung datang ke Maratua sebelum membawa komoditas tersebut ke pasar ekspor.
"Kerapu diekspor dalam kondisi hidup sehingga nilainya lebih tinggi. Kapal dari Hong Kong langsung datang ke Maratua untuk mengangkut ikan tersebut," tuturnya.
Selain Maratua, Budiono menyebut sejumlah wilayah pesisir Berau seperti Batu Putih, Biduk-Biduk, Tanjung Batu, dan Derawan juga memiliki potensi besar untuk pengembangan budidaya kerapu. Namun, hingga saat ini aktivitas ekspor masih dipusatkan di Maratua karena menjadi lokasi datang kapal pengangkut tujuan luar negeri.
"Potensinya juga ada di Batu Putih, Biduk-Biduk, Tanjung Batu, dan Derawan. Hanya saja, untuk kegiatan ekspor saat ini masih melalui Maratua karena kapal dari Hong Kong datang di sana," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)